ABU HANIFAH
“Pribadi Yang
Seimbang”
Suatu kali Khalifah Abu Ja'far al Manshur, yang terkenal
jarang memberi sedekah kepada orang lain, menawarkan harta sebanyak 30.000
dirham kepada Abu Hanifah, namun beliau menolaknya sembari mengatakan,
"Wahai Khalifah, aku orang asing di Baghdad, aku tak memiliki tempat yang
aman untuk menyimpan harta tersebut. Simpanlah harta itu di Baitul Maal,
sehingga jika kelak aku membutuhkannya aku dapat memintanya darimu." Di
Kufah, Abu Hanifah dikenal sebagai pedagang yang sangat dipercaya karena sikap
amanahnya, kemurahan hati dan kejujuran yang beliau miliki.
Sikap-sikap inilah yang senantiasa menjadikan dagangan beliau
laku keras. Dan lewat usahanya ini, Allah menganugerahkan rizki yang melimpah
kepada Abu Hanifah. Setiap akhir tahun disisihkannya sebagian dari
keuntungannya untuk dizakatkan, dan disumbangkan kepada orang-orang yang berhak
menerimanya.
Abu Hanifah punya mitra dagang bernama Hafs Abdurrahman. Dia
inilah yang menjalankan dagangan Abu Hanifah ke para konsumen. Suatu ketika Abu
Hanifah menyiapkan dagangan untuknya dengan memberikan wanti-wanti bahwa pada
barang dagangannya yang tertentu ada cacatnya. "Jika engkau ingin
menjualnya, jangan lupa jelaskan pada para pembeli tentang cacat yang ada pada
barang tersebut", pesan Abu Hanifah.
Semua barang tersebut akhirnya terjual habis, namun Hafs lupa
memberikan penjelasan kepada para pembeli tentang cacat yang ada pada beberapa
barang seperti yang dipesankan Abu Hanifah. Setelah menyadari kesalahannya,
Hafs berusaha untuk mencari para pembeli barang tersebut, tapi usahanya itu
sia-sia.
Akhirnya masalah tersebut diketahui Abu Hanifah, sehingga
beliau juga berusaha mencari para pembelinya. Namun usaha tersebut juga tidak
membawa hasiI. Sejak saat itu Abu Hanifah selalu gelisah dan murung. Akhimya
untuk menebus kesalahannya tersebut, beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan
tersebut. Dan karena kekecewaannya terhadap Hats Abdurrahman, sejak saat itu ia
memutuskan untuk tidak berhubungan bisnis lagi dengan Hafs.
Demikian mulia sifat dan sikap Abu Hanifah, namun ia selalu
merasa masih kurang baik. Sebab ia menganggap sebaik-baik manusia yang patut
untuk dijadikan suri teladan adalah Nabi Muhammad, karena itu beliau selalu
ingin menyamai dengan akhlak Rasulullah yang sangat agung itu. Dan setiap saat
beliau tidak pemah lupa beristightar memohon ampun kepada Allah setiap pagi.
Karena ia merasa yakin bahwa tingkah lakunya dan amal perbuatannya masih banyak
yang keliru.
ABU HURAIRAH
R.A.
“Periwayat
Hadist Yang Akrab Dengan Kelaparan”
Akrab Dengan Kelaparan
Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah
tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri),
mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan salat tahajud. Akrab dengan
kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam
sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil
(Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.
"Aku sudah dengar pergunjingan
kalian. Kata kalian, Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis Nabi.
Padahal, para sahabat muhajirin dan anshar sendiri tak ada yang meriwayatkan
hadis Nabi sebanyak yang dituturkan Abu Hurairah. Ketahuilah, saudara-saudaraku
dari kaum muhajirin disibukkan dengan perniagaan mereka di pasar. Sementara
saudara-saudaraku dari anshar disibukkan dengan kegiatan pertanian mereka. Dan
aku seorang papa, termasuk golongan kaum miskin shuffah (yang tinggal di
pondokan masjid). Aku tinggal dekat Nabi untuk mengisi perutku. Aku hadir (di
samping Nabi) ketika mereka tidak ada, dan aku selalu mengingat-ingat ketika
mereka melupakan."
Abu Hurairah adalah sahabat yang
sangat dekat dengan Nabi. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu
orang-orang papa yang tinggal di pondokan masjid (pondokan ini juga diperuntukkan
buat para musafir yang kemalaman). Begitu dekatnya dengan Nabi, sehingga beliau
selalu memanggil Abu Hurairah untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan
yang hendak dibagikan.
Karena kedekatannya itu, Nabi
pernah mempercayainya menjaga gudang penyimpan hasil zakat. Suatu malam
seseorang mengendap-endap hendak mencuri, tertangkap basah oleh Abu Hurairah.
Orang itu sudah hendak dibawa ke Rasulullah. "Ampun tuan, kasihani
saya," pencuri itu memelas. "Saya mencuri ini untuk menghidupi keluarga
saya yang kelaparan."
Abu Hurairah tersentuh hatinya,
maka dilepasnya pencuri itu. "Baik, tapi jangan kamu ulangi perbuatanmu
ini."
Esoknya hal ini dilaporkan kepada
Nabi. Nabi tersenyum. "Lihat saja, nanti malam pasti ia kembali."
Benar pula, malam harinya pencuri
itu datang lagi. "Nah, sekarang kamu tidak akan kulepas lagi." Sekali
lagi, orang itu memelas, hingga Abu Hurairah tersentuh hatinya. Tapi, ketika
hal itu dilaporkan kepada Nabi, kembali beliau mengatakan hal yang sama.
"Lihat saja, orang itu akan kembali nanti malam."
Ternyata pencuri sialan itu
benar-benar kembali. "Apa pun yang kamu katakan, jangan harap kamu bisa
bebas. Sudah dua kali kulepas, kamu tak kapok-kapok juga."
Eh, pencuri itu malah menggurui.
"Abu Hurairah, sebelum kamu tidur, bacalah ayat kursi agar setan tidak
menyatroni kamu."
Merasa mendapat pelajaran berharga,
Abu Hurairah terharu. Ah, ternyata orang baik-baik, pikirnya.
"Apa yang dikatakan orang itu
memang benar," sabda Nabi ketika dilapori pagi harinya. "Tapi orang
itu bukan orang baik-baik. Dia adalah setan. Dia katakan itu supaya dia kamu
bebaskan."
Mengikatkan Batu ke perut
Abu Hurairah adalah salah seorang
tokoh kaum fakir miskin. Abu Hurairah sering lapar ketimbang kenyang. Ia sosok
yang teguh berpegang pada sunah Nabi. Ia kerap menasihati orang agar jangan
larut dengan kehidupan dunia dan hawa nafsu. Ia tak membedakan antara kaum kaya
dan kaum miskin, petinggi negeri atau rakyat jelata dalam menyampaikan
kebenaran. Ia pun selalu bersyukur kepada Allah dalam keadaan susah dan senang.
Orang yang nama lengkapnya Abdur
Rahman (versi lain: Abdu Syams) ibn Shakhr Ad-Dausi ini adalah sosok humoris.
Banyak anekdot yang berasal darinya. Ia pun suka menghibur anak-anak kecil. Ia
pecinta kucing kecil. Ke mana-mana dibawanya binatang ini, sehingga julukan Abu
Hurairah (bapak kucing kecil) pun melekat padanya.
Dibanding Nabi, umurnya lebih muda
sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah
Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala
kambing.
Dia masuk Islam tak lama setelah
pindah ke Madinah pada tahun ketujuh hijriah, bersamaan dengan rencana
keberangkatan Nabi ke Perang Khaibar. Tapi ibundanya belum mau masuk Islam.
Malah sang ibu pernah menghina Nabi. Ini membuatnya sedih. Untuk itu, ia
memohon Nabi berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah kembali
menemui ibunya, mengajaknya masuk Islam. Ternyata sang ibu telah berubah,
bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Buruh Kasar
Akan halnya kepindahannya ke
Madinah adalah untuk mengadu nasib. Di sana
ia bekerja serabutan, menjadi buruh kasar bagi siapa pun yang membutuhkan
tenaganya. Acap kali dia harus mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar
yang amat sangat.
Menurut shahibul hikayat, ia pernah
kedapatan berbaring di dekat mimbar masjid. Gara-gara perbuatan aneh itu, orang
mengiranya agak kurang waras. Mendengar kasak-kusuk di kalangan sahabat ini,
Nabi segera menemui Abu Hurairah. Abu Hurairah bilang, ia tidak gila, hanya ia
lapar. Nabi pun segera memberinya makanan.
Suatu kali, dengan masih
mengikatkan batu ke perutnya, dia duduk di pinggir jalan, tempat orang biasanya
berlalu lalang. Dilihatnya Abu Bakr melintas. Lalu dia minta dibacakan satu
ayat Al-Quran. "Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku
pekerjaan," tutur Abu Hurairah. Tapi Abu Bakr cuma membacakan ayat, lantas
berlalu.
Dilihatnya Umar ibn Khattab.
"Tolong ajari aku ayat Al-Quran," kata Abu Hurairah. Kembali ia harus
menelan ludah kekecewaan karena Umar berbuat hal yang sama.
Tak lama kemudian Nabi lewat. Nabi
tersenyum. "Beliau tahu apa isi hati saya. Beliau bisa membaca raut muka
saya secara tepat," tutur Abu Hurairah.
"Ya Aba Hurairah!"
panggil Nabi.
"Labbaik, ya Rasulullah!"
"Ikutlah aku!"
Beliau mengajak Abu Hurairah ke
rumahnya. Di dalam rumah didapati sebaskom susu. "Dari mana susu
ini?" tanya Rasulullah. Beliau diberi tahu bahwa seseorang telah
memberikan susu itu.
"Ya Aba Hurairah!"
"Labbaik, Ya Rasulullah!"
"Tolong panggilkan ahli
shuffah," kata Nabi. Susu tadi lalu dibagikan kepada ahli shuffah,
termasuk Abu Hurairah. Sejak itulah, Abu Hurairah mengabdi kepada Rasulullah,
bergabung dengan ahli shuffah di pondokan masjid.
Sepulang dari Perang Khaibar, Nabi
melakukan perluasan terhadap Masjid Nabawi, yaitu ke arah barat dengan menambah
tiga pilar lagi. Abu Hurairah terlibat pula dalam renovasi ini. Ketika
dilihatnya Nabi turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu
itu kepadanya. Nabi menolak seraya bersabda, "Tiada kehidupan sebenarnya,
melainkan kehidupan akhirat."
Abu Hurairah sangat mencintai Nabi.
Sampai-sampai dia memilih dipukul Nabi karena melakukan kekeliruan ketimbang
mendapatkan makanan yang enak. "Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat
kepada orang yang pernah merasa disakitinya secara sengaja atau tidak,"
katanya.
Begitu cintanya kepada Rasulullah
sehingga siapa pun yang dicintai Nabi, ia ikut mencintainya. Misalnya, ia suka
mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah mencium kedua cucunya itu.
Ada cerita menarik menyangkut
kehidupan Abu Hurairah dan masyarakat Islam zaman itu. Meski Abu Hurairah
seorang papa, boleh dibilang tuna wisma, salah seorang majikannya yang lumayan
kaya menikahkan putrinya, Bisrah binti Gazwan, dengan lelaki itu. Ini
menunjukkan betapa Islam telah mengubah persepsi orang dari membedakan kelas
kepada persamaan. Abu Hurairah dipandang mulia karena kealiman dan
kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada
masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran
kemuliaan.
Sejak menikah, Abu Hurairah membagi
malamnya atas tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga,
dan untuk mengulang-ulang hadis. Ia dan keluarganya meskipun kemudian menjadi
orang berada tetap hidup sederhana. Ia suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan
menyedekahkan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.
Tugas penting pernah diembannya
dari Rasulullah. Yaitu ketika ia bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami diutus berdakwah
ke Bahrain.
Belakangan, ia juga bersama Quddamah diutus menarik jizyah (pajak) ke Bahrain, sambil
membawa surat
ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.
Menolak Jabatan
Ketika Umar menjadi amirul
mukminin, Abu Hurairah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Tapi pada 23 Hijri Umar
memecatnya gara-gara sang gubernur kedapatan menyimpan banyak uang (menurut
satu versi, sampai 10.000 dinar). Dalam proses pengusutan, ia mengemukakan
upaya pembuktian terbalik, bahwa harta itu diperolehnya dari beternak kuda dan
pemberian orang. Khalifah menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu ia
diminta menduduki jabatan gubernur lagi, tapi ia menolak.
Penolakan itu diiringi lima alasan. "Aku
takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan
dengan hukum (agama); aku ogah dicambuk; aku tak mau harta benda hasil jerih
payahku disita; dan aku takut nama baikku tercemar," kilahnya. Ia memilih
tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada
Umar, dan para pemimpin sesudahnya.
Tatkala kediaman Amirul Mukminin
Ustman ibn Affan dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai
al-fitnatul kubra (bencana besar), Abu Hurairah bersama 700 orang Muhajirin dan
Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam posisi siap tempur, Khalifah
melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.
Pada masa Amirul Mukminin Ali bin
Abi Thalib, Abu Hurairah ditawari menjadi gubernur di Madinah. Ia menolak.
Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia
bersikap netral dan menghindari fitnah. Sampai kemudian Muawiyah berkuasa, Abu
Hurairah bersedia menjadi gubernur di Madinah. Tapi versi lain mengatakan,
Marwan ibn Hakamlah yang menunjuk Abu Hurairah sebagai pembantunya di kantor gebernuran
Madinah. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia
mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78
tahun. Meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni hadis-hadis Nabi, bak
butiran-butiran ratna mutu manikam, yang jumlahnya 5.374 hadis.
ABU UBAIDAH BIN JARRAH
“Pemegang Amanat Ummat Rasullah”
Rasulullah saw pernah bersabda yang
maksudnya, "Setiap umat mempunyai sumber kepercayaan, sumber kepercayaan
umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah." Itulah penghargaan bintang
mahaputra yang diterima oleh Abu Ubaidah dari Rasulullah saw. Penghargaan yang
tidak diberikan Rasulullah kepada sahabat yang lainnya. Tapi ini bukan berarti,
bahwa Rasulullah saw tidak percaya kepada sahabat yang lainnya. Memang kalau
dilihat dari kenyataan yang ada Abu Ubaidah layak mendapatkan gelar seperti
itu. Sekalipun ia tidak mengharapkannya. Dari sosok tubuhnya yang tinggi, kurus
tapi bersih, tampak disana tersimpan sifat-sifat mulia yang tidak dimiliki
orang lain. Jujur, tawadu', pemalu itulah diantara sifat yang paling menonjol
dari Abu 'Ubaidah bin Jarrah r.a. Muhammad bin Ja'far pernah bercerita, suatu
ketika datang rombongan Nasrani Najran menemui Rasulullah saw. "Ya
Abalqasim," kata utusan itu, "Datangkanlah utusanmu ke negeri kami
untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kami hadapi. Kami betul-betul
ridha dan yakin terhadap kaum muslimin." Rasulullah menyanggupinya dan
menjanjikan kepada mereka seraya berkata, "Esok hari aku akan mengutus bersama
kalian seorang yang benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar
terpercaya." Rasululah menyebut "amin" (terpercaya) sampai
diulanginya tiga kali.
