KEUTAMAAN ILMU DARIPADA HARTA
Sepuluh
orang kaum Khawarij mendatangi Khalifah ke-IV, Ali bin Abi Thalib Ra. Mereka
mendatangi Khalifah karena ingin menanyakan sesuatu, di samping rasa iri
terhadap kepandaian khalifah, baik dalam ilmu agama maupun lainnya. Rasuluilah
Saw pernah bersabda: "Aku ini kotanya ilmu pengetahuan, dan Ali adalah
sebagai pintunya."
Sesampainya
mereka dihadapan Khalifah Ali, mereka diterima dengan ramah, dan Khalifah
menganggap mereka sebagai tamu terhormat.
Salah
seorang dari mereka membuka pertanyaan kepada Khalifah Ali: "Wahai Ali,
kami adalah sepuluh orang yang diutus oleh kaum kami untuk mengajukan
pertanyaan kepadamu, dan kami akan bergiliran bertanya kepadamu. Dan jawabanmu
nantinya akan kami bawa pulang kepada kaum kami."
Khalifah
Ali menjawab: "Baiklah kalau demikian. Dan apa yang akan kalian tanyakan
padaku?"
"Wahai
Ali, manakah yang lebih mulia, ilmu pegetahuan atau harta benda, dan terangkan
pula sebab-sebabnya?" tanya orang pertama.
"Ilmu
pengetahuan itu adalah warisan para nabi, sedangkan harta kekayaaan adalah
warisan Qarun, Syadad dan lain-lain. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan lebih
mulia daipada harta benda," jawab Khalifah Ali.
Kemudian
orang kedua memberikan pertanyaan: "Manakah yang lebih mulia ilmu
pengetahuan atau harta benda, dan jelaskan sebab-sebabnya?"
"Ilmu
lebih mulia daripada harta, karena ilmulah yang menjaga dan memelihara
pemiliknya, sedangkan harta yang empunyalah yang memelihara dan
menjaganya," jawab Khalifah Ali.
Setelah
orang pertama dan kedua selesai dijawab oleh Khalifah Ali, kemudian orang
ketiga, keempat, kelima, hingga orang kesepuluh mengajukan pertanyaan yang sama
seperti yang diajukan oleh orang pertama dan kedua.
Kepada
penanya ketiga khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena
orang yang berilmu banyak sahabatnya, sedangkan orang yang banyak hartanya
lebih banyak musuhnya."
Kepada
penanya keempat khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta,
karena ilmu bila disebarkan atau diajarkan akan bertambah sedangkan harta kalau
diberikan kepada orang lain akan berkurang."
Kepada
penanya kelima khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena
ilmu tidak dapat dicuri, sedangkan harta benda mudah dicuri dan dapat
lenyap."
Kepada
penanya keenam khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta, karena
ilmu tidak bisa binasa, sedangkan harta kekayaan dapat lenyap dan habis karena
masa dan usia."
Kepada
penanya ketujuh khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta,
karena ilmu tidak ada batasnya, sedangkan harta benda ada batasnya dan dapat
dihitung jumlahnya."
Kepada
penanya kedelapan khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta,
karena ilmu memberi dan memancarkan sinar kebaikan, menjernihkan pikiran dan
hati serta menenangkan jiwa, sedangkan harta kekayaan pada umumnya dapat
menggelapkan jiwa dan hati pemiliknya."
Kepada
penanya kesembilan khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia daripada harta,
karena orang yang berilmu mencintai kebajikan dan sebutannya mulia seperti si
'Alim, dan sebutan mulia lainnya. Sedangkan, orang yang berharta bisa melarat
dan lebih cenderung kepada sifat-sifat kikir dan bakhil."
Dan
kepada penanya kesepuluh khalifah menjawab: "Ilmu lebih mulia dan lebih
utama daripada harta kekayaan, karena orang yang berilmu lebih mendorong untuk
mencintai Allah. Sedangkan harta benda dapat membangkitkan rasa sombong,
congkak dan takabur."
Seusai
mendengarkan jawaban Khalifah Ali yang begitu cemerlang, kesepuluh orang kaum
Khawarij itu berdecak kagum, karena satu pertanyaan dapat dijawab dengan
sepuluh jawaban. Kemudian, mereka kembali kepada kaumnya dengan rasa puas, dan
bertambah yakin bahwa Khalifah Ali benar-benar sebagai pintu gerbangnya ilmu.
ASAL USUL KUMANDANG ADZAN
(
Sebagai panggilan shalat )
(
Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari )
Seiring
dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya
semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk
menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak
dapat dmusnahkan. Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang
menjadi penganutnya.
Demikian
pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran
agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang
ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya. Ketika orang-orang Islam
masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul
bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama`ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi
mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama.
Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap
kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat
pada waktunya. Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian
terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk
Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan
jalan keluarnya.
Pada
masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat.
Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing-masing menurut waktu dan
kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat
jama`ah dimulai.
Atas
timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu
cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil
orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang
menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada
tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu,
atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat
yang jauh. Ada
yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk
kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.
Saran-saran
diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju
bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu
adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi.
Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila
cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara
lain.
Lantas,
ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai
pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini
agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya.
Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud
mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb : "Ketika cara
memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku
aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku
dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual
lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.
Orang
tersebut malah bertanya," Untuk apa ?
Aku
menjawabnya,"Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil
kaum muslim untuk menunaikan sholat."
Orang
itu berkata lagi,"Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?"
Dan
aku menjawab " Ya !"
Lalu
dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang ," Allahu
Akbar,…Allahu Akbar….."
Ketika
esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi
itu kepada beliau. Dan beliau berkata,"Itu mimpi yang sebetulnya nyata.
Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu.
Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat
lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal."
Rupanya,
mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada
Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.
DELAPAN DIRHAM
Rasulullah
pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. Baju satu-satunya dan
itupun ternyata sudah usang. Baju yang setia menutup aurat beliau. meringankan
tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara. Baju yang tidak pernah
beristirahat.
Tetapi
beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus membeli baju?
Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah sebenarnya dapat saja
menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini. Tapi sayang, beliau tak mau
mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau, Allah dalam sekejap bisa mengubah
gunung dan pasir menjadi butir-butir emas yang berharga. Beliau tak sudi
berbuat demikian karena kasihnya kepada para fakir yang papa. siapakah yang
akan menjadi teladan jika bukan beliau..? Contoh untuk menahan derita, menahan
lapar dan dahaga, menahan segala coba dan uji Allah dengan kesabaran. Selalu
mensyukuri nikmat Allah berapa pun besarnya. Siapa lagi kalau bukan beliau yang
menyertai umatnya dalam menjalani iradat yang telah ditentukan Allah. Yaitu
kehidupan dalam jurang kedukaan dan kemiskinan. Siapa pula yang harus menghibur
mereka agar selalu bersabar dan rela dengan yang ada selain beliau? Juga siapa
pula yang harus menanamkan keyakinan akan pahala Allah kelak di akhirat jika
bukan beliau?
Yah,...hanya
beliaulah yang mampu menjalankan berbagai hal diatas. benar,...baliaulah
satu-satunya manusia yang mendapatkan amanat dari Allah untuk semua umat
manusia. Tugas yang lebih murni dan mulia daripada intan berlian serta butiran
emas yang lain. Lebih halus dari sutera serta lebih indah dari segala keindahan
yang dikenal manusia di dunia ini. lebih megah dari segala kedudukan dan
derajad kehidupan manusia yang katanya sudah megah.
"Semua
itu hanyalah merupakan kesenangan dunia sedang di sisi Allah yang paling baik
dan sebaik-baik tempat kembali"
Perjuangan
itu tidak mudah. bahkan sangat berat bagi beliau. Menegakkan yang hak hanya
dapat dicapai dengan penuh keimanan dan kekuatan. sabar dalam menghadapi setiap
malapetaka yang menimpa, bersyukur yang dilakukan dengan hati bersih. dalam
keadaan bagaimanapun, baik dalam duka maupun suka, bersyukur dan keimanan harus
selalu menyertai. Itulah pokok risalah yang dibawa Rasulullah saw.
Allah
Maha Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya terkasih kebingungan.
Rasulullah diberinya rezeki sebanyak delapan dirham. Bergegas beliau melangkah
ke pasar. Tentunya kita maklum. uang sekian itu dapat dibelikan apa. Apakah
cukup untuk membeli makan, minum, serta pakaian penutup badan? Oleh sebab itu,
bergembiralah hai para fakir dan miskin! Nabi kita, Muhammad saw telah
memberikan contoh begitu jelas. Nabi yang kita cintai, hamba kesayangan Allah
pergi ke pasar dengan uang sedikit seperti yang kita miliki. Tetapi nabi kita
ini, dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang delapan dirham untuk berbelanja.
Meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup. Beliau belum ingin mati
meski kemiskinan menjerat setiap hari.
Di
tengah perjalanan menuju pasar, beliau menemukan seorang wanita yang menangis.
Ternyata wanita yang kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak
dua dirham. Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.
Rasulullah
bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong pasar banyak
sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu menjawab dan
memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata. Beliau langsung
menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju
dengan harga empat dirham. beliau segera pulang. Di perjalanan beliau bertemu
dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong
baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang pengasih itu tidak tahan melihat.
Langsung diberikannya baju yang baru dibeli. Beliau kembali ke pasar utnuk
membeli baju lagi seharga dua dirham. Tentu saja lebih kasar dan jelek
kualitasnya daripada yang empat dirham. dengan gembira beliau pulang membawa
bajunya.
Langkahnya
dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga angin malam yang
telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin kemalaman di jalan. Tak
lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi wanita yang menangis tadi.
Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah. Rasulullah saw mendekat dan
bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan untuk pulang. Dia telah
terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi majikannya jika pulang nanti.
Rasulullah saw langsung menyatakan akan mengantarkannya.
Wanita
itu berjalan yang diikuti Rasulullah saw dari belakang. Hatinya tenang karena
Rasulullah saw pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin majikannya akan
memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia paling mulia di dunia
ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang membawa kebaikan bersama
dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka terus berjalan hingga sampai ke
perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat itu yang ada hanyalah para isteri
mereka.
"Assalamu'alaikum
warahmatullah", sapa Rasulullah saw keras. Mereka semuanya diam tak
menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi kebahagiaan karena
kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah saw sebagai berkah dan
seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya lagi. Ketika tak
terdengar jawaban, Rasulullah saw memberi salam lagi. Tetap tak terdengar
jawaban. Rasulullah saw mengulang untuk yang ketiga kali dengan suara lantang,
Assalamu'alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.