Tak lama kemudian beritapun
tersebar ditengah-tengah para sahabat ra. Masing-masing ingin ditunjuk oleh
Rasulullah saw menjadi utusan.
Umar ra mengungkapkan, "Aku
benar-benar mengharap agar aku ditunjuk Rasulullah saw untuk menduduki jabatan
itu. Aku sengaja mengangkat kepalaku agar beliau bisa melihatku dan mengutusku
untuk menduduki jabatan yang diamanatkannya. Rasul masih tetap mencari
seseorang, sehingga beliau melihat Abu Ubaidah dan berkata, "Wahai Abu
Ubaidah, pergilah engkau bersama-sama dengan penduduk Najran. Jalankan
hukum-hukum dengan penuh kebenaran terhadap segala apa yang mereka
perselisihkan." Itulah mulianya ahklak Abu Ubaidah bin Jarrah.
Masuk kedalam shaff da'wah Islamiyah.
Setelah Abu Bakar masuk Islam, dia
senantiasa mengajak kawan-kawan dekatnya untuk mengikuti jejaknya. Keislaman
beliau adalah atas ajakan Abu Bakar. Suatu ketika ia sadar dan memahami apa
yang dimaksudkan Abu Bakar terhadap dirinya. Akhirnya dia berangkat bersama
Abdurrahman bin 'Auf, Ustman bin Maz'un dan Arqam bin Abi Arqam untuk menemui
Rasulullah saw. Di depan Rasulullah saw mereka sama-sama mengucapkan kalimat
syahadah.
Pengorbanan
Setelah masuknya Abu Ubaidah dalam
Islam. Ia sadar betul bahwa seluruh apa yang dia miliki harus sepenuhnya
diberikan untuk Islam. Bukan setengah atau pun sebahagiannya. Harta, tenaga dan
raga beliau persembahkan untuk Islam. Kalau Islam meminta hartanya akan dia
infakkan, kalau tenaganya yang dibutuhkan, akan diberikan, bahkan kalaupun
nyawa yang akan di minta itupun akan dikorbankan. Dia adalah seorang pemuda
yang gagah berani yang sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya dan sulit sekali
untuk di kalahkan.
Setiap musuh mendekatinya pasti
lehernya dipenggal. Itulah keistimewaan sahabat yang satu ini, hasil dari
binaan madrasah Rasulullah saw. Ini bisa terlihat di dalam perjuangannya
membela Islam. Dimana saat terjadinya perang Badar, Abu Ubaidah tampil kedepan,
memerangi tentara musyrikin. Tatkala Abu Ubaidah lagi berhadapan dengan musuh,
tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang lelaki yang mengasuhnya sejak kecil. Ayah
kandungnya yang masih musyrik. Sebelumnya dia sudah berusaha agar jangan ketemu
bapaknya ditengah-tengah kancah peperangan.
Tapi apa hendak dikata, peperangan
saat itu bukanlah peperangan antara Qabilah atau peperangan yang hanya untuk
mempertahankan status quo. Akan tetapi adalah peperangan antara hizbullah(tentara
Allah) dengan hizb syaithan (tentara musuh), peperangan antara yang haq dengan
bathil, yang tidak mungkin disatukan selama matahari masih terbit dari sebelah
timur. Akhirnya? dengan keimanan yang menyala-nyala terjadilah perlawanan
antara sang anak dengan ayah, yang berakhir dengan gugurnya ayah kandung di
depan matanya sendiri.
Setelah peristiwa tersebut Allah menurunkan firmannya:
"Kamu tidak akan mendapati
sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang
dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang
itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati
mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan
dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas
terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (QS Al
Mujadilah: 22).
Itulah Abu Ubaidah bin Jarrah, yang
betul-betul menyerahkan hidup beliau sepenuhnya untuk Islam. Dia tidak
menghiraukan sanak famili ataupun kaum kerabat, kalau Islam yang berbicara
tidak bisa ditawar-tawar lagi, yang bathil tidak mungkin didirikan diatas yang
haq ataupun sebaliknya, semuanya harus tunduk pada aturan yang satu sekalipun
itu tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Waktu terjadinya perang Uhud, dimana
pihak tentara muslimin ketika itu mengalami kekalahan. Datang diantara tentara
musyrikin diikuti dengan teriakan, "Mana yang namanya Muhammad?! Mana yang
namanya Muhammad? Biar saya bunuh dia." Suara itu di dengar Abu Ubaidah bin
Jarrah dan sahabat-sahabat lainnya, akhirnya mereka mencari Rasulullah saw dan
mengelilinginya. Bila musuh datang merekalah sebagai bentengnya.
Di saat peperangan lagi berkecamuk,
Rasulullah saw sempat terjatuh sehingga gigi depannya retak, keningnya luka,
pipinya kena dua mata rantai perisai. Melihat keadaan seperti itu, Abu Bakar
kasihan dan ingin mencabutnya, tapi ia dicegah Abu Ubaidah bin Jarrah.
"Biarkan itu bagian saya," pintanya. Abu Ubaidah tahu kalau ini di
cabut dengan tangan Rasulullah pasti kesakitan, akhirnya dia mencoba
mencabutnya dengan gigi depannya. Disaat mata rantai pertama tercabut, giginya
masih utuh dan kuat, namun ketika mencabut mata rantai kedua giginya pun ikut
tercabut juga. Subhanallah. Saat itu Abu Bakar berkata, "Sebaik-baik gigi
yang terputus, itulah gigi Abu Ubaidah bin Jarrah."
Perjuangan
Jabir bin Abdullah pernah
bercerita, "Suatu ketika Rasullah saw.mengutus kami dalam suatu peperangan
yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Kami hanya dibekali sekarung korma
untuk tiga ratus orang. Padahal perjalanan sungguh jauh dan melewati padang pasir yang luas
dan tandus. Di tengah-tengah perjalanan, disaat tentara sudah mulai lapar, Abu
Ubaidah membagi-bagikan makanan untuk satu orang satu genggam korma. Namun
disaat bekal sudah mulai habis Abu Ubaidah membagi-baginya dengan satu korma
untuk satu orang.
Korma yang satu itulah diisap-isap
airnya sehingga menambah semangat kami dalam melanjutkan perjalanan. Tak lama
kemudian bekalpun habis, badan terasa letih, capek dan lapar. Namun perjalanan
masih jauh. Akhirnya kamipun memilih jalan dekat pantai. Tiba-tiba disaat kami
betul-betul lapar, kami memperdapati ikan besar yang sudah mati, mula-mula Abu
Ubaidah melarang kami untuk memakannya. Akan tetapi, karena keadaan sudah
memaksa akhirnya kamipun memakannya, setelah itu kami melanjutkan
perjalanan."
Perjuangan Abu Ubaidah bin Jarrah
nampak juga kita lihat dari perkataan Umar bin Khattab. Pada suatu kesempatan
Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan kepada para sahabat, "Tunjukkan
kepada saya cita-cita tertinggi kalian." Salah seorang dari mereka
mengacungkan tangan dan berkata, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini
penuh dengan emas, akan saya infakkan seluruhnya untuk jalan Allah."
Umarpun mengulangi pertanyaannya,
"Apa masih ada yang lebih baik dari itu?", lantas sahabat yang
lainpun menjawab, "Wahai Amirulmukminin sekiranya rumah ini dipenuhi
dengan intan, emas dan permata, niscaya akan saya infakkan seluruhnya untuk
Allah." Umar bin Khattab kembali bertanya dengan lafadh yang sama.
Merekapun serentak menjawab, "Wahai Amirulmukminin kami tidak tahu lagi
apa yang terbaik dari itu." Umar bin Khathab kemudian menjelaskan,
"Cita-cita yang terbaik adalah, seandainya ruangan ini Allah penuhi dengan
pejuang muslim seperti Abu Ubaidah bin Jarrah yang jujur, adil dan
bijaksana."
Menjelang wafatnya, Khalifah Umar
pernah berkata, "Kalau Abu Ubaidah masih hidup maka aku akan menunjuknya
sebagai khalifah penggantiku. Dan bila kelak Allah swt bertanya tentang apa
sebabnya, maka aku akan menjawabnya, 'Aku memilih dia karena dia seorang
pemegang amanat umat dan pemegang amanat Rasulullah.'"
Demikianlah sosok kepribadian
sahabat kita yang satu ini. Ia tidak pernah mundur dalam memperjuangkan
kesucian Islam. Tenaga, harta, waktu, dan jiwanya ia korbankan demi Islam dan
kejayaan umatnya. Radhiyallahu 'anhu wardhahu.
HAFSHAH BINTI UMAR
“Profil Seorang Shahabiah yang Teguh dan
Sabar”
Beliau adalah ummul mukminin yang gemar berpuasa dan shalat.
Ibunya adalah Zainab binti Madh'un binti Hasib. Hafshah adalah istri dari
sahabat Khunais bin Khudzafah Al Sahmi yang ikut hijrah ke Habsyah dan Madinah.
Khunais syahid pada perang Uhud. Ketika itu Hafshah berusia 18 tahun. Meski
hidup dirundung duka, namun keimanan dan keteguhan hati Hafshah dapat meredam
segala yang terjadi dan menerpa pada dirinya. Ia menyadari benar bahwa semua
adalah takdir dari-Nya. Kesabaran, ketabahan, sikap hidup qanaah dan wara'
Hafshah selalu menyelimuti pribadinya. Umar sebagai ayah dari sahabiah yang
dijuluki shawwamah (selalu puasa) dan qawwamah (selalu bangun malam) ini,
beliau berusaha mencarikan teman hidupnya yang cocok. Beliau berangan jika
Hafshah dipertemukan oleh Allah dengan sahabat Utsman bin Affan ra. Karena
Utsman juga senasib dengan Hafshah. Utsman telah ditinggal oleh istrinya yang
tercinta Ruqayyah binti Rasulullah SAW.
Selain itu Ustman adalah sahabat Rasulullah yang terdekat.
Beliau terkenal dengan julukan Al Faruq. Akan tetapi Allah menghendaki lain,
meski Umar, Sang Ayah, berkeinginan keras agar Hafshah dapat dipertemukan
dengan Utsman ra. namun ternyata Utsman menyatakan ketidaksanggupannya dengan
halus. Selain Utsman, Abu Bakar juga diberi tawaran untuk mempersunting
sahabiah Hafshah ini. Namun, ternyata belum juga dikehendaki oleh Allah.
Barangkali, disinilah hikmah-Nya yang sangat agung. Bahwa di setiap kesusahan
pasti akan datang kemudahan. Dan apa yang belum digenggam di tangan manusia di
saat ini, barangkali akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik di hari
depan.
Sebagai seorang ayah, sahabat Umar tetap berusaha mencarikan
pasangan hidup yang serasi untuk shahabiah Hafshah. Setelah beberapa langkah ia
tempuh dan Allah belum membukakan jalan, akhirnya semua diadukan kepada
Rasulullah SAW. Dari Rasulullah inilah hati Umar merasa tenteram. Dahaga yang
diresahkan Umar, disiram dengan kesejukan kata mulia dari makhluk Allah yang
paling mulia, Rasulullah SAW. Rasulullah berkata, bahwa Hafshah akan menikah
dengan yang lebih baik dari Utsman. Dan Utsman akan menikah dengan yang lebih
baik dari Hafshah.
Dan benar, akhirnya Allah mempertemukan sahabiah Hafshah
dengan manusia teragung di dunia ini, Rasulullah SAW. Hal ini belum pernah
terbayangkan oleh Hafshah, bahkan Umar sendiri sebagai ayahnya. Itulah buktinya
lagi bahwa kesabaran dapat menjanjikan sejuta kesenangan di hari depan, yang
tidak pernah terlintas di benak manusia. Semua barangkali karena manusia hanya
mampu melihat segala yang kasat mata, sementara kaca mata Ilahi lebih tajam
dari apa yang ada di sisi manusia. Disitulah juga letak 'ibrah (pelajaran) bagi
kita semua. Kita tentunya ingat pada suatu kaidah yang mengatakan bahwa al
'ibratu bi 'umum al lafdzi la bikhushush al sababi; pelajaran dilihat dari
generalisasi lafadznya, bukan dari spesifikasi sebab yang terjadi.
Ya, ini adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi
kita semua kaum muslimin. Bahkan bagi semua lapisan nilai-nilai fitrah
kemanusiaan (humanisme) umumnya, yang kerap kali didengung-dengungkan oleh
komunitas moderen. Lihatlah, bagaiamana masyarakat Islam merasa
bertanggungjawab sekali terhadap kondisi masyarakat dalam strata sosial apapun,
sampai kondisi ditinggalnya sang istri oleh sang suami atau sebaliknya.
Barangkali, kondisi semacam ini dalam jangkauan undang-undang masyarakat moderen,
tanggung jawab sepenuhnya dilimpahkan kepada modin atau kantor urusan agama.
Lihatlah masyarakat Islam percontohan generasi pertama ini. Lihatlah bagaimana
Rasulullah juga ikut campur dalam permasalahan ini. Bahkan berusaha mencarikan
solusi yang tepat terhadap permasalahan ini.
Semua berangkat dari kesadaran bahwa bangunan masyarakat
tidak akan terjalin kokoh kalau tidak dimulai dari bangunan keluarga yang
shalih. Dan manusia yang paling bertanggung jawab terhadap kecemerlangan
generasi pertama ini adalah Rasulullah SAW. Maka apapun yang terjadi, beliaulah
yang pertama kali berani mengorbankan segala kepentingan pribadinya. Pesan
Rasulullah senantiasa terngiang di telinga sayyidah Aisyah ketika beliau
berkata, "Telah lewat masa tidur kita wahai Aisyah." Ini menunjukkan
sikap Rasulullah yang sangat agung, dengan mendahulukan kepentingan ummat dari
kepentingan pribadi. Itulah makanya, berdasar perintah Allah, akhirnya
Rasulullah memperistri Hafshah ra. Dari sinilah Hafshah mendapat semangat hidup
yang prima, karena didampingi oleh manusia yang paling mulia; Rasulullah SAW.
Semangat hidup tersebut sangat nampak sekali setelah beliau
hidup di tengah-tengah rumah Rasulullah SAW. yang dibuktikan dengan potensi
iman, akhlak dan akal yang sangat dibanggakan. Sebagaimana yang makruf, bahwa
rumah Rasulullah adalah rumah kenabian. Rumah Rasulullah adalah rumah ilmu.
Rumah Rasulullah adalah rumah Al Quran. Maka istri-istri nabi senantiasa
menghidupkan karakter kehidupan rumah Rasulullah dengan semangat ilmu, semangat
ibadah dan semangat amal yang tinggi tersebut.
Bahkan diantara istri-istri nabi mempunyai
kelebihan-kelebihan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hafsah sendiri
terkenal sebagai sahabiah yang terkenal banyak meriwayatkan hadits Rasulullah
SAW, hingga wafatnya. Bahkan diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar sendiri yang
selalu meniru segala jejak dan amal Rasululllah, selalu menjadikan Hafshah
sebagai rujukan, tempat bertanya tentang hadits yang beliau tidak ketahui. Dari
segi ibadahnya sahabiah Hafshah ini terkenal dengan julukan al shawwamah al
qawwamah (yang senantiasa puasa dan bangun malam). (Lihat al Ishabah fi al
Tamyiz al Shahabah:4/265).
Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, pada awal
kekhalifahan beliau terjadi fenomena kemurtadan yang cukup riskan, terutama
mereka yang belum kuat imannya.. Bahkan mengganggu stabilitas masyarakat Islam
yang baru ditinggal oleh Rasulullah SAW. Di daerah Nejed dan Yaman banyak kaum
muslimin yang melepaskan diri dari keislamannya dan menolak membayar jizyah.
Maka diutuslah pasukan untuk menyelesaikan permasalahan ini oleh Abu Bakar .
Dan terjadilah peperangan yang cukup hebat, setelah beberapa peringatan yang
disampaikan kepada mereka agar kembali kepada Islam.
Tentara Islam yang ikut dalam operasi ini mereka banyak dari
para penghafal Al Quran. Dalam peperangan ini telah gugur sebanyak 70 sahabat
penghafal Al-Quran. Bahkan dalam suatu riwayat diceritakan bahwa sebelum
peperangan itu terjadi, telah gugur para penghafal Al Quran dengan jumlah yang
sama ketika di Bi'ru Ma'unah, dekat kota
Madinah. Maka dari itu Umar ra. khawatir kalau sahabat para penghafal Al Quran
yang lain, yang masih hidup, juga akan gugur. Kemudian beliau datang kepada Abu
Bakar ra. memusyawarahkan hal ini. Umar mengusulkan agar Al Quran yang ada
dikumpulkan, demi menjaga kemusnahan.
Dalam pengumpulan Al Quran ini sahabat yang bertanggung jawab
adalah Zaid bin Tsabit. Ia bekerja sangat teliti dan hati-hati. Dan,
terkumpullah Al Quran tersebut dalam satu mushaf. Mushaf tersebut akhirnya
dipercayakan pemeliharaannya kepada sahabiah Hafshah ra., yang akhirnya dikenal
dengan nama mushaf Hafshah. Beliaulah sang pemelihara Al Quran, selama 10 tahun
hingga datang masa Utsman ra menjabat sebagai khalifah. Pada masa Utsman mushaf
Hafshah diperbanyak kembali dan disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaan kaum
muslimin untuk menyatukan bacaan.
Begitu besarnya peran Hafshah terhadap ummat Islam. Dan
begitu agungnya nilai kesabaran dan keteguhannya, hingga membawa beliau kepada
kedudukan yang sungguh sangat mulia; sebagai pendamping Rasululullah (tergolong
dari istri nabi yang kelima selain Ummi Habibah, Ummi Salmah, Aisyah dan Saudah
binti Zam'ah), sebagai sumber rujukan ilmu dan sebagai pemelihara Al Quran. Dan
benar, bahwa hasil dari kesabaran lebih manis dari madu (ahla min al'asal)
meskipun rasa awalnya lebih pahit dari bratawali. Wallahu yahdi ila sawa al
sabil. wahuwa ahkam wa 'alam.
HUDHAYFA IBNUL
YAMAN
“Seteru
Kemunafikan, Kawan Keterbukaan”
Penduduk kota
Madain berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang
baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mu'minin Umar ra. Mereka pergi
menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan
shahabat Nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai
keshalihan dan ketaqwaannya, begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan
tanah Irak.
Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang,
tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah
berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang
kedua kakinya teruantai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam
sedang mulutnya sedang mengunyah.
Demi ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka tahu
bahwa orang itu tidak lain dari Hudhayfa Ibnul Yaman, maka mereka jadi bingung
dan hampir-hampir tidak percaya. Tetapi apa yang akan diherankan? Corak
kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar? Hal itu dapat
difahami, karena baik di masa kerajaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya,
tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini.
Hudhayfa meneruskan perjalanan sedang orang-orang berkerumun
dan mengelilinginya. Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah
menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya, "Jauhilah
oleh kalian tempat-tempat fitnah!" Ujar mereka, "Di manakah
tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?" Ujarnya, "Pintu rumah
para pembesar!" Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan
mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka
lakukan!"
Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat
mena'jubkan! Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini,
orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya
tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitupun yang lebih hina dalam
pandangan matanya daripada kemunafikan. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan
ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem
yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan.
Hudhayfa Ibnu Yaman memasuki arena kehidupan ini dengan bekal
tabi'at istimewa. Di antara ciri-cirinya ialah anti kemunafikan dan mampu
melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh
sekalipun. Semenjak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap
Rasulullah SAW dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan
wataknya bertambah terang dan cemerlang, maka sungguh, ia menjaganya secara
teguh dan suci, serta tulus dan gagah berani dan diapndangnya sifat pengecut,
bohong dan kemunafikan sebagai sifat yang rendah dan hina.
Ia terdidik ditangan Rasulullah SAW dengan kalbu terbuka tak
ubah bagai cahaya shubuh, hingga tak suatupun dari persoalan hidupnya yang
tersembunyi. Tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya, seorang yang benar
dan jujur, mencintai orang-orang yng teguh membela kebenaran, sebaliknya
mengutuk orang-orang yang berbelit-belit dan riya, orang-orang culas bermuka
dua!
Ia bergaul dengan Rasulullah SAW dan sungguh, tak ada lagi
tempat baik di mana bakat Hudhayfa ini tumbuh subur dan berkembang sebagai
halnya di arena ini, yakni dalam pengkuan agama Islam, di hadapan Rasulullah
SAW dan di tengah-tengah golongan besar kaum perintis dari shahabat-shahabat
Rasulullah SAW. Bakatnya ini benar-benar tumbuh menurut kenyataan, hingga ia
berhasil mencapai keahlian dalam membaca tabi'at dan airmuka seseorang. Dalam
waktu selintas kilas, ia dapat menebak airmuka dan tanpa susah payah akan mampu
menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam.
Kemampuannya dalam hal ini telah sampai kepada apa yang
diinginkannya, hingga Amirul Mu'minin Umar r.a. yang dikenal sebagai orang yang
penuh dengan inspirasi, seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan
pendapat Hudhayfa, begitu pula ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh dan
mengenali mereka. Sungguh Hudhayfa telah dikaruniai fikiran jernih,
menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu
yang biak itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul
menginginkannya. Sebaliknya yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan
karena itu orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan
ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Demikianlah Hudhayfa r.a terus menerus mempelajari kejahatan
dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafiq. Berkata ia,
"Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, tetapi
saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di
dalamnya. Pernah kubertanya, 'Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam
kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita
kebaikan ini, apakah dibalik kebaikan ini ada kejahatan?' 'Ada', ujarnya. 'Kemudian apakah setelah
kejahatan masih ada lagi kebaikan?' tanyaku pula. 'Memang, tetapi kabur dan
bahaya.' 'Apakah bahaya itu?' 'Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan
sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan
laranglah.' "
'Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkan ada lagi
kejahatan?' tanyaku pula. 'Masih,' ujar Nabi, 'Yakni para tukang seru di pintu
neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam
neraka!' Lalu kutanyakan kepada Rasulullah, 'Ya Rasulullah, apa yang harus saya
perbuat bila saya menghadapi hal demikian?' Ujar Rasulullah, 'Senantiasa
mengikuti jama'ah kaum muslimin dan pemimpin mereka!' 'Bagaimana kalau mereka
tidak punya jama'ah dan tidak pula pemimpin?' 'Hendaklah kamu tinggalkan
golongan itu semua, walau kamu akan tinggal dirumpun kayu sampai kamu menemui
ajal dalam keadaan demikian!'
Nah, tidakkah anda perhatikan ucapannya, "Orang-orang
menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan
kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya."
Hudhayfa Ibnu Yaman menempuh kehidupan ini dengan mata terbuka dan hati waspada
terhadap sumber-sumber fitnah dan liku-likunya demi menjaga diri dan
memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Dengan demikian ia menganalisa
kehidupan dunia ini dan mengkaji pribadi orang serta meraba situasi. Semua
masalah itu diolah dan digodok dalam akan fikirannya lalu dituangkan dalam
ungkapan seorang filosof yang 'arif dan bijaksana.
Berkatalah ia, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah
membangkitkan Muhammad SAW, maka diserunya manusia dari kesesatan kepada
kebenaran, dari kekafiran kepada keimanan. Lalu yang menerima
mengamalkannyalah, hingga dengan kebenaran itu yang mati menjadi hidup, dan
dengan kebatilan yang hidup menjadi mati! Kemudian masa kenabian berlalu, dan
datang masa kekhalifahan menurut jejak beliau, dan setelah itu tiba zaman
kerajaan durjana."
Di antara manusia ada yang menerima, baik dengan hati maupun
dengan tangan serta lisannya, maka merekalah yang benar-benar menerima yang
haq. Dan di antara mereka ada yang menentang, baik dengan hati maupun dengan
tangan serta lisannya, maka merekalah yang benar-benar menentang yang haq. Dan
di antara mereka ada yang menentang dengan hati dan lisannya tanpa mengikut
sertakan tangannya, maka golongan ini telah meninggalkan suatu cabang dari yang
haq.
Dan apapula yang menentang dengan hatinya semata, tanpa
mengikut sertakan tangan dan lisannya, maka golongan ini telah meninggalkan dua
cabang dari yang haq. Dan adapula yang tidak menentang, baik dengan hati maupun
dengan tangan serta lisannya, maka golongan ini adalah mayat-mayat bernyawa.
Ia juga berbicara tentang hati, dan mengenai kehidupannya
yang beroleh petunjuk dan yang sesat, katanya, "Hati itu ada empat macam:
Hati yang tertutup, itulah dia hati orang kafir. Hati yang dua muka, itulah dia
hati orang munafiq. Hati yang suci bersih, di sana ada pelita yang menyala, itulah dia hati
orang yang beriman. Dan hati yang berisi keimanan dan kemunafikan. Tamsil keimanan
itu adalah laksana sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih, sedang
kemunafikan itu tak ubahnya bagai bisul yang diairi darah dan nanah. Maka mana
di antara keduanya yang lebih kuat, itulah yang menang."
Pengalaman Hudhayfa yang luas tentang kejahatan dan
ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-katanya
menjadi tajam dan pedas. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya,
"Saya datang menemui Rasulullah SAW, kataku padanya, 'Wahai Rasulullah,
lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu
akan menyebabkan saya masuk neraka.' Maka ujar Rasulullah SAW, 'Kenapa kamu
tidak beristighfar?' 'Sungguh, saya beristighfar kepada Allah tiap hari seratus
kali.' " Nah inilah dia Hudhayfa musuh kemunafikan dan shahabat
keterbukaan. Dan tokoh semacam ini pastilah imannya teguh dan kecintaannya
mendalam. Demikianlah pula halnya Hudhayfa, dalam keimanan dan kecintaannya.
Disaksikannya bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud, dan
ditangan srikandi Islam sendiri yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya
sebagai orang musyrik.
Hudhayfa melihat dari jauh pedang sedang dihujamkan kepada
ayahnya, ia berteriak, "Ayahku.. ayahku... Jangan ia ayahku.." Tetapi
qadla Allah telah tiba. Dan ketika kaum muslimin mengetahui hal itu, merekapun
diliputi suasana duka dan sama-sama membisu. Tetapi sambil memandangi mereka
dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya, "Semoga Allah
mengampuni tuan-tuan, Ia adalah sebaik-baik Penyayang."
Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat
berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas
kewajibannya. Akhirnya peperanganpun usailah dan berita tersebut sampai ke
telinga Rasulullah SAW. Maka disuruhnya membayar diyat atas terbunuhnya
ayahanda Hudhayfa (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudhayfa ini
dan disuruh membagikannya kepada kaum muslimin. Hal itu menambah sayang dan
tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya.
Keimanan dan kecintaan Hudhayfa tidak kenal lelah dan lemah,
bahkan juga tidak kenal mustahil. Sewaktu perang Khandaq, yakni setelah
merayapnya kegelisahan dalam barisan kafir Quraisy dan sekutu-sekutu mereka
dari golongan Yahudi, Rasulullah SAW bermaksud hendak mengentahui perkembangan
terakhir di lingkungan perkemahan musuh-musuhnya.
Ketika itu malam gelap gulita dan menakutkan, sementara angin
topan dan badai meraung dan menderu-deru, seolah-olah hendak mencabut dan
menggulingkan gunung-gunung sahara yang berdiri tegak ditempatnya. Dan suasana
di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang
kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang
gawat di kalangan para shahabat Rasulullah SAW.
Maka siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan apapun
kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di
tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya,
untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan
mengetahui keadaan mereka? Maka Rasulullah yang memilih di antara para
shahabatnya, orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini, dan
tahukah anda, siapa kiranya pahlawan yang dipilihnya itu? Itulah Hudhayfa Ibnu
Yaman.
Ia dipanggil oleh Rasulullah SAW untuk melakukan tugas, dan
dengan patuh dipenuhinya. Dan sebagai bukti kejujurannya, ketika ia mengisahkan
peristiwa tersebut dinyatakannya bahwa ia mau tak mau harus menerimanya. Hal
itu menjadi petunjuk, bahwa sebenarnya ia takut menghadapi tugas yang dipikulkan
atas pundaknya serta khawatir akan akibatnya. Apalagi bila diingat bahwa ia
harus melakukannya dalam keadaan lapar dan timpaan hujan es, serta keadaan
jasmaniah yang amat lemah, sebagai akibat pengepungan orang-orang musyrik
selama satu bulan atau lebih.
Dan sungguh, peristiwa yang dialami oleh Hudhayfa malam itu,
amat mena'jubkan sekali. Ia telah menempuh jarak yang terbentang di antara
kedua perkemahan dan berhasil menembus kepungan, lalu secara diam-diam
menyelinap ke perkemahan musuh. Ketika itu angin kencang telah memadamkan
alat-alat penerangan fihak lawan hingga mereka berada dalam gelap gulita,
sementara Hudhayfa ra telah mengambil tempat di tengah-tengah prajurit musuh
itu.