Rasulullah
sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa sebabnya.
Mereka mengatakan, " Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar sejak tadi.
Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak".
Rasulullah melanjutkan, "Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani
pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan
menerimanya". Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi
begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka.
Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan
seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat
pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka
berkata, "Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari
bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata". Budak itu tak
terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan
kebebasannya karena dari Rasulullah saw.
Rasulullah
saw pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan dengan mengharap
ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan para wanita itu agar
mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta dan turunan serta semoga
selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk memikirkan peristiwa
sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia Allah swt semata. Akhirnya
beliau berujar dengan, "Belum pernah kutemui berkah angka delapan
sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang dari
ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak".
Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama muslim, Allah
akan memelihara selama pakaian itu masih melekat.
TIGA HARI BERSAMA PENGHUNI SURGA
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan
An-Nasa'i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada
sebuah majelis bersama Rusulullah SAW.
Anas bercerita, "Pada suatu hari kamu duduk bersama
Rasulullah SAW., kemudian beliau bersabda, "Sebentar lagi akan muncul
dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga." Tiba-tiba muncullah
laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua
sandalnya pada tangan sebelah kiri."
Esok harinya, Rasulullah SAW. berkata begitu juga, "Akan
datang seorang lelaki penghuni surga." Dan munculah laki-laki yang sama.
Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.
Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin
Al-Ash r.a. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai
penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya dia berkata kepadanya,
"Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya
bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat
pondokan buat saya selama hari-hari itu ?"
Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidulah
Abdullah di rumah orang itu selaga tiga malam. Selama itu Abdullah ingin
menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh
Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan
sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.
Kata Abdullah, "Setelah lewat tiga hari aku tidak
melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu
aku berkata, Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku,
dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah SAW. berkata
tentang dirimu sampai tiga kali, "Akan datang seorang darimu sebagai
penghuni surga." Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat
menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu."
Lalu orang itu berkata, "Yang aku amalkan tidak lebih
daripada apa yang engkau saksikan". Ketika aku mau berpaling, kata
Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, "Demi Allah, amalku tidak
lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah
menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak
pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah
kepada mereka." Lalu Abdullah bin Amr berkata, "Beginilah bersihnya
hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan
dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji
itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.
Memberikan hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang
jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah
yang seringkali sulit kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari,
sujud dan rukuk di hadapan Allah SWT, akan tetapi amat sulit bagi kita
menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslim, hanya karena kita duga
pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari
golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan
yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. "Inilah justru
yang tidak mampu kita lakukan, " kata Abdullah bin Amr (Hayat Al-Shahabah,
II, 520-521).
Pada halaman yang sama, Al-Kandahlawi menceritakan suatu
hadis tentang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah. Ketika Abu Dujanah sakit
keras, sahabat yang lain berkunjung kepadanya.
Tetapi menakjubkan, walaupun wajahnya pucat pasi, Abu Dujanah
tetap memancarkan cahayanya, bahkan pada akhir hayatnya. Kemudian sahabatnya
bertanya kepadanya, "Apa yang menyebabkan wajah Anda bersinar?" Abu
Dujanah menjawab, "Ada
amal yang tidak pernah kutinggalkan dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah
berbicara tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kedua, aku selalu
mengahadapi sesama kaum Muslim dengan hati yang bersih, yang oleh Al-Quran
disebut qalbun salim".
Al-Quran menyebut kata qalbun salim ini ketika Allah SWT.
berfirman tentang suatu hari di hari kiamat, ketika tidak ada orang yang
selamat dengan harta dan kekayaannya kecuali yang membawa hati yang bersih.
Pada hari itu tidak ada manfaatnya di hadapan Allah SWT,
harta dan anak-anak kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih (QS
26:88-89).
Di dalam Islam, Rasulullah yang mulia sejak awal dakwahnya
mengajarkan kepada kaum Muslim untuk memperlakukan kaum Muslim yang lain
sebagai saudara-saudaranya. Al-Quran mengatakan bahwa salah satu tanda orang
yang beriman ialah menjalin persaudaraan dengan sesama kaum beriman lain.
Al-Quran menggunakan kalimat yang disebut adat al-hasr, yaitu
"innama" -artinya yang tidak sanggup memelihara persaudaraan itu
tidak termasuk orang yang beriman.
Imam Al-Ghazali ketika menyebutkan ayat ini juga menegaskan
bahwa orang yang beriman sajalah yang dapat memelihara persaudaraan dengan sesama
kaum Muslim. Hanya yang beriman yang bisa menumbuhkan kasih sayang kepada kaum
Muslim. Rasulullah SAW. menegaskan ayat ini dengan sabdanya : "Tidak
beriman di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaranya seperti dia mencintai
dirinya sendiri."
Rasulullah yang mulia menyebutkan bahwa salah satu tanda
orang yang beriman ialah mempunyai kecintaan yang tulus terhadap kaum Muslim.
Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW. bersabda : "Agama adalah
kecintaan yang tulus."