Abu Sufyan, yakni panglima besar Quraisy, takut kalau-kalau
kegelapan malam itu dimanfaatkan oleh mata-mata kaum muslimin untuk menyusup ke
perkemahan mereka. Maka iapun berdirilah untuk memperingatkan anak buahnya.
Seruan yang diucapkan dengan keras kedengaran oleh Hudhayfa dan bunyinya
sebagai berikut, "Hai segenap golongan Quraisy, hendaklah masing-masing
kalian memperhatikan kawan duduknya dan memegang tangan serta mengetahui siapa
namanya."
Kata Hudhayfa, "Maka segeralah saya menjabat tangan
laki-laki yang duduk di dekatku, kataku kepadanya, 'Siapa kamu ini?' Ujarnya,
'Si Anu anak si Anu.' Demikianlah Hudhayfa mengamankan kehadirannya di kalangan
tentara musuh itu hingga selamat. Abu Sufyan mengulangi lagi seruan kepada
tentaranya, katanya, "Hai orang-orang Quraisy, kekuatan kalian sudah tidak
utuh lagi, kuda-kuda kita telah binasa, demikian juga halnya unta."
"Bani Quraidhah telah pula mengkhianati kita hingga kita
mengalami akibat yang tidak kita inginkan. Dan sebagaimana kalian saksikan
sendiri, kita telah mengalami bencana angin badai, periuk-periuk
berpelantingan, api menjadi padam dan kemah-kemah berantakan. Maka berangkatlah
kalian sayapun akan berangkat." Lalu ia naik ke punggung untanya dan mulai
berangkat, diikuti dari belakang oleh tentaranya. Kata Hudhayfa, "Kalau
tidaklah pesan Rasulullah SAW kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu
tindakan sebelum menemuinya lebih dulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu
dengan anak panah."
Hudhayfa kembali kepada Rasulullah SAW dan menceritakan
keadaan musuh, serta menyampaikan berita gembira itu. Barangsiapa yang pernah
bertemu muka dengan Hudhayfa dan merenungkan buah fikiran dan hasil filsafatnya
serta tekunnya untuk mencapai ma'rifat, tak mungkin akan mengharapkan
daripadanya sesuatu kepahlawanan di medan
perang atau pertempuran.
Tetapi anehnya dalam bidang inipun Hudhayfa melenyapkan
segala dugaan itu. Laki-laki santri yang teguh beribadat dan pemikir ini, akan
menunjukkan kepahlawanan yang luar biasa di kala ia menggenggam pedang
menghadapi tentara berhala dan pembela kesesatan. Cukuplah sebagai bukti bahwa ia
merupakan orang ketiga atau kelima dalam deretan tokoh-tokoh terpenting pada
pembebasan seluruh wilayah Irak. Kota-kota Hamdan, Rai dan Dainawar, selesai
pembebasannya di bawah komando Hudhayfa.
Dan dalam pertempuran besar Nahawand, di mana orang-orang Persi
berhasil menghimpun 150 ribu tentara, Amirul Mu'minin Umar memilih sebagai
panglima Islam Nu'man bin Muqarrin, sedang kepada Hudhayfa dikirimnya surat agar ia menuju
tempat itu sebagai komandan dari tentara Kufah. Kepada para pejuang itu Umar
mengirimkan surat,
katanya, "Jika kaum muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima
hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar
ialah Nu'man bin Muqarrin. Dan seandainya Nu'man tewas, maka panji-panji
komando hendaklah dipegang oleh Hudhayfa, dan kalau ia tewas pula maka oleh
Jarir bin Abdillah."
Amirul Mu'minin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada
tujuh orang banyaknya yang akan memegang pimpinan tentara secara berurutan. Dan
kedua pasukanpun berhadapanlah. Pasukan Persi dengan 150 ribu tentara, sedang
Kaum Muslimin dengan 30 ribu orang pejuang, tidak lebih. Perang berkobar, suatu
pertempuran yang tak ada tolak bandingnya, perang terdasyat dan paling sengit
dikenal oleh sejarah.
Panglima besar kaum muslimin gugur sebagai syahid, Nu'man bin
Muqarrin tewaslah sudah. Tetapi sebelum bendera kaum muslimin menyentuh tanah,
panglima yang baru telah menyambutnya dengan tangan kanannya, dan angin
kemenanganpun meniup dan menggiring tentara maju ke muka dengan semangat penuh dan
keberanian luar biasa. Dan panglima yang bru itu tiada lain dari Hudhayfa Ibnul
Yaman. Bendera segera disambutnya, dan dipesankannya agar kematian Nu'man tidak
disiarkan, sebelum peperangan berketentuan. Lalu dipanggilnya Na'im bin
Muqarrin dan ditempatkan pada kedudukan saudaranya Nu'man, sebagai penghormatan
kepadanya.
Dan semua itu dilaksanakannya dengan kecekatan, bertindak
dalam waktu hanya beberapa saat, sedang roda peperangan berputar cepat,
kemudian bagai angin puting beliung ia maju menerjang barisan Persi sambil
menyerukan, "Allahu Akbar,
Ia telah menepati janji-Nya,
Allahu Akbar, telah dibela-Nya tentara-Nya". Lalu diputarlah kekang
kudanya ke arah anak buahnya, dan berseru, "Hai ummat Muhammad SAW,
pintu-pintu surga telah terbuka lebar, siap sedia menyambut kedatangan
tuan-tuan, jangan biarkan ia menunggu lebih lama, Ayolah wahai
pahlawan-pahlawan Badar, Majulah pejuang-pejuang Uhud, Khandaq dan Tabuk."
Dengan ucapan-ucapannya itu Hudhayfa telah memelihara semangat tempur dan
ketahanan anak buahnya, jika tak dapat dikatakan telah menambah dan melipat
gandakannya. Dan kesudahannya perang berakhir dengan kekalahan pahit bagi
orang-orang Persi, suatu kekalahan yang jarang ditemukan bandingannya.
KHADIJAH BINTI
KHUWAILID
“Istri
Rasulullah Yang Agung”
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum
lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu
berdiri di belakang da'wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi
kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti
Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia.
Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu'minin, sebaik-baik
isteri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW
sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua
Hira'. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW
berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang
menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya
penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku
ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan
dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku
apa-apa."
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini,
pada- hal di hadapan kita ada "wanita terbaik di dunia," Khadijah
binti Khu- wailid, Ummul Mu'minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik
dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat men- jadi
Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya,
dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka
Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan se- baik-baik
balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam is- tananya,
sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hi- dupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata
:"Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah
berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan
salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah
rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada
kepayahan." [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam
Adz-Dzahabi berkata :"Keshahihannya telah disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di
dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ?
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung
dengan rombongan orang Mu'min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di
bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak
saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi
kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan
patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW
sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di
sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat- ayat Kitab yang mulia,
sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya,
antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi
SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu
terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan
kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat
meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat
yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :"Dari
mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan
untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku."
Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :"Gembiralah dan teguhlah, wahai,
putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau
menjadi Nabi umat ini." Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe
neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya.
Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa
penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan
tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati
dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim
salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul
SAW seraya berkata kepadanya :"Sampaikan kepada Khadijah salam dari
Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :"Wahai Khadijah, ini Jibril
menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka Khadijah r.a. menjawab
:"Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam
(kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam
(kesejahteraan)."
Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang
pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta
khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama
lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da'wah itu
sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi
Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat
baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolong- nya di waktu-waktu yang sulit,
membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan
yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku
ketika orang- orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang
mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak
memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku
anak dari selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya,
6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia
berkata :"Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :"Wahai,
Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan
atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari
Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat)
dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan."
[Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya,
1/539]
KHALID BIN
WALID
“Ksatria Islam
yang Tangguh”
"ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui
dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia
menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang
kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian
keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini
masuk Islam.
Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan
Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya
bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang
sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar
sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari
pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat
mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat
diluruskan kembali dengan baik.
Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin
yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia
menghormati Ka'bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun
dialah yang menyediakan kain penutup Ka'bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi
makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.
Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka'bah tidak seorang pun
yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut
kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan
bersenjatakan sekop sambil berteriak, "O, Tuhan jangan marah kepada kami.
Kami berniat baik terhadap rumahMu".
Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk
Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata
rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah
masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.
Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-'an itu adalah
kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan,
bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.
Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi,
bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah
menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati
nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy.
Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya.
Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan
Islam.
Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi
peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga
tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.
Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih
dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap
orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama
kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.
Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa
kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang
berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya
ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.
Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak
usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu
ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya
ialah adu tinju dan berkelahi.
Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai
tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan
adalah satu hal terhormat di mata rakyat.
Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang
yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid
untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya.
Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi
teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya
kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian
mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan
perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli,
ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang
luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.
Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang
menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan
menjadi ahli dalam seni kemiliteran.
Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi
ahli militer yang luar biasa senialnya.
Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol
diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati
rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu
itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi
agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya
bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy
sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk
menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh
berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat
berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini.
Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.
Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy.
Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang
Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan
dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya
kwalitasnya sebagai pekelahi.
Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka
jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina.
Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk
lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka
seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan
segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang
terjadi di Badar.
Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan
pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam
peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad
menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi
dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu
kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara
Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini,
Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka
agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai
meninggalkan pos masing-masing.
Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat
kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu
mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena
kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang
Islam.
Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai
pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak
pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka
injak.
Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai.
Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam
orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap
membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna
melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang
bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta
perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir
panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting
meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.
Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid
dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan
mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok
bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa
untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis
belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah
masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai
berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang.
Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung
lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.
Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud
menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan
cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang,
kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang
kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat
kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang
telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar
biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang
Quraisy.
Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat
bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk
membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam
banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan
perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun
hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan
pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata
kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid
dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas
tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah
kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai
dengan kemaua-Nya.
SA'AD BIN ABI
WAQQASH
“Singa yang
Menyembunyikan Kukunya”
Berita yang datang secara beruntun menyatakan serangan licik
yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Persi terhadap Kaum Muslimin, amat
menggelisahkan hati Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab... Disusul kemudian
dengan berita, tentang pertempuran Jembatan, di mana empat ribu orang pihak Kaum
Muslimin gugur sebagai syuhada dalam waktu sehari, begitu pun
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Irak terhadap
perjanjian-perjanjian, yang mereka perbuat, serta ikrar yang telah mereka
akui..., menyebabkan khalifah mengambil keputusan untuk pergi dan memimpin
sendiri tentara Islam dalam perjuangan bersenjata yang menentukan, melawan
Persi.
Bersama beberapa orang shahabat dan dengan menunggang
kendaraan, berangkatlah ia dengan meninggalkan Ali Karamallahu Wajhah di
Madinah sebagai wakilnya. Tetapi belum berapa jauh dari kota sebagian anggota rombongan berpendapat
dan mengusulkan agar ia kembali dan memilih salah seorang di antara para
shahabat untuk melakukan tugas tersebut. Usul ini diprakarsai oleh Abdurrahman
bin 'Auf yang menyatakan bahwa menyia-nyiakan nyawa Amirul Mu'minin dengan cara
seperti ini, sementara Islam sedang menghadapi hari-harinya yang menentukan,
adalah perbuatan yang keliru. Umar pun menyuruh Kaum Muslimin berkumpul untuk
bermusyawarah dan diserukanlah "Asshalata jami'ah"; sementara Ali
dipanggil datang; yang bersama beberapa orang penduduk Madinah berangkat menuju
tempat perhentian Amirul Mu'minin. Akhirnya tercapailah persetujuan sesuai
dengan apa yang diusulkan oleh Abdurrahman bin 'Auf, dan peserta musyawarah memutuskan
agar Umar kembali ke Madinah dan memilih seorang panglima lain yang akan
memimpin peperangan menghadapi Persi. Amirul Mu'minin tunduk pada keputusan
ini, lalu menanyakan kepada para shahabat, siapa kiranya orang yang akan
dikirim ke Irak itu. Mereka sama tertegun dan berfikir.
Tiba-tiba berserulah Abdurrahman bin 'Auf, "Saya telah
menemukannya." "Siapa dia?" tnya Umar. Ujar Abdurrahman,
"Singa yang menyembunyikan kukunya, yaitu Sa'ad bin Malik az Zuhri!"
Pendapat ini disokong sepenuhnya oleh Kaum Muslimin, dan Amirul Mu'minin
meminta datang Sa'ad bin Malik az-Zuhri yang tiada lain Sa'ad bin Abi Waqqash.
Lalu diangkatnya sebagai Amir atau Gubernur Militer di Irak yang bertugas
mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.
Nah, siapakah dia singa yang menyembunyikan kukunya itu? Dan
siapakah dia yang bila datang kepada Rasulullah ketika berada di antara
shahabat-shahabatnya; akan disambutnya dengan ucapan selamat datang sambil
bergurau, sabdanya: "Ini dia pamanku...! Siapa orang yang punya paman
seperti pamanku ini?" Itulah dia Sa'ad bin Abi Waqqash! Kakeknya ialah
Uhaib, putera dari Manaf yang menjadi paman dari Aminah ibunda dari Rasulullah
saw.
Sa'ad masuk Islam selagi berusia l7 tahun, dan keislamannya
termasuk yang terdahulu di antara para shahabat. Hal ini pernah diceritakannya
sendiri, katanya, "Pada suatu saat saya beroleh kesempatan termasuk tiga
orang pertama yang masuk Islam." Maksudnya bahwa ia adalah salah seorang
di antara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam.
Maka pada hari-hari pertama Rasulullah menjelaskan tentang
Allah Yang Esa dan tentang Agama baru yang dibawanya, dan sebelum beliau
mengambil rumah al-Arqam untuk tempat pertemuan dengan shahabat-shahabatnya
yang telah mulai beriman, Sa'ad bin Abi Waqqash telah mengulurkan tangan
kanannya untuk bai'at kepada Rasulullah saw.
Sementara itu buku-buku tarikh dan riwayat menceritakan
kepada kita bahwa ia termasuk salah seorang yang masuk Islam bersama dan atas
hasil usaha Abu Bakar. Boleh jadi ia menyatakan keislamannya secara
terang-terangan bersama orang-orang yang dapat diyakinkan oleh Abu Bakar, yaitu
Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin 'Auf dan Thalhah bin
'Ubaidillah. Dan ini, tidak menutup kemungkinan bahwa ia lebih dulu masuk Islam
secara sembunyi-sembunyi.
Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki oleh Sa'ad ini, yang
dapat ditonjolkan dan dibanggakannya. Tetapi di antara semua itu dua hal
penting yang selalu menjadi dendang dan senandungnya. Pertama, bahwa dialah
yang mula-mula melepaskan anak panah dalam membela Agama Allah, dan juga orang
yang mula-mula terkena anak panah. Dan kedua, bahwa dia merupakan satu-satunya
orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau.