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya, Ad-Durr Al-Mantsur. Ketika sampai
pada ayat yang mengatakan bahwa Allah menolak segolongan manusia dengan
segolongan manusia yang lain, pada surah Al-Baqarah, As-Suyuthi meriwayatkan hadis
yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Setiap masa ada orang yang sangat dekat dengan Allah (yang oleh
Rasulullah disebut ABDAL). Kalau salah seorang di antara mereka mati, maka
Allah akan menggantikannya dengan orang lain. Begitulah orang itu selalu ada di
tengah-tengah masyarakat."
Rasulullah mengatakan bahwa berkat kehadiran mereka Allah
menyelamatkan suatu masyarakat dari bencana. Karena merekalah Allah menurunkan
hujan, karena merekalah Allah menumbuhkan tetanaman, dan karena merekalah Allah
mengidupkan dan mematikan. Sehingga para sahabat bertanya kepada Rasulullah,
"Apa maksudnya karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?"
Rasulullah menjawab : "Kalau mereka berdoa agar Allah memanjangkan usia
seseorang, maka Allah panjangkan usianya. Kalau mereka berdoa agar orang zalim
itu binasa, maka Allah binasakan mereka". Kemudian Rasulullah bersabda :
"Orang ini mencapai kedudukan yang tinggi bukan karena banyak shalatnya,
bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyaknya ibadah hajinya,
tetapi karena dua hal : yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang
tulus kepada sesama kaum Muslim."
ABDUL QADIR AL JAELANI DAN IBLIS
Suatu
hari Shaikh Abdul Qadir al Jaelani dan beberapa murid-muridnya sedang dalam
perjalanan di padang
pasir dengan telanjang kaki. Saat itu bulan Ramadhan dan padang pasirnya panas. Beliau mengatakan,
"Aku sangat haus dan luar biasa lelahnya. Murid-muridku berjalan di
depanku. Tiba-tiba awan muncul di atas kami, seperti sebuah payung yang
melindungi kami dari panasnya matahari. Di depan kami muncul mata air yang
memancar dan sebuah pohon kurma yang sarat dengan buah yang masak. Akhirnya
datanglah sinar berbentuk bulat, lebih terang dari matahari dan berdiri
berlawanan dengan arah matahari.
Dia
berkata, "Wahai para murid Abdul Qadir, aku adalah Tuhan kalian. Makan dan
minumlah karena telah aku halalkan bagi kalian apa yang aku haramkan bagi orang
lain!" Murid-muridku yang berada di depanku berlari ke arah mata air itu
untuk meminumnya, dan ke arah pohon kurma untuk dimakannya. Aku berteriak
kepada mereka untuk berhenti, dan aku putar kepalaku ke arah suara itu dan
berteriak, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang
terkutuk!"
"Awan,
sinar, mata air dan pohon kurma semuanya hilang. Iblis berdiri dihadapan kami
dalam rupanya yang paling buruk. Dia bertanya, "Bagaimana kamu tahu bahwa
itu aku?" Aku katakan pada Iblis yang terkutuk yang telah dikeluarkan
Allah dari rahmatNya bahwa firman Allah bukan dalam bentuk suara yang dapat
didengar oleh telinga ataupun datang dari luar. Lebih lagi aku tahu bahwa hukum
Allah tetap dan ditujukan kepada semua. Allah tidak akan mengubahnya ataupun
membuat yang haram menjadi halal bagi siapa yang dikasihiNya.
Mendengar
ini, Iblis berusaha menggodanya lagi dengan memujinya, "Wahai Abdul
Qadir," katanya, "Aku telah membodohi tujuh puluh nabi dengan tipuan
ini. Pengetahuanmu begitu luar dan kebijakanmu lebih besar daripada nabi-nabi
itu!" Kemudian menunjuk kepada murid-muridku dia melanjutkan, "Hanya
sekian banyak orang-orang bodoh saja yang menjadi pengikutmu? Seluruh dunia
harusnya mengikutimu, karena kamu sebaik seorang nabi."
Aku
mengatakan, "Aku berlindung darimu kepada Tuhanku yang Maha Mendengar dan
Maha Mengetahui. Karena bukanlah pengetahuanku ataupun kebijakanku yang
menyelematkan aku darimu, tetapi hanya dengan rahmat dari Tuhanku."
SHOLAT MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN
MUNGKAR
Ada seorang lelaki yang merayu-rayu
seorang wanita agar mau melakukan zina dengannya. Segala jurus tipu daya ia
lakukan untuk meruntuhkan keteguhan iman sang wanita. Memang, lelaki itu
ganteng sekali, ditambah lagi ia sangat kaya dikampungnya. Tentu saja tidak
sedikit wanita yang menaruh hati padanya. Bagaimana dengan wanita yang dirayunya
itu ?
Wanita tersebut sebetulnya sudah bersuami. Ia adalah seorang
istri yang taat kepada suaminya. Suaminya sendiri adalah seorang yang taat
pula. Perihal rayuan lelaki itu ia adukan kepada suaminya.
"Wahai suamiku, lelaki kaya yang tinggal disebelah sana itu seringkali
menggoda aku. Ia tinggal masih sekampung dengan kita. Tiap kali ia berpapasan
denganku, atau kebetulan saja bertemu dengannya, pasti saja ia merayu-rayu aku
agar mau berbuat zina dengannya. Ia terus-menerus melakukan hal itu padaku. Apa
yang harus aku perbuat, suamiku ?" Sang suami menanggapi istrinya dengan
tenang-tenang saja. " Katakan kepada laki-laki itu bahwa engkau akan mau
menuruti godaannya, yaitu berzina dengannya. Cuma, dia mesti memenuhi satu
persyaratan dahulu".