Bersabdalah Rasulullah saw di waktu perang Uhud, "Panahlah hai Sa'ad! Ibu
bapakku menjadi jaminan bagimu."
Memang! Kedua ni'mat besar ini selalu menjadi dendangan Sa'ad
buah syukurnya kepada Allah. Katanya, "Demi Allah sayalah orang pertama
yang melepaskan anak panah di jalan Allah..!" Dan berkata pula Ali bin Abi
Thalib, "Tidak pernah saya dengar Rasulullah menyediakan ibu bapaknya
sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Sa'ad. Saya dengar beliau bersabda
waktu Perang Uhud, "Panahlah, hai Sa'ad Ibu bapakku menjadi jaminan
bagimu."
Sa'ad termasuk seorang kesatria berkuda Arab dan Muslimin
yang paling berani. Ia mempunyai dua macam senjata yang amat ampuh, yaitu
panahnya dan do'anya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, pastilah akan
mengenai sasarannya, dan jika ia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah pastilah
dikabulkan-Nya. Menurut Sa'ad sendiri dan juga para shahabat- nya, hal itu
adalah disebabkan do'a Rasulullah juga bagi pribadinya. Pada suatu hari ketika
Rasulullah menyaksikan dari Sa'ad sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di
hati beliau, diajukannyalah do'a yang maqbul ini, "Ya Allah, tepatkanlah
bidikan panahnya, dan kabulkanlah do'anya."
Demikianlah ia terkenal di kalangan saudara-saudara dan
handai tolannya bahwa do'anya tak ubah bagai pedang yang tajam. Hal ini juga
disadari sepenuhnya oleh Sa'ad sendiri, hingga ia tak hendak berdo'a bagi
kerugian seseorang, kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala.
Sebagai contoh ialah peristiwa yang diriwayatkan oleh 'Amir bin Sa'ad.
"Sa'ad mendengar seorang laki-laki memaki 'Ali, Thalhah dan
Zubair. Ketika dilarangnya, orang itu tak hendak menurut. Maka katanya, 'Kalau
begitu saya do'akan kamu kepada Allah' Ujar laki-laki itu, 'Rupanya kamu hendak
menakut-nakuti aku, seolah-olah kamu seorang Nabi.' Maka Sa'ad pun pergi wudlu
dan shalat dua raka'at. Lalu diangkatlah kedua tangannya, katanya, 'Ya Allah,
kiranya menurut ilmu-Mu laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah
beroleh kebaikan dari-Mu, dan tindakan mereka itu mengundang amarah murka-Mu,
maha mohon dijadikan hal itu sesuatu pertanda dan suatu pelajaran...!'"
"Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari salah satu
pekarangan rumah, muncul seekor unta liar dan tanpa dapat dibendung masuk ke
dalam lingkungan orang banyak seolah-olah ada yang dicarinya. Lalu diterjangnya
laki-laki tadi dan dibawanya ke bawah kakinya, serta beberapa lama menjadi
bulan-bulanan injakan dan sepakannya hingga akhirnya tewas menemui
ajalnya..!"
Kenyataan ini pertama kali mengungkapkan kebeningan jiwa,
kebenaran iman dan keikhlasannya yang mendalam. Begitu pula Sa'ad, jiwanya
adalah jiwa merdeka, keyakinannya keras membaja serta keikhlasannya dalam dan
tidak bernoda. Dan untuk menopang ketaqwaannya ia selalu memakan yang halal,
dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat.
Dalam kehidupan akhirnya Sa'ad termasuk Kaum Muslimin yang
kaya dan berharta. Waktu wafat, ia meninggalkan kekayaan yang tidak sedikit.
Tapi kalau biasanya harta banyak dan harta halal jarang sekali dapat terhimpun;
maka di tangan Sa'ad hal itu telah terjadi. Ia dilimpahi harta yang banyak,
yang baik dan yang halal sekaligus. Di samping itu ia dapat dijadikan seorang
mahaguru pula dalam soal membersihkan harta. Dan kemampuannya dalam
mengumpulkan harta dari barang bersih lagi halal, diimbangi bahkan mungkin
diatasi oleh kesanggupan menafqahkannya di jalan Allah.
Ketika Hajji Wada', Sa'ad ikut bersama Raisulullah saw.
Kebetulan ia jatuh sakit, maka Rasulullah datang menengoknya. Tanya Sa'ad,
"Wahai Rasulullah, saya punya harta dan ahli warisku hanya seorang puteri
saja. Bolehkah saya shadaqahkan dua pertiga hartaku?" "Tidak,"
jawab Nabi. "Kalau begitu, separohnya?" tanya Sa'ad pula.
"Jangan," ujar Nabi. "Jadi, sepertiganya?"
"Benar," ujar Nabi, "Dan sepertiga itupun sudah banyak. Lebih
baik anda meninggalkan ahli waris dalam keadaan mampu daripada membiarkannya
dalam keadaan miskin dan menadahkan tangannya kepada orang lain. Dan setiap
nafqah yang anda keluarkan dengan mengharap keridlaan Allah, pastilah akan
diberi ganjaran, bahkan walau sesuap makanan yang anda taruh di mulut isteri
anda!" Beberapa lama Sa'ad hanya mempunyai seorang putri. Tetapi setelah
peristiwa di atas, ia beroleh lagi beberapa orang putera.
Karena takutnya kepada Allah, Sa'ad sering menangis. Jika
didengarnya Rasulullah berpidato dan menasihati ummat, air matanya bercucuran
hingga membasahi haribaannya. Ia adalah seorang shahabat yang diberi ni'mat
taufiq dan diterima ibadahnya. Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang
duduk-duduk bersama para shahabat, tiba-tiba beliau menatap dan menajamkan
pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu bisikan atau
kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para shahabat, sabdanya,
"Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang laki-laki penduduk
surga."
Para shahabat pun nengok kiri kanan dan
ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang berbahagia yang beruntung
beroleh taufiq dan karunia itu? Dan tidak lama antaranya muncullah di hadapan
mereka Sa'ad bin Abi Waqqash. Selang beberapa lama, Abdullah bin 'Amr bin 'Ash
datang kepadanya meminta jasa baiknya dan mendesak agar menunjukkan kepadanya
jenis ibadah dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang
menyebabkannya berhak menerima ganjaran tersebut yang telah diberitakan
sehingga menjadi daya tarik untuk mengerjakannya. Maka ujar Sa'ad, "Tak
lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tak pernah
menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorangpun di antara Kaum
muslimin!"
Nah, itulah dia Singa yang Selalu Menyembunyikan Kukunya yang
diungkapkan oleh Abdurrahman bin 'Auf. Dan inilah tokoh yang dipilih Umar untuk
memimpin pertempuran Qadisiyah yang dahsyat itu! Kenapa memilihnya untuk
melaksanakan tugas yang paling rumit yang sedang dihadapi Islam dan Kaum
Muslimin, karena keistimewaannya terpampang jelas di hadapan Amirul Mu'minin.
·
Ia
adalah orang yang maqbul do'anya, jika ia memohon diberi kemenangan oleh Allah,
pastilah akan dikabulkan-Nya.
·
Ia
seorang yang hati-hati dalam makan, terpelihara lisan dan suci hatinya.
·
Salah
seorang anggota pasukan berkuda di perang Badar, di perang Uhud, pendeknya di
setiap perjuangan bersenjata yang diikutinya bersama Rasulullah saw.
·
Dan
satu lagi yang tak dapat dilupakan oleh Umar, suatu keistimewaan yang tak dapat
diabaikan harga, nilai dan kepentingannya, serta harus dimiliki oleh orang yang
hendak melakukan tugas penting, yaitu kekuatan dan ketebalan iman.
Umar tidak lupa akan kisah Sa'ad dengan ibunya sewaktu ia
masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Ketika itu segala usaha ibunya untuk
membendung dan menghalangi puteranya dari Agama Allah mengalami kegagalan. Maka
segala jalan yang tak dapat tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa'ad dan
akan membawanya kembali ke pangkuan agama berhala dan kepada kaum kerabatnya.
Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum sampai Sa'ad bersedia kembali
ke agama nenek moyang dan kaumnya. Rencana itu dilaksanakannya dengan tekad
yang luar biasa, ia tak hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir
menemui ajalnya. Tetapi Sa'ad tidak terpengaruh oleh hal tersebut, bahkan ia tetap
pada pendiriannya, ia tak hendak menjual Agama dan keimanannya dengan
sesuatupun, bahkan walau dengan nyawa ibunya sekalipun.
Ketika keadaan ibunya telah demikian gawat beberapa orang
keluarganya membawa Sa'ad kepadanya untuk menyaksikannya kali yang terakhir,
dengan harapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat ibunya dalam sekarat.
Sesampainya di sana,
Sa'ad menyaksikan suatu pemandangan yang amat menghancurkan hatinya yang
bagaikan dapat menghancurkan baja dan meluluhkan batu karang. Tapi keimanannya
terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang mana pun juga.
Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya dan dikatakannya dengan suara keras agar
kedengaran olehnya.
"Demi Allah ketahuilah wahai ibunda, seandainya bunda
mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah anak anda akan
meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga! Maka terserahlah
kepada bunda, apakah bunda akan makan atau tidak!"
Akhirnya ibunya mundur teratur, dan turunlah wahyu menyokong
pendirian Sa'ad serta mengucapkan selamat kepadanya, sebagai berikut, "Dan
seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu
tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya!"
(Luqman: l5)
Nah, tidakkah ini betul-betul singa yang menyembunyikan
kukunya? Jika demikian halnya, pantaslah Amirul Mukminin dengan hati tenang
memancangkan panji-panji Qadisiyah ditangan kanannya, dan mengirimnya untuk
menghalau pasukan Persi yang tidak kurang jumlahnya dari seratus ribu prajurit yang
terlatih dan diperlengkapi dengan senjata dan alat pertahanan yang paling
ditakuti dunia waktu itu, dipimpin oleh otak-otak perang yang paling jempol,
dan ahli-ahli siasatnya yang paling cerdik dan licik.
Memang, kepada tentara musuh yang menakutkan inilah Sa'ad
datang dengan membawa tigapuluh ribu mujahid tidak lebih, di tangan
masing-masing tergenggam panah dan tumbak. Hanya semata-mata panah dan tumbak,
tetapi dalam dada menyala kemauan dari Agama baru, yang membuktikan keimanan,
kehangatan, serta kerinduan yang luar biasa terhadap maut dan mati syahid!
Dan kedua pasukan itupun bertemulah. Tetapi belum, mereka
belum lagi bertempur. Di sana
Sa'ad masih menunggu bimbingan dan pengarahan dari Amirul Mu'minin Umar. Inilah
surat Umar yang
memerintahkannya segera berangkat ke Qadisiyah, yang merupakan pintu gerbang
memasuki Persi, ditancapkannya dalam hatinya kalimat berharga yang semuanya
merupakan petunjuk dan cahaya.
"Wahai Sa'ad bin Wuhaib! Janganlah anda terpedaya di
hadapan Allah, mentang-mentang dikatakan bahwa anda adalah paman dan shahabat
Rasulullah! Sungguh, tak ada hubungan keluarga antara seseorang dengan Allah
kecuali dengan mentaati-Nya! Semua manusia baik yang mulia maupun yang hina,
pada pandangan Allah serupa tidak berbeda. Allah Tuhan mereka, sedang mereka
hamba-Nya. Mereka berlebih berkurang dalam kesehatan, dan akan beroleh karunia
yang tersedia di sisi Allah dengan ketaatan."
"Maka perhatikanlah segala sesuatu yang pernah anda
lihat pada Rasulullah saw. semenjak ia diutus sampai meninggalkan kita dan
pegang teguhlah, karena itulah yang harus diikuti!" Kemudian katanya pula,
"Tulislah kepadaku segala hal-ikhwal tuan-tuan, bagaimana kedudukan
tuan-tuan, dan di mana pula posisi musuh terhadap tuan-tuan, terangkan
sejelas-jelasnya, hingga seolah-olah aku menyaksikan sendiri keadaan
tuan-tuan." Sa'ad pun menulis surat
kepada Amirul Mu'minin dan menuliskan segala sesuatu, hingga hampir saja
diterangkannya tempat dan posisi setiap prajurit secara terperinci.
Sa'ad telah sampai di Qadisiyah, sementara seluruh tentara
dan rakyat Persia
berhimpun, sesuatu hal yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Kendali
pimpinannya dipegang oleh panglimanya yang ulung dan paling terkenal, yaitu
Rustum. Sebagai balasan surat
dari Sa'ad yang baru dikirimnya, Amirul Mukminin menulis.
"Sekali-kali janganlah anda gentar mendengar berita dan
persiapan mereka! Bermohonlah kepada Allah dan tawakkallah kepada-Nya! Dan
kirimlah sebagai utusan, orang-orang yang cerdas dan tabah untuk menyeru mereka
ke jalan Allah. Dan tulislah surat
kepadaku setiap hari." Kembali Sa'ad mengirim surat kepada Amirul Mu'minin, menyampaikan
bahwa Rustum telah menduduki Sabath dengan mengerahkan pasukan gajah dan
berkudanya dan mulai bergerak menuju Kaum Muslimin. Balasan dari Umar datang
yang isinya memberi petunjuk dan menabahkan hati Sa'ad.
Sa'ad bin Abi Waqqash seorang anggota pasukan berkuda yang
ulung dan gagah berani, paman Rasulullah dan termasuk golongan yang mula
pertama masuk Islam, pahlawan dari berbagai perjuangan bersenjata, pancungan
dan panahnya yang tak pernah meleset, sekarang tampil mengepalai tentaranya
dalam menghadapi salah satu peperangan terbesar dalam sejarah, tak ubahnya bagi
seorang prajurit biasa! Baik kekuatan maupun kedudukannya sebagai pemimpin,
tidak mampu mempengaruhi dan memperdayakan dirinya untuk mengandalkan
pendapatnya semata.
Tetapi ia selalu menghubungi Amirul Mukminin di Madinah yang
jaraknya demikian jauh, dengan mengirimnya sepucuk surat tiap hari untuk bermusyawarah, dan
bertukar pendapat, padahal pertempuran besar itu telah hampir berkecamuk.
Sebabnya tidak lain, ialah karena Sa'ad ma'lum bahwa di Madinah, Umar tidaklah
mengemukakan pendapatnya semata atau mengambil keputusan seorang diri, tetapi
tentulah ia akan bermusyawarah dengan orang-orang di sekelilingnya dan dengan
shahabat-shahabat utama Rasulullah. Dan bagaimana juga gawatnya suasana perang,
Sa'ad tak hendak kehilangan baroqah dan manfa'atnya musyawarah, baik bagi
dirinya maupun bagi tentaranya, apalagi ia tahu benar bahwa di pusat komando,
itu pimpinannya langsung dipegang Umar al-Faruk, pembangkit ilham atau
inspirasi agung.