Dengan patuh istrinya kemudian mendengarkan terus apa yang
dikatakan oleh suami tercintanya. Setelah itu pergilah ia menemui laki-laki
yang sering mengganggunya itu.
Begitu mengetahui siwanita yang selalu diincarnya datang
mencarinya, bukan main gembira perasaannya. Hatinya berbunga-bunga. Akhirnya
kesampaian juga apa yang menjadi keinginannya selama ini kepada wanita cantik
itu. Dengan penuh ketidaksabaran ia menantikan apa yang akan dikatakan sang
wanita.
"Aku akan mau berbuat zina denganmu sebagaimana yang
selalu engkau katakan kepadaku dalam rayuan-rayuanmu selama ini !"
Mendengar kesediaan wanita itu, lelaki tersebut langsung berseri-seri wajahnya.
Pikirnya, apapun yang dikehendaki wanita ini akan ia penuhi asalkan ia mau
berzina bersamanya. Sungguh ia tak dapat menahan keinginannya melihat
kecantikan dan keelokan tubuh wanita tersebut yang indah.
"Apapun akan kupenuhi demi kamu. Seandainya engkau punya
permintaan, katakan. Apakah kamu butuh uang atau apa saja. Pendeknya, aku akan
memenuhi apa saja yang engkau inginkan dariku ".
" Baiklah, Aku tak meminta uang atau materi apa pun.
Permintaanku sederhana dan mudah saja." Dengan rasa tak sabar yang terbaca
dari air mukanya, laki-laki-laki itu terus mendesak siwanita agar ia
mengutarakan persyaratan yang ia kehendaki.
" Ayo, katakan apa saja, aku pasti akan
memenuhinya".
" Sebelum kita sama-sama melakukan perbuatan itu, aku
minta agar kamu mau melakukan sholat berjamaah bersama suamiku. Tidak banyak,
hanya empat puluh subuh saja secara terus menerus. Tidak boleh terputus."
Mengetahui cuma itu permintaan siwanita, maka dengan bersemangat si laki-laki
tersebut menyatakan kesangggupannya.
Demikianlah kisahnya. Mulai sejak ia berjanji, maka sholat
subuhlah ia sebagaimana permintaan itu. Hingga pada sholat subuh yang keempat
puluh berlangsung, yakni setelah janji itu terpenuhi, maka si wanita telah
bersiap-siap untuk memenuhi janjinya. Rupanya, si laki-laki-laki telah bertekun
karena keinginan hatinya, demikian pikir si wanita.
Pergilah si wanita menemui laki-laki tersebut. Begitu mereka
bertemu, apa yang terjadi ? Ternyata kejadian menjadi terbalik. Si wanita
mencoba merayu-rayu si laki-laki itu untuk memenuhi keinginannya. Namun apa
jawab laki-laki itu ?
"Aku kini sudah bertaubat kepada Allah SWT, wahai
perempuan ! Aku tidak mau lagi melakukan perbuatan terkutuk seperti itu !"
Mendengar cerita sang istri, perihal jawaban si laki-laki yang tempo hari
menggodanya, sang suami wanita itu memanjatkan doa` kepada Allah SWT .
"Maha Benar Allah SWT ! Firman-Nya adalah benar. Bahwa sholat dapat
mencegah perbuatan keji dan mungkar."
( Diceritakan oleh Imam Naisaburi r.a )
BAHKAN, KEPADA PEMABUK SEKALIPUN,
ALLAH TAK MENGECUALIKAN KASIH-NYA
Peristiwa ini dialami oleh Dzunun Al Misri. Suatu hari
pakaian Dzunun Al Misri kotor dan ingin segera mencucinya. Maka pergilah ia
kesungai Nil untuk maksudnya itu.
Tengah asyik-asyiknya ia mengucek ( mencucui ) pakaian, ia
melihat ada seekor kalajengking besar dibatu-batu, dekat dengan tempat diamana
ia duduk. Kalajengking ini telah siap menyengat daging tubuhnya, membuat Dzunun
makin panik ketakutan.
Ditengah rasa cemasnya itu, berdoa`lah Dzunun kepada Allah.
Ia memohon kiranya Allah S.W.T mau melindungi dirinya dari sengatan hewan
itu.Doa`nya didengar Allah S.W.T. Tiba-tiba sang kalajengking tersebut berbalik
dan menjauhi dirinya.
Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai. Dzunun
tertarik perilaku hewan ini. Maka diikutilah kemana perginya kalajengking oleh
Dzunun.
Kalajengking bergerak mendekati pepohonan rindang. Waktu
Dzunun berada dekat tempat itu, ia terkejut karena disana, dibawah pohon
tersebut, sedang terbaring seorang pemuda.
Dari posisi dan cara berbaringnya pemuda itu, tidak sulit
untuk ditebak, ia adalah pemuda yang sedang mabuk berat. Sepertinya saja ia
memerlukan untuk berbaring seperti itu saking beratnya mabuk yang ia alami.
Kalajengking telah berada sangat dekat dengan pemuda itu. Melihat itu Dzunun
jadi merasa amat khawatir, jangan-jangan sikalajengking akan menyengat
sipemuda. Kalau itu terjadi, maka ia akan mati karena racun hewan ini.