Pesan dari Umar dilaksanakan oleh Sa'ad. Dikirimnya
serombongan di antara shahabat-shahabatnya sebagai utusan kepada Rustum
panglima tentara Persia
untuk menyerunya iman kepada Allah dan Agama Islam. Soal jawab di antara mereka
dengan Panglima Persi itu berlangsung lama, dan akhirnya mereka tidak
diperbolehkan lagi berbicara, karena salah seorang di antara mereka mengatakan.
"Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan
hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian
terhadap Allah Yang Maha Esa, dari kesempitan dunia kepada keluasaannya, dan
dari kedhaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa-siapa yang bersedia
menerima itu dari kami, kami terima pula kesediaannya dan kami biarkan mereka.
Tetapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai
apa yang telah dijanjikan Allah."
"Apa janji yang telah dijanjikan Allah itu?" tanya
Rustum. Jawab pembicara, "Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan
bagi yang masih hidup." Para utusan
kembali kepada panglima pasukan Islam Sa'ad dan menyampaikan bahwa tak ada
pilihan lain daripada perang. Dan airmata Sa'ad berlinang-linang. Ia berharap
seandainya saat pertempuran itu dapat diundurkan atau dimajukan sedikit waktu.
Ketika itu ia sedang sakit parah hingga ia sulit untuk bergerak.
Bisul-bisul bertonjolan di sekujur tubuhnya, hingga ia tak
dapat duduk, apalagi akan menaiki punggung kudanya dan menerjuni pertempuran
yang sengit berkuah darah! Seandainya saat pecah perang itu terjadi sebelum ia
jatuh sakit, atau sesudah bisul-bisul itu meletus dan sembuh, pastilah ia akan
menunjukkan prestasi tinggi. Tetapi tidak, Rasulullah saw telah mengajarkan
kepada mereka supaya tidak mengatakan "seandainya", karena kata kata
itu menunjukkan kelemahan, sedang orang Mukmin yang kuat tidak kehabisan akal
dan tidak pernah lemah!
Ketika itu bangkitlah singa yang menyembunyikan kukunya itu,
lalu berdiri dihadapan tentara menyampaikan pidato dengan tak lupa mengutip
ayat mulia berikut ini, "Bismillahirrahmanirrahim. Telah Kami cantumkan
dalam Zabur setelah sebelumnya Kami catat dalam (Lauh Mahfudh) peringatan bahwa
Bumi itu diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shalih." (Al-Anbiya: l05)
Setelah menyampaikan pidatonya Sa'ad melakukan shalat dhuhur
bersama tentaranya, kemudian sambil menghadap kepada mereka, ia mengucapkan
takbir empat kali, "Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar..
Allaahu Akbar." Alampun gemuruh dan bergema dengan suara takbir, dan
sambil mengulurkan tangannya kemuka bagai anak panah yang sedang melepas laju
menunjuk ke arah musuh, Sa'ad berseru kepada anak buahnya, "Ayolah maju
dengan barkat dari Allah!"
Dengan menabahkan diri menanggung sakit yang dideritanya,
Sa'ad naik ke anjung rumah yang ditinggalinya dan yang diambilnya sebagai
markas komandonya. Sambil telungkup di atas dadanya yang dialasi bantal
sementara pintu anjung itu terbuka lebar. Sedikit saja serangan dari
orang-orang Persi ke rumah itu, akan menyebabkan panglima Muslimin jatuh ke
tangan mereka, hidup atau mati. Tetapi ia tidak gentar dan tidak merasa takut.
Bisul-bisul pecah berletusan, tetapi ia tidak perduli, hanya terus berseru dan
bertakbir serta mengeluarkan perintah kepada anak buahnya.
"Majulah ke kanan..." dan kepada yang lain,
"Tutup pertahanan sebelah kiri... Awas di depanmu hai Mughirah, ke
belakang mereka hai Jarir.., pukul hai Nu'man..., serbu hai Asy'ats.., hantam
hai Qa'qa'..., majulah semua hai shahabat-shahabat Muhammad saw...!"
Suaranya yang berwibawa penuh dengan kemauan dan semangat baja, menyebabkan
masing-masing prajurit itu berubah menjadi kesatuan yang utuh.
Maka berjatuhanlah tentara Persi, tak ubah bagai lalat-lalat
yang berkaparan, dan rubuhlah bersama mereka keberhalaan dan pemujaan api! Dan
setelah melihat tewasnya panglima besar dan prajurit-prajurit pilihan mereka,
sisa-sisa musuh tunggang langgang melarikan diri. Mereka dikejar dan dihalau
oleh tentara Islam sampai ke Nahawand lalu ke Mada-in. Ibu kota itu mereka masuki untuk merampas kursi
singgasana dan mahkota Kisra yang menjadi ambang keberhalaan.
Di pertempuran Mada-in Sa'ad mencapai prestasi tinggi.
Pertempuran ini terjadi kira-kira dua setengah tahun setelah pertempuran
Qadisiyah, sementara perang berlangsung secara kecil-kecilan antara Persi dan
Kaum Muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi ini berhimpun di kota-kota
Mada-in saja, bersiap-siap untuk menghadapi pertempuran terakhir dan
menentukan.
Sa'ad menyadari bahwa situasi medan dan musim menguntungkan
pihak penentang Islam, karena antara pasukannya dan Mada-in terbentang sungai
Tigris yang lebar, alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap.
Walaupun demikian dengan teguh hati ia tetap memutuskan untuk memulai serangan
umum itu pada waktu itu juga, dengan perhitungan bahwa mental pasukan musuh
sedang menurun.
Nah, di antaranya peristiwa inilah yang membuktikan bahwa,
Sa'ad betul-betul sebagai dilukiskan oleh Abdurrahman bin 'Auf, singa yang
menyembunyikan kukunya. Keimanan Sa'ad dan kepekatan hatinya akan tampak
menonjol ketika menghadapi bahaya, hingga dapat mengatasi barang mustahil
berkat keberanian yang luar biasa.
Demikianlah Sa'ad mengeluarkan perintah kepada pasukannya,
untuk menyeberangi sungai Tigris, dan disuruhnya
menyelidiki yang dangkal dari sungai yang dapat dijadikan tempat penyeberangan
ini. Dan akhirnya mereka menemukan tempat tersebut, walaupun untuk
menyeberanginya tidak luput dari bahaya yang mengancam. Sebelum tentara memulai
penyeberangan, panglima besar Sa'ad menyadari pentingnya pengamanan pinggiran
seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan
pengawasan musuh.
Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara, Pertama yang
dinamakannya Kompi Sapu Jagat, sebagai komandannya diangkatnya 'Ashim bin 'Amr.
Dan yang kedua disebutnya Kompi Gerak Cepat, sebagai pemimpinnya diangkatnya
Qa'qa bin Amr. Adapun tugas dari kedua kompi ini ialah menerjuni bahaya dan
menetas jalan yang aman menuju pinggir sebelah musuh dan melindungi induk
pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang.
Dan mereka telah menunaikan tugas itu dengan kemahiran yang
mena'jubkan. Hingga siasat yang dilakukan Sa'ad ketika itu mencapai hasil yang
mengagumkan bagi para ahli sejarah, bahkan bagi diri Sa'ad bin Abi Waqqash
sendiri. Salman al-Farisi, yakni teman dan kawan seperjuangannya dalam
pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai.
Ia menepukkan kedua belah tangannya karena takjub dan bangga, katanya.
"Agama Islam masih baru. Tetapi lautan telah dapat
mereka taklukkan sebagai halnya daratan telah mereka kuasai. Demi Allah yang
nyawa Salman berada dalam tangan-Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan
selamat daripadanya berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya
berbondong-bondong!"
Dan benarlah apa yang dikatakannya itu. Sebagaimana mereka
telah terjun ke dalam sungai gelombang demi gelombang, demikianlah pula mereka
keluar dari dalamnya dan mencapai seberang sana gelombang demi gelombang pula. Tak
seorang pun dari mereka kehilangan prajurit, bahkan tak sedikit pun tentara
Persi yang mampu mengunjukkan giginya! Mangkok tempat minumannya seorang
prajurit jatuh ke dalam air. Maka ia tak ingin jadi satu-satunya orang yang
kehilangan barang waktu penyeberangan itu.
Kepada teman-temannya diserukannya agar menolongnya untuk
mendapatkan barang itu kembali. Kebetulan suatu ombak besar melemparkan mangkok
itu ke dekat rombongan hingga dapat mereka pungut. Salah satu riwayat tentang
sejarah melukiskan bagaimana dahsyatnya suasana ketika penyeberangan sungai Tigris itu, katanya.
"Sa'ad memerintahkan Kaum Muslimin agar membaca,
'Hasbunallaahu wa ni'mal wakiil - Cukuplah bagi kita Allah, dan Dia-lah
sebaik-baik pemimpin.' Lalu dikerahkanlah kudanya menerjuni sungai yang diikuti
oleh orang-orangnya, sehingga tak seorang pun di antara anggota pasukan yang
tinggal di belakang. Maka berjalanlah mereka dalam air, tak ubah bagai berjalan
di darat juga, hingga dari pinggir yang satu ke pinggir lainnya telah dipenuhi oleh
prajurit, dan permukaan air tak keliatan lagi disebabkan amat banyaknya anggota
angkatan berkuda serta pasukan pejalan kaki."
Orang-orang bercakap-cakap sesamanya ketika berada dalam air,
seolah-olah mereka sedang bercakap-cakap di darat. Sebabnya tidak lain karena
mereka merasa aman tenteram, serta percaya akan ketentuan Allah dan
pertolongan-Nya, akan janji dan bantuan-Nya. Tatkala Sa'ad diangkat Umar
sebagai amir wilayah Irak, ia mulai melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah
diperbesar, dan diumumkanlah hukum Islam serta dilaksanakan di daerah yang luas
dan lebar itu.
Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa'ad sebagai wali
negerinya kepada Amirul Mukminin, rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh
tabi'at yang mudah dihasut, cepat resah, gelisah dan suka memberontak, hingga
mereka mengemukakan tuduhan yang bukan-bukan dan mentertawakan. Kata mereka,
"Sa'ad tidak baik shalatnya..." Mendengar itu Sa'ad hanya tertawa
terbahak-bahak, ujarnya, "Demi Allah, yang saya lakukan hanyalah mengerjakan
shalat bersama mereka sebagai shalat Rasulullah, yaitu memanjangkan dua raka'at
yang mula-mula dan memendekkan dua raka'at yang akhir."
Sa'ad dipanggil Umar ke Madinah untuk menghadap. Sa'ad tidak
marah, bahkan segera dipenuhi panggilan itu secepatnya. Setelah beberapa lama,
Umar bermaksud untuk mengembalikannya ke Kufah, tapi sambil tertawa Sa'ad
menjawab, "Apakah anda hendak mengembalikan saya kepada kaum yang menuduh
bahwa shalat saya tidak baik?" Demikianlah ia memilih tinggal di Madinah.
Ketika Amirul Mukminin dicederai orang, dipilihnyalah enam
orang di antara shahabat-shahabat Rasulullah saw yang akan mengurus soal
pemilihan khalifah baru, dengan mengemukakan alasan bahwa keenam orang yang
dipilihnya itu adalah terdiri dari orang-orang yang diridlai Rasulullah saw
sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah.
Maka di antara shahabat yang berenam itu terdapatlah Sa'ad
bin Abi Waqqash. Bahkan dari kalimat-kalimat Umar yang akhir terdapat kesan
bahwa seandainya ia hendak memilih salah seorang di antara mereka, maka
pilihannya akan jatuh pada Sa'ad. Sewaktu memberi wasiat dan mengucapkan
selamat perpisahan dengan shahabat-shahabatnya, Umar berkata, "Jika
khalifah dijabat oleh Sa'ad, demikianlah sebaiknya. Dan seandainya dijabat oleh
lainnya, hendaklah ia menjadikan Sa'ad sebagai pendampingnya."
Sa'ad mencapai usia lanjut dan tibalah saat terjadinya fitnah
besar. Sa'ad tak hendak mencampurinya bahkan kepada keluarga dan
putera-puteranya dipesankan agar tidak menyampaikan suatu berita pun mengenai
hal itu kepadanya. Pada suatu ketika perhatian orang sama-sama tertuju
kepadanya, dan anak saudaranya yang bernama Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqash
datang mendapatkannya, seraya berkata, "Paman, di sini telah siap seratus
ribu bilah pedang, yang menganggap bahwa pamanlah yang lebih berhak mengenai
urusan khilafah ini!"
Ujar Sa'ad, "Dari seratus ribu bilah pedang itu saya
inginkan sebilah pedang saja, jika saya tebaskan kepada orang Mu'min maka
takkan mempan sedikit pun juga. Tetapi, bila saya pancungkan kepada orang kafir
pastilah putus batang lehernya." Mendengar jawaban itu anak saudaranya
maklum akan maksudnya dan membiarkannya dalam sikap damai dan tak hendak
bercampur tangan.
Dan tatkala akhirnya khilafah itu jatuh ke tangan Mu'awiyah
dan kendali kekuasaan tergenggam dalam tangannya, ditanya kepada Sa'ad,
"Kenapa anda tidak ikut berperang di pihak kami?" Ujarnya, "Saya
sedang lewat di suatu tempat yang dilanda taufan berkabut gelap. Maka kataku,
'Hai Saudara.., hai saudaraku!' Lalu saya hentikan kendaraan menunggu jalan
terang kembali."
Kata Mu'awiyah, "Bukankah dalam al-Quran tak ada, 'Hai
saudara! hai saudara!' Hanya firman Allah Ta'ala, 'Jika di antara orang-orang
Mukmin ada dua golongan yang berbunuhan, maka damaikanlah mereka! Seandainya
salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka
perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah
Allah,' (Al-Hujurat: 9)"
"Maka anda bukanlah di pihak yang aniaya terhadap pihak
yang benar, dan bukan pula di pihak yang benar terhadap golongan yang
aniaya." Sa'ad menjawab sebagai berikut, "Saya tak hendak memerangi
seorang laki-laki (maksudnya Ali) yang mengenai dirinya Rasulullah pernah
bersabda, "Engkau di sampingku, tak ubahnya seperti kedudukan Harun di samping
Musa, tetapi (engkau bukan Nabi) tak ada lagi Nabi sesudahku!"
Suatu hari pada tahun 54 H, yakni ketika usia Sa'ad telah
lebih dari 80 tahun, ia sedang berada di rumahnya di 'Aqiq, sedang bersiap-siap
hendak menemui Allah Ta'ala. Saatnya yang akhir itu diceritakan puteranya
kepada kita sebagai berikut, "Kepala bapakku berada di pangkuanku ketika
ia hendak meninggal itu. Aku menangis, maka katanya, 'Kenapa kamu menangis
wahai anakku? Sungguh Allah tiada akan menghukumku, dan sesungguhnya aku termasuk
salah seorang penduduk surga...!'"
Kekebalan imannya tak tergoyahkan oleh apapun juga, bahkan
tidak oleh goncangan maut dan kengeriannya. Bukankah Rasulullah saw. telah
menyampaikan kabar gembira kepadanya, sedang ia iman dan percaya penuh akan
kebenaran Rasulullah saw itu. Jadi apa yang akan ditakutkannya lagi?
"Sungguh, Allah tiada akan menyiksaku, dan sungguh aku termasuk penduduk
surga...!"
Hanya ia hendak menemui Allah dengan membawa kenang-kenangan
yang paling manis dan mengharukan, yang telah menghubungkan dengan Agamanya dan
mempertemukan dengan Rasul-Nya. Itulah sebabnya ia memberi isyarat ke arah peti
simpanannya, yang ketika mereka buka dan keluarkan isinya, ternyata sehelai
kain tua yang telah usang dan lapuk. Disuruhlah keluarganya mengafani mayatnya
nanti dengan kain itu, katanya.
"Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar
dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan
seperti pada hari ini." Memang, kain usang yang telah lapuk itu tak dapat
dianggap sebagai kain biasa! Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di
puncak kehidupan tinggi dan panjang yang dilalui pemiliknya dengan tulus dan
beriman serta gagah berani.
Dan sosok tubuh dari salah seorang yang terakhir meninggal di
antara orang-orang Muhajirin ini dipikul di atas pundak orang-orang yang
membawanya ke Madinah, untuk ditempatkan dengan aman di dekat sekelompok
tokoh-tokoh suci dari para shahabat yang telah mendahuluinya menemui Allah, dan
jasad-jasad mereka yang dipenuhi rasa rindu itu mendapatkan tempatnya di bumi
dan tanah Baqi'.
Selamat jalan wahai Sa'ad...! Selamat jalan wahai pahlawan
Qadisiyah, pembebas Mada-in dan pemadam api pujaan di Persi untuk
selama-lamanya...!
THALHAH BIN UBAIDILLAH
“Pribadi yang
Pemurah dan Dermawan”
Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita
contoh dan kita teladani. Dalam hidupnya ia mempunyai tujuan utama yaitu
bermurah dalam pengorbanan jiwa. Thalhah merupakan salah seorang dari delapan
orang yang pertama masuk Islam, dimana pada saat itu orang bernilai seribu
orang. Sejak awal keislamannya sampai akhir hidupnya dia tidak pernah
mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Ia juga dikenal sebagai orang jujur,
tidak pernah menipu apalagi berkhianat. Thalhah masuk Islam melalui anak
pamannya, Abubakar Assidiq Ra.
Awal Masuk Islam
Dengan disertai Abubakar Assiddiq, Thalhah pergi menemui
Rasulullah SAW. Setelah berhasil jumpa dengan Rasulullah SAW, Thalhah
mengungkapkan niatnya hendak ikut memeluk Dinul haq, Islam. Maka Rasulullah SAW
menyuruhnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menyatakan keislamannya
di hadapan Muhammad SAW, Thalhah dan Abubakar Ra pun pergi. Tapi ditengah jalan
mereka dicegat oleh Nofel bin Khuwailid yang dikenal dengan "Singa
Quraisy", yang terkenal kejam dan bengis. Nofel kemudian memanggil
gerombolannya untuk menangkap mereka. Ternyata Thalhah dan Abubakar tidak hanya
ditangkap saja. Mereka diikat dalam satu tambang lalu dipukuli. Semua itu
dilakukan Nofel sebagai siksaan atas keislaman Thalhah. Oleh karena itu Thalhah
dan Abubakar Ra dijuluki "Alqorinan" atau "dua serangkai".
Thalhah adalah seorang lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi
kesulitan, kesakitan dan segala macam ujian lainnya. Ia seorang yang kokoh
mempertahankan pendirian meskipun ketika jaman jahiliah.
Pengorbanan Thalhah
kepada Rasulullah SAW
Bila diingatkan tentang perang Uhud, Abubakar Ra selalu
teringat pada Thalhah. Ia berkata, "Perang Uhud adalah harinya Thalhah.
Pada waktu itu akulah orang pertama yang menjumpai Rasulullah SAW. Ketika
melihat aku dan Abu Ubaidah, baginda berkata kepada kami: "Lihatlah
saudaramu ini." Pada waktu itu aku melihat tubuh Thalhah terkena lebih
dari tujuh puluh tikaman atau panah dan jari tangannya putus." Diceritakan
ketika tentara Muslim terdesak mundur dan Rasulullah SAW dalam bahaya akibat
ketidakdisiplinan pemanah-pemanah dalam menjaga pos-pos di bukit, di saat itu
pasukan musyrikin bagai kesetanan merangsek maju untuk melumat tentara muslim
dan Rasulullah SAW, terbayang di pikiran mereka kekalahan yang amat memalukan
di perang Badar. Mereka masing-masing mencari orang yang pernah membunuh
keluarga mereka sewaktu perang Badar dan berniat akan membunuh dan
memotong-motong dengan sadis. Semua musyrikin berusaha mencari Rasulullah SAW.
Dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat, mereka terus mencari
Rasulullah SAW. Tetapi kaum muslimin dengan sekuat tenaga melindungi Rasulullah
SAW, melindungi dengan tubuhnya dengan daya upaya, mereka rela terkena sabetan,
tikaman pedang dan anak panah. Tombak dan panah menghunjam mereka, tetapi
mereka tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati mereka berucap
dengan teguh, "Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau, ya Rasulullah".
Salah satu diantara mujahid yang melindungi Nabi SAW adalah Thalhah. Ia
berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia
melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya berdarah. Dipeluknya Beliau dengan
tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan
ke arah lawan yang mengelilinginya bagai laron yang tidak memperdulikan maut.
Alhamdulillah, Rasulullah selamat. Thalhah memang merupakan salah satu pahlawan
dalam barisan tentara perang Uhud. Ia siap berkorban demi membela Nabi SAW. Ia
memang patut ditempatkan pada barisan depan karena ALLAH menganugrahkan kepada
dirinya tubuh kuat dan kekar, keimanan yang teguh dan keikhlasan pada agama
ALLAH. Akhirnya kaum musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira Rasulullah SAW
telah tewas. Alhamdulillah, Rasulullah selamat walaupun dalam keadaan menderita
luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki bukit yang ada di ujung medan pertempuran.
Tangan, tubuh dan kakinya diciumi oleh Thalhah, seraya berkata, "Aku tebus
engkau Ya Rasulullah dengan ayah ibuku." Nabi SAW tersenyum dan berkata,
" Engkau adalah Thalhah kebajikan." Di hadapan para sahabat Nabi SAW
bersabda, " Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh ...." Yang
dimaksud nabi SAW adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah
mendapat julukan "Burung elang hari Uhud."
Thalhah Yang Dermawan
Pernahkah anda melihat sungai yang airnya mengalir terus
menerus mengairi dataran dan lembah ? Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia
adalah seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan.
Istrinya bernama Su'da binti Auf. Pada suatu hari istrinya melihat Thalhah
sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang istri
segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, " Uang yang
ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang
harus kulakukan ?" Maka istrinya berkata, "Uang yang ada ditanganmu
itu bagi-bagikanlah kepada fakir-miskin." Maka dibagi-bagikannyalah
seluruh uang yang ada ditangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeserpun. Assaib
bin Zaid berkata tentang Thalhah, katanya, "Aku berkawan dengan Thalhah
baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun
yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang
dan pangannya." Jaabir bin Abdullah bertutur, " Aku tidak pernah
melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta."
Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki "Thalhah si dermawan",
"Thalhah si pengalir harta", "Thalhah kebaikan dan
kebajikan".
Wafatnya Thalhah
Sewaktu terjadi pertempuran "Aljamal", Thalhah (di
pihak lain) bertemu dengan Ali Ra dan Ali Ra memperingatkan agar ia mundur ke
barisan paling belakang. Sebuah panah mengenai betisnya maka dia segera
dipindahkan ke Basra
dan tak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam ia wafat. Thalhah
wafat pada usia enam puluh tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basra. Rasulullah pernah
berkata kepada para sahabat Ra, "Orang ini termasuk yang gugur dan barang
siapa senang melihat seorang syahid berjalan diatas bumi maka lihatlah Thalhah.
Hal itu juga dikatakan ALLAH dalam firmanNya : "Di antara orang-orang
mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada
ALLAH, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya." (Al-Ahzaab:
23)
UMAR BIN KHATTAB
“Amirul Mukminin”
Tidak diragukan lagi, khalifah Umar
bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam
mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba
kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan
kekayaan negara. Bahkan Umar sering terlambat salat Jum'at hanya menunggu
bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.
Kebijaksanaan dan keadilan Umar ini
dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah SWT.
Sehingga jauh-jauh hari Umar sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia
wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan
pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat keridloan
Nabi SAW, ketika beliau akan wafat. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi
Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Azzubair ibnul Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan
'Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan
berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau AIlah
menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan
mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh
nabimu.
Karena ketinggian sikap hati-hati,
maka Umar sengaja tidak menunjukkan anak paman dan adik iparnya sendiri, yaitu
Said bin Zaid bin Amru bin Nufail. la khawatir orang lain menuduhnya karena dia
masih keluarga Umar, meskipun Said bin Zaid adalah salah seorang dari kesepuluh
orang yang memperoleh kabar gembira masuk surga.
Umar juga berpesan kepada
sahabatnya yang enam orang itu, agar putranya Abdullah menghadiri musyawarah,
tetapi ia tidak memiliki hak untuk dipilih. Kehadiran Abdullah untuk
mengutarakan pendapat, menyumbang saran saja. la tidak boleh diserahi kekuasaan
apapun. Disamping itu juga berpesan, agar selama sidang musyawarah, yang
menjadi imam salat adalah Shuhaib bin Sannan Arrumi sampai musyawarah itu usai.
Umar hanya mengangkat keenam orang
itu dan tidak menyertakan Ubaidah ibnu Jarrah (orang ke sepuluh yang
diberitakan masuk surga) karena ia telah wafat. la juga tidak mengangkat Said
bin Zaid (orang ke sembilan yang diberitakan masuk.surga), karena ia adalah
adik iparnya sendiri. Selain itu, Said tidak berminat memangku suatu jabatan
apapun. Dia hanya ingin menjadi tentara yang terjun ke kancah perang dan
perluasan dakwah. la bercita-cita gugur sebagai syahid di medan tempur dan Umar mengetahui hal itu.
Itulah gaya suksesi Umar bin Khattab, seorang
khalifah yang adil dan bijaksana. Kebijaksanaan Umar diakui masyarakat muslim,
yang menyatakan setelah Umar wafat, "Wahai Umar, engkau selalu meluruskan
segala sesuatu yang bengkok. Engkau memadamkan segala api fitnah dan
menghidup-hidupkan sunnah Nabi. Engkau meninggalkan dunia dengan bersih dan
engkau bebas dari segala aib dan cemar."
UTSMAN BIN AFFAN
“Kebaikannya Tidak Menghindarkannya Dari
Fitnah”
Utsman bin Affan ra, adalah seorang yang bertakwa, selalu
bersikap wara'. Tengah malam tak pernah ia sia-siakan. la memanfaatkan waktu
itu untuk mengaji Al-Quran dan setiap tahun ia menunaikan ibadah haji. Bila
sedang berzikir dari matanya mengalir air mata haru. la selalu bersegera dalam
segala amal kebajikan dan kepentingan umat. la juga dermawan dan penuh belas
kasih. la telah melaksanakan hijrah sebanyak dua kali, pertama ke Habasyah, dan
yang kedua ke Madinah. Laknat dan kutukan Allah bagi siapa saja yang membenci
Utsman ra.
Pada akhir tahun 34 hijriyah, pemerintahan Islam. dilanda
fitnah. Yang menjadi sasaran fitnah adalah Utsman ra sampai mengakibatkan
beliau terbunuh pada tahun berikutnya.
Fitnah yang keji datang dari Mesir berupa tuduhan-tuduhan
palsu yang dibawa oleh orang-orang yang datang hendak umrah pada bulan Rajab.
Ali bin Abi Thalib ra mati-matian membela Utsman dan
menyangkal tuduhan mereka. Ali menanyakan keluhan dan tuduhan mereka,
yang.segera di jawab oleh mereka, "Utsman telah membakar mushaf-mushaf,
shalat tidak diqasar sewaktu di Mekkah, mengkhususkan sumber air untuk
kepentingan dirinya sendiri dan mengangkat pejabat dari kalangan generasi muda.
la juga mengutamakan segala fasilitas untuk Bani Umayyah (golongannya) melebihi
orang lain."
Pada hari Jum'at, Utsman berkhutbah dan mengangkat tangannya
seraya berkata, "Ya Allah, aku beristighfar dan bertaubat kepadamu. Aku
bertaubat atas perbuatanku."
Ali ra menjawab, "Mushaf-mushaf yang dibakar ialah yang
mengandung perselisihan dan yang ada sekarang ini adalah yang disepakati
bersama kesahannya. Adapun salat yang tidak di qasar sewaktu di Mekkah, adalah
karena dia berkeluarga di Mekkah dan dia berniat tinggal di sana. Oleh karena itu salatnya tidak diqasar.
Adapun sumber air yang dikhususkan itu adalah untuk ternak sodakoh sampai
mereka besar, bukan untuk ternak unta dan domba miliknya sendiri. Umar juga
pernah melakukan ini sebelumnya. Adapun mengangkat pejabat dari generasi muda,
hal ini dilakukan semata-mata karena mereka mempunyai kemampuan di
bidang-bidang tersebut. Rasulullah juga pernah melakukan ini hal yang demikian.
Adapun dia mengutamakan kaumnya, Bani Umayyah, karena Rasulullah sendiri
menda-hulukan qurasy dari pada bani lainnya. Demi Allah kalau kunci surga di
tanganku, aku akan memasukkan Bani Umayyah ke surga."
Setelah mendengar penjelasan Ali ra umat Islam pulang dengan
rasa puas. Tapi para peniup fitnah terus melancarkan fitnahan-fitnahan dan
merencanakan makar jahatnya. Di antara mereka ada yang menyebarkan tulisan
dengan tanda tangan palsu dari pada sababat termuka yang menjelek-jelekkan
Utsman. Mereka juga menuntut agar Utsman dibunuh.
Fitnah kejipun terus menjalar dengan kejamnya, sebagian besar
umat termakan fitnahan-fitnahan tersebut hingga teriadinya pembunuhan atas
dirinya, setelah sebelumnya terkepung selama satu bulan di rumahnya. Peristiwa
inilah yang disebut dengan "Al Fitnah al Kubra" yang pertama, hingga
merobek persatuan umat Islam.