Ditengah kecemasannya, Dzunun lebih terperanjat lagi. Betapa
tidak, dekat sipemuda mabuk itu malah terdapat seekor ular yang tidak kalah
besar dan berbahayanya dengan sikalajengking. Ular itu juga tengah siap untuk
mematuk sipemuda.
Bagaimana kejadian selanjutnya ? Matikah pemuda itu dipatuk
oleh ular dan disengat oleh kalajengking itu ? Peristiwa luar biasa terjadi.
Ternyata sikalajengking dengan merayap perlahan-lahan mendekati kepala ular.
Setelah dekat, melompatlah ia mendapati kepala ular dan seketika itu pula ular
tersebut disengatnya, sehingga terkapar dan sesaat kemudian mati karena racun
ganas sikalajengking.
Selesai menyengat ular, kalajengking berjalan menjauh,
meninggalkan bangkai ular beserta tubuh sang pemuda yang sedang terbaring
karena mabuk itu. Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai kembali
dan Dzunun terus mengikutinya juga dari belakang. Setelah kalajengking jauh,
Dzunun kembali ketempat sipemuda mabuk terbaring tadi. Kemudian bersyairlah ia ;
Wahai orang yang sedang kelelapan.
Yang Maha Agung selalu menjagakan.
Dari setiap kekejian yang menimbulkan kesesatan, mengapa
sampai sipemilik mata ketiduran ?
Padahal, mata itu dapat mendatangkan berbagai kenikmatan.
Syair Dzunun ternyata membuat sipemuda mabuk terjaga.Setelah
sipemuda sadar, maka Dzunun menceritakan kepadanya peristiwa yang ia saksikan
tadi.
Pemuda itu mendengarkan penjelasan Dzunun dengan cermat. Ia
merenungkan kejadian itu dalam-dalam. Kalbunya tersadar dan bertaubatlah ia
kepada Allah S.W.T. Sipemuda menyadari, bahwa betapa Pengasihnya Allah kepada
setiap hamba-Nya. Bahkan itu tak terkecuali kepada pemabuk seperti dirinya,
Allah masih memberikan perlindungan dan memberi kesempatan baginya untuk
bertaubat.
MEMULIAKAN TAMU
Suatu
hari Rasulullah kedatangan seorang tamu dirumahnya. Dari penampilan tamu itu
bisa langsung ditebak, bahwa ia orang yang sangat miskin. Waktu itu Rasulullah
sedang bercakap - cakap dengan tamunya.
"Saya
sedang dalam kesempitan, ya Rasulullah. Tak ada sesuatupun yang aku
punyai," jelas tamu itu ketika ia dipersilahkan masuk kedalam rumah oleh
Rasulullah. Begitu tamu itu duduk, Rasulullah langsung beranjak kebelakang
menemui istrinya. Kepada istrinya dikatakannya bahwa ada tamu yang dalam
kesusahan datang, "Kita sendiri tidak mempunyai apa - apa yang bisa kita
berikan, yang ada hanya air putih saja."
Mendengar
penjelasan istrinya itu, Rasulullah sedikit kecewa karena ia tak berkesempatan
menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan. Rasulullah balik keruang tamu
menemui para sahabatnya. "Siapa diantara kalian yang bersedia menjamu tamu
malam ini ? Ia akan beroleh rahmat Allah S.W.T." "Saya, ya
Rasulullah. Biarlah tamu itu menginap dirumahku saja." Salah satu diantara
para sahabat Nabi itu menawarkan diri, yaitu orang Anshar.
Orang
Anshar itu pulanglah. Sesampai dirumah ia menemui istrinya dan bertanya
kepadanya tentang apa yang mereka miliki hari itu. "Ya, istriku. Tadi aku
menyanggupi tawaran Rasulullah untuk menjamu tamunya yang sedang dalam
kesulitan malam ini. Adakah makanan yang dapat kita jamukan untuk tamu kita itu
?"
"Sesungguhnya
yang kita miliki cuma nasi untuk anak kita saja. Kalau ini kita sajikan, maka
anak kita tidak dapat makanan malam ini."
"Kalau
begitu bujuklah anak kita untuk segera tidur agar ia tidak merasa
kelaparan."
"Tapi
bagaimana ya, Nasi itu tinggal sedikit saja, tidak cukup untuk berdua."
"Begini
saja, waktu tamu itu sudah datang, dan pada saat saya persilahkan makan, kamu
pura - pura tidak sengaja mengibaskan lilin itu sehingga padam. Nanti, tamu itu
kita persilahkan makan pada waktu gelap. Saya akan menemaninya sambil berpura -
pura makan juga. Bila selesai ia makan, maka usahakan lilin sudah bisa
dinyalakan."
"Baiklah
ya suamiku, aku akan melakukan hal yang seperti itu."
Pada
waktu tamu itu datang, maka dilaksanakanlah sandiwara tersebut. Esok harinya
ketika orang Anshar dan istrinya bertemu Nabi, sebelum sempat berkata apa -
apa. Nabi langsung tersenyum sambil berkata kepda mereka, "Aku benar-benar
kagum dan hormat terhadap usaha kalian berdua kepada tamumu semalam itu."