ZAID BIN
HARITSAH
“Satu-satunya
Shahabat yang Namanya Tercantum dalam Al-Qur'an”
Bapaknya bernama Abdul Uzza bin Imri' Al-Qais, ibunya bernama
Sa'di binti Tsa'laba. Ketika masih kecil, ia diajak ibunya menengok kampung.
Tiba-tiba datang pasukan Bani Al-Qayn menyerang kampung tersebut. Mereka juga
menawan serta membawa pergi Zaid. Kemudian ia dijual kepada Hakim bin Hizam,
dengan harga 400 dirham, yang kemudian dihadiahkan kepada bibinya, Khodijah
binti Khuwailid. Ketika Khodijah menikah dengan Rasulullah SAW, Zaid bin
Haritsah dihadiahkan kepada Rasulullah SAW.
Haritsah, bapak Zaid sedih kehilangan anaknya. Ketika
beberapa orang dari Ka'ab menunaikan haji, mereka melihat dan mengenal Zaik
sebagaimana Zaid mengenal mereka. Kepada mereka Zaid berkata : "Sampaikan
beberapa bait syairku ini kepada keluargaku, karena sesungguhnya aku mengerti
bahwa mereka sedih karena kehilanganku". Lalu ia melantunkan beberapa bait
syairnya. Setelah Haritsah mengetahui kabar anaknya, ia berangkat ke Mekkah
bersama Ka'ab bin Syarahil sebagai jaminan. Di hadapan Rasulullah SAW,
mengajukan permohonan agar anaknya, Zaid dibebaskan, dan ia akan memberikan
Ka'ab bin Syarahil sebagai jaminannya. Oleh Rasulullah SAW dikatakan bahwa
apabila Zaid memilih untuk ikut ayahnya, maka mereka tidak perlu memberikan
jaminan. Tetapi seandainya Zaid memilih untuk ikut bersama Rasulullah, sungguh
tidak ada paksaan untuk itu. Lalu dipanggillah Zaid. Dikatakan kepadanya :
"Apakah kamu mengenal mereka?" "Ya, ini bapakku dan ini
pamanku" jawabnya. Lalu Rasulullah SAW bersabda : "Aku telah
mengenalmu (Zaid), dan kau pun telah mengetahui kecintaanku kepadamu. Sekarang
pilihlah, aku atau mereka berdua". Dengan tegas Zaid menjawab : "Aku
sekali-kali tidak akan memilih orang selain Engkau (ya Rasulullah), Engaku
sudah kuanggap sebagai bapak atau pamanku sendiri".
Setelah itu, Rasulullah SAW mengumumkan kepada khalayak,
bahwa Zaid diangkat sebagai anaknya. Ia mewarisi Rasulullah SAW dan Rasulullah
SAW pun mewarisinya. Setelah mengetahui demikian, bapak dan paman Zaid pergi
dengan hati lapang. Zaid akhirnya masuk Islam, dan dinikahkan dengan Zainab
binti Jahsy. Ketika Zainab dicerai Zaid, ia dipersunting oleh Rasulullah SAW.
Maka tersebarlah gunjingan orang-orang Munafiq, bahwa Muhammad telah menikahi
anak perempuannya. Seketika itu turun ayat 40 surah Al-Ahzab yang membatalkan
'tabanni' (mengangkat anak angkat), sekaligus penjelasan bahwa anak angkat,
secara hukum tidak bisa dianggap sebagai anak kandung. Anak angkat tidak bisa
saling waris mewarisi dengan bapak angkatnya. Demikian pula, isteri yang telah
dicerai halal untuk dinikahi bapak angkatnya. Dalam ayat tersebut tercantum
langsung nama 'Zaid', yang dengan demikian, ia adalah satu-satunya shahabat
yang namanya tercantum dalam Al-Qur'an.
Zaid bin Haritsah r.a gugur sebagai syahid dalam perang
Mu'tah, pada Jumadik Awwal 8 H. Pada waktu itu usianya 55 tahun.
ZAINAB AL
KUBRA R.A.
“Cucu Wanita
Rasulullah yang Tabah”
ZAINAB AL KUBRA R.A. , Seorang wanita cucu Rasulullah SAW,
yang begitu tabah dan tetap tegar menghadapi ujian dan cobaan, demi kemuliaan
keturunan Rasulullah SAW.
Menulis tentang Sitti Fatimah Azzahra dengan meninggalkan
begitu saja kedua puterinya, rasanya memang kurang adil. Apalagi kalau yang
dibicarakan itu menyangkut puterinya yang bernanna Zainab Al-Kubra. Ia tercatat
dalam sejarah Islam sebagai wanita yang tabah dan gagah berani Seperti
diketahui, di samping kedua puteranya yang termasyhur itu, dalam perkawinannya
dengan Imam Ali r.a., Sitti Fatimah Azzahra juga diberkahi oleh Allah s.w.t.
dengan dua orang puteri. Mereka itu adalah Zainab Al-Kubra dan Zainab
Ash-Sugra. Bersama dengan Al-Hasan dan Al-Husain r.a., kedua wanita itu sudah
sejak masa anak-anak ditinggalkan untuk selamalamanya oleh ibundanya. Dalam usia
yang masih muda sekali ini, sesaat sebelum wafat Sitti Fatimah r.a. telah
berpesan khusus kepada Zainab Al-Kubra agar ia menjaga baik-baik kedua saudara
lelakinya itu.
Memang, beban yang terberat bagi Sitti Fatimah Azzahra
sebelum meninggal dunia rupanya adalah keempat anaknya yang masih kecil-kecil
itu. Dikisahkan bahwa sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Sitti
Fatimah r.a. tak dapat menahan kepedihan hatinya. Ia harus memenuhi panggilan
Ilahi pada usia yang begitu muda, 28 tahun. Sedangkan anak-anaknya belum satu
pun yang mencapai usia sepuluh tahun.
Sesudah itu pada usia masih remaja, bahkan masih anak-anak,
Zainab Al-Kubra sudah diserahi tanggung jawab untuk menjaga adik-adik dan
merawat kakak-kakaknya. Tidak banyak yang bisa diungkapkan mengenai peran masa
anak-anak yang dilakukan oleh kedua puteri Sitti Fatimah Azzahra itu.
Riwayat-riwayat hanya mengungkapkan kehidupan dan perkembangan Al Hasan dan Al
Husain r.a. Hal ini tidak perlu diherankan, karena dunia kehidupan Arab yang
keras jarang sekali mengedepankan peran seorang wanita. Jadi walaupun Zainab
Al-Kubra dan Zainab Ash Sugra termasuk dalam lingkungan keluarga sangat mulia
nama mereka jarang sekali ditonjolkan.
Baru beberapa tahun kemudian setelah Zainab Al Kubra
meningkat remaja, maka peranannya diungkapkan oleh para periwayat. Sejarah
akhirnya mencatat namanya dan mengakui peran penting yang dijalankan oleh
Zainab Al Kubra dalam melindungi kesinambungan generasi penerus keluarga RASUL
Allah s a w. Bagaimana pun juga, walau Zainab Al Kubra seorang wanita, tetapi
ada darah kemuliaan dan kesucian yang mengalir dalam tubuhnya. Sejak masa
anak-anak ia telah turut memikul tanggung jawab kehidupan rumahtangga Imam Ali
r.a. yang ditinggal wafat oleh Sitti Fatimah Azzahra. Zainab Al Kubra dengan
tekun dan tabah melaksanakan amanat yang ditinggalkan oleh bundanya sesaat
sebelum wafat. Dengan penuh tanggung jawab dirawatnya adik-adik dan kedua
kakaknya itu. Boleh dikatakan ia tak pernah berpisah jauh dari kedua saudara
lelakinya itu.
Tidak ada pengungkapan mengenai kelanjutan kehidupan Zainab
Ash-Sugra. Sedangkan tentang Zainab Al Kubra justru makin menonjol setelah
Al-Husain r.a. gugur di Karbala. Wanita inilah pada usia sudah lebih setengah
abad tanpa mengebal gentar sedikit pun sedia mati untuk menyelamatkan keturunan
langsung Rasul Allah s.a.w. Ia menjadi saksi hidup tentang siksaan yang dialami
oleh saudara lelakinya itu sampai Al-Husain r.a. meninggal dengan gagah berani.
ZUBAIR IBNUL
AWWAM
“Seorang
Bernilai Seribu Orang”
Antara Thalhah dan Azzubair adalah dua serangkai. Bila yang
seorang disebut maka yang kedua pun disebut. Mereka sama-sama beriman pada
tahun yang sama dan wafat dalam tahun yang sama pula. Kedua-duanya tergolong
kesepuluh orang yang "mubasyarin bil jannah".
Awal Masuk Islam
Azzubair masuk Islam dalam usia lima belas tahun dan ia hijrah dalam usia
delapan belas tahun sesudah menderita penganiayaan dan siksaan bertubi-tubi
karena mempertahankan keimanannya. Pamannya sendirilah yang menyiksanya. Azzubair
digulung ke dalam tikar, lalu kakinya digantung diatas dan dibawah kepalanya
ditaruh api yang membara. Pamannya berkata, "Kembali kamu kepada
penyembahan berhala !" Tapi Azzubair menjawab, "Saya tidak akan
kembali kafir lagi sama sekali."
Peperangan pertama
antara Syirik dan Iman
Azzubair adalah prajurit dakwah yang menyandang senjata untuk
melawan orang-orang yang menghendaki gugurnya dakwah Islamiah selagi dalam
kandungan. Kepahlawanannya telah tampak pertama kali pada waktu perang Badar.
Dalam peperangan itu, pasukan Quraisy menempatkan pendekarnya dibarisan
terdepan yang dipimpin oleh Ubaidah bin Said Ibnul Aash. Dia dikenal sebagi
seorang yang paling berani, paling pandai dalam menunggang kuda dan paling
kejam terhadap lawan. Kaum Quraisy sengaja menempatkannya di barisan terdepan
untuk menantang pahlawan-pahlawan berkuda kaum muslimin. Azzubair segera
memandang kearah Ubaidah. Ternyata seluruh tubuhnya berbalut senjata (baju
besi) sehingga sulit ditembus dengan senjata. Yang tampak dari Ubaidah hanya
kedua matanya saja. Azzubair berpikir bagaimana caranya mengalahkan musuhnya
yang berbaju besi itu dan ia menemukan cara yang jitu. Setelah siap, Azzubair
terjun kemedan tempur dan terjadilah perang tanding yang seru sekali. Dalam dua
kali putaran Azzubair mengarahkan lembingnya kemata Ubaidah dan berhasil
menusuk kedua mata itu sampai kebelakang kepalanya. Ubaidah, pendekar Quraisy
itu berteriak dan jatuh tersungkur tanpa gerak. Menyaksikan terbunuhnya Ubaidah
yang tragis ini, barisan kaum musyrikin ketakutan. Lembing milik Azzubair
kemudian diminta oleh Rasulullah SAW. Lembing itu kemudian berada ditangan
Abubakar, Umar, Utsman
, Ali dan Abdullah ibnu Azzubair meminta lembing itu untuk
disimpannya. Terbunuhnya pendekar Quraisy Ubaidah menambah semangat juang Umat
Islam dalam setiap peperangan dan mereka selalu dapat memenangkannya.
Rasulullah SAW sangat
mencintai Azzubair
Rasulullah SAW merasa bangga terhadap Azzubair, dan ia
bersabda : "Setiap nabi mempunyai pengikut pendamping yang setia(Hawari)
dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam." Kecintaan Rasulullah SAW kepada
Azzubair bukan hanya disebabkan ia anak bibi Rasulullah SAW tetapi karena
Azzubair memang seorang pemuda yang setia, ikhlas, jujur, kuat, berani,murah
tangan dan telah menjual diri dan hartanya kepada ALLAH. Dia adalah seorang
pengelola perdagangan yang berhasil dan hartawan, tapi hartanya selalu
diinfakan untuk perjuangan Islam.
Yang pertama Menyambut
Panggilan Jihad
Bila diserukan "Hayo berjihad fi Sabilillah", maka
ia akan segera menjadi orang pertama yang datang menyambut seruan itu. Oleh
karena itulah Azzubair selalu mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah
SAW. Selama hidupnya ia tidak pernah absen berjihad. Ketika kaum muslimin
mengepung perbentengan bani Quraidah yang kokoh dan sulit dikuasai, Azzubair
bersama Ali bin Abi Thalib menyerbu dengan memanjat benteng itu sehingga kaum
muslimin dapat memasuki dan menguasai benteng tersebut. Begitu pula kesigapan
Azzubair dalam menyambut seruan jihad pada perang Alahzaab dan peperangan
lainnya sehingga bila Rasulullah SAW melihatnya, Beliau tersenyum ridho dan
gembira, seraya bersabda : :Tiap nabi mempunyai kawan dan pembela setia(Hawari)
dan di antara hawariku adalah Azzubair.". Azzubair tercatat dalam
rombongan yang pernah hijrah ke negeri Habasyah sebelum hijrah ke Madinah.
Seorang Bernilai Seribu
Orang
Ketika Amru Ibnul Aash meminta bala bantuan tentara kepada
Amirul Mukminin, Umar Ibnul Khattab untuk memperkuat pasukan memasuki negeri
Mesir dan mengalahkan tentara Romawi yang kala itu menduduki Mesir, Umar Ra
mengirim empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan dan ia
juga menulis surat
yang isinya : Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat
orang sahabat yang terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah
anda siapa empat orang komandan itu ?, mereka adalah Azzubair Ibnul Awwam,
Ubadah Ibnu Assamit, Almiqdaad Ibnul Aswad dan Maslamah bin Mukhallid."
Ketika menghadapi benteng Babilion, kaum muslimin sukar membuka dan menguasainya.
Azzubair Ra memanjati dinding benteng dengan tangga. Lalu ia berseru "
Allahu Akbar" dan disambut dengan kalimat tahuid oleh pasukan yang berada
diluar benteng. hal ini membuat pasukan musuh gentar, panik dan meninggalkan
pos-pos pertahanan mereka sehingga Azzubair dan kawan-kawannya bergegas membuka
pintu gerbang maka tercapailah kemenangan yang gilang gemilang pada kaum
muslimin.
Wafatnya Azzubair Ra
Ketika terjadi pertempuran hari "Aljamal" antara
pasukan yand dipimpin Siti Aisyah Ra dengan pasukan Ali Ra, Azzubair bertemu
dengan Ali dan menyatakan dirinya tidak lagi memihak dan akan berusaha
mendamaikan kedua pasukan itu. Setelah itu maka diapun pergi. Tetapi dia
dibuntuti oelh beberapa orang yang menginginkan berlanjutnya fitnah dan perang.
Azzubair ditikam ketika sedang menghadap Allah (dalam keadaan menunaikan
shalat).