MAMPU TAKLUKAN HARIMAU DENGAN KESABARAN
Alkisah,
dua orang lelaki berkawan akrab. Nama mereka masing-masing, katakan saja adalah
Sulaiman dan Ismail. Mereka sama-sama orang yang shaleh. Karena tempat yang
berjauhan maka tidak memungknkan mereka untuk selalu bertemu. Tetapi ada
kebiasaan diantara mereka, untuk bertemu sekali dalam setahun. Sulaiman yang
jauh tempatnya selalu datangn bertemu kerumah Ismail.
Sebagaimana
kebiasaan, suatu hari Sulaiman datang berkunjung kerumah sahabatnya itu. Waktu
sampai ia mendapati pintu rumah Ismail sedang tertutup rapat-rapat. Ia kemudian
mengetuk pintu itu. Setelah beberapa kali ketukan, terdengar ada suara sahutan
istri sahabatnya dari dalam rumah. "Siapakah itu yang mengetuk-ngetuk
pintu ?"
"Aku,
saudara suamimu. Aku datang ke mari untuk mengunjunginyahanya karena Allah SWT
semata."
"Oh………..????????
Dia sedang ke luar pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak
kembali lagi !"
Begitu
jawab istri tuan rumah. Mendengar jawaban seperti itu heran bercampur dongkol
meliputi diri Sulaiman. Belum hilang herannya, ia masih lebih kaget lagi. Si
istri tersebut masih menggumamkan kata-kata makian kepada Ismail, sang suami.
Sulaiman
dipersilahkan duduk diberanda dan kemudian mereka bercakap-cakap. Tak lama
kemudian datang Ismail. Ia terlihat menuntun seekor harimau yang dipunggungnya
terdapat seikat kayu bakar. Begitu ,melihat ada sahabatnya, Ismail langsung
menghambur mendekatinya sambil mengucapkan slam kehangatan.
Kayu
bakar kemudian diturunkan dari punggung harimau. Ismail sejurus kemudian
berkata kepada harimau itu. "Sekarang pergilah kamu mudah-mudahan Allah
SWT memberkatimu!".
Setelahnya
siempunya rumah mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah. Sementara mereka
bercakap-cakap terdengar suara sang istri yang terus-terusan saja memaki-maki
sang suami dengan suara bergumam. Sang suami yang orang shaleh itu diam saja.
Dalam hatinya Sulaiman heran dan campur takjub akan kesabaran sahabatnya.
Meskipun istrinya terus saja memaki-maki dirinya ia tetap tidak memperlihatkan
muka kebencian. Setelah puas bercakap-cakap pulanglah sahabat dengan menyimpan
rasa kekaguman kepada siempunya rumah yang sangggup menekan rasa marahnya
menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang. Setahun berlalu
sudah. Sebagaimana kebiasaan, kembali Sulaiman mengunjungi rumah sahabatnya
itu. Waktu smapai didepan pintu dan ia mengetuk pintu itu. Dari dalam terdengar
langkah-langkah kaki wanita dan setelah pintu terbuak terlihat wajah istri
sahabatnya yang dengan senyum ramah menyapa.
"Tuan
ini siapa ,ya ?"
"Aku
adalah sahabat suamimu. Kedatanganku ini adalah semata untuk
mengunjunginya."
"Oh……?????
Selamat datang Tuan !"
Sapaan
istri sahabatnya begitu ramah sambil mempersilahkan sang tamu untuk masuk
kedalam rumah dengan penuh keramahan. Terasa begitu teduh dihati. Tak lama
kemudian sahabatnya Ismail datanng. Ia kelihatan menenteng seikat besar kayu
bakar diatas kepalanya. Segera mereka terlibat perbincangan serius. Sempat sang
tamu menanyakan beberapa hal yang ia herankan perihal keadaan tuan rumah yang
menurutnya ada perbedaan dengan suasana setahun yang lalu. Tamu menanyakan
bagaimana ia mampu menaklukan seekor harimau, yang binatang buas itu sehingga
mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak bersama-sama dengan
binatang itu. Mana harimau itu ?
"Ketahuilah,
saudaraku. Istriku yang dahulu berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat
mungkin aku berusaha bersabar atas perangai buruknya, sehingga Allah SWT
memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau sebagaimana yang
engkau lihat sendiri. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku kepadanya. Lalu aku
menikah lagi dengan perempuan yang sholihah ini. Aku sangat gembira
mendapatkannya, maka harimau itupun dijauhkan dari diriku. Aku memanggul
sendiri kayu bakar sekarang lantaran kegembiraanku."
Sumber
bacaan : Subulus Salam bab Nikah.
AL-QUR`AN SEBAGAI MAHAR
Pada
jaman Rasulullah S.a.w proses pernikahan yang terjadi terkesan begitu mudah dan
sederhana tanpa harus menunggu kemapanan dunia terlebih dahulu. Salah satu
contohnya adalah ketika suatu saat Rasulullah S.a.w sedang duduk-duduk bersama
para sahabatnya, datanglah seorang wanita menghadap beliau lalu berkata.
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kedatangan saya ini tidak lain adalah
untuk menghibahkan diriku kepadamu". Maka Rasulullah pun memperhatikan
wanita itu dengan seksama. Kemudian beliau hanya mengangguk-anggukkan kepala
saja tanpa berkomentar. Melihat hal itu wanita tersebut paham bahwa Rasulullah
belum menghendaki dirinya. Wanita itu lalu duduk. Tak berapa lama kemudian
bangkitlah salah seorang sahabat Rasulullah dan berkata : " Ya Rasulullah,
jika engkau tak menginginkannya maka nikahkanlah ia denganku saja." Rasulullah
bertanya kepada lelaki tersebut, "Apakah engkau mempunyai sesuatu (untuk
mahar)?" Ia menjawab, "Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa ya
Rasulullah." "Pergi dan temuilah keluargamu, barangkali kamu
mendapatkan sesuatu disana." Pinta beliau. Lelaki itupun mengikuti saran
Rasulullah S.a.w. Tak berapa lama kemudian ia kembali lagi lalu berkata,
"Demi Allah saya tidak mendapati sesuatupun disana". Rasulullah S.a.w
bersabda :"Lihatlah kembali, walau hanya sekedar cincin besi." Iapun
pulang, lalu kembali menemui Rasulullahþ, seraya berkata, "Demi Allah
wahai Rasulullah, saya tidak mendapati apa-apa disana walau sekedar cincin besi
sekalipun. Tetapi ini saya mempunyai kain sarung." Lelaki itu bermaksud
membagi kain sarung yang dipakainya menjadi dua bagian, separuh untuknya,
sisanya untuk mahar. Beliau S.a.w bersabda "Apa yang hendak engkau lakukan
dengan kainmu itu ? Jika engkau mengenakannya, ia tidak dapat menggunakan sisa
kainnya, demikian pula jika ia mengenakannya engkau tidak dapat menggunakan
sisa kainnya." Rupanya kain tersebut hanya cukup untuk satu orang, jika
dibagi dua justru tidak dapat dimanfaatkan untuk menutup aurat. Maka laki-laki
itupun duduk dalam jangka waktu yang lama, kemudian bangkit dan pergi
meninggalkan tempatnya. Melihat hal itu Rasulullah S.a.w menyuruh seseorang
untuk memanggilnya kembali, dan menanyakan apakah ia mempunyai hapalan Al
Qur`an. Setelah laki-laki tersebut menyebutkan hapalan Al Qur`an yang
dimilikinya, beliau S.a.w bersabda, "Pergilah, aku telah berikan wanita
itu kepadamu dengan hapalan Al Qur`an yang engkau miliki."
Demikianlah
kemudahan menikah pada jaman kenabian. Adakah yang ingin mencontohnya ? Wallahu
a`lam.
Sumber
bacaan : Subulus Salam bab Nikah
FITNAH DUNIA
Kekafiran
hidup, kadang terasa menyesakkan dada. Anadai kita hidup dimapan , tentu ibadah
lebih tenang. Demikian sering terlintas dibenak, kala jatah rizqi menyempit.
Tetapi, justru yang dikhawatirkan Rasulullah bukan suasana kekafiran, melainkan
terbukanya dunia ini yang acapkali melalaikan kita dari beribadah kepada Sang
Pencipta.
Bukhori
dan Muslim meriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Ubaidah diutus Rasulullah untuk
menarik jizyah ke Bahrain.
Dari Bahrain,
beliau berhasil membawa jizyah dalam jumlah yang banyak.
Berita
kedatangan Abu Ubaidah dengan sejumlah hartapun merebak dikalangan sahabat
Anshar. Maka setelah melakuakan sholat subuh bersama, Rasulullah berpaling
kearah sahabat yang sudah menunggu-nunggu. Melihat mereka Rasulullah tersenyum
seraya bersabda, "Saya kira kalian telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah
dengan sesuatu dari Bahrain
" Mereka menjawab " Benar ya Rasulullah ", Rasulullah
melanjutkan sabdanya, "Bergembiralah dengan apa yang kalian senangi (
harta ). Demi Allah sesungguhnya bukan kekafiran yang aku takutkan atas kalian,
tetapi aku takut jika dunia dibukakan atas kalian sebagaimana dibukakan atas
ummat sebelum kamu lalu kalian berlomba-lomba memperolehnya, sebagaimana
orang-orang dahulu telah berlomba, lalu dunia itu akan menghancurkan kalian
sebagaimana orang dahulu hancur karenanya."
Dalam
riwayat lain ( Targhib:5/144 ) Rasulullah juga pernah bersabda,
"Sesungguhnya fitnah kekayaan itu lebih aku takuti atas kalian daripada
fitnah kemiskinan. Kalian telah mendapati fitnah kemiskinan dan kalian sabar,
sedangkan (fitnah) dunia ini terasa manis dan menyenangkan ."
Ketakutan
fitnah dunia ini juga dirasakan para sahabat. Salah satu dari mereka adalah
Salman al Farisi. Suatu saat Salman dikunjungi Sa`ad bin Abi Waqash lalu ia
menangis. Sa`ad pun berkata "Apa yang membuatmu menangis ?" Engkau
telah bertemu dengan para sahabatmu, dan akan mendatangi telaga Rasulullah dan
beliaupun ridho padamu saat akhir kehidupannya." Salman menjawab,
"Aku menangis bukan karena takut mati atau tamak dunia. Tetapi karena
janji yang telah Rasulullah ambil dari kita dengan sabda beliau,"
Hendaklah kalian mengambil didunia seperti sekedar perbekalan seorang
pengembara. "Dan sekarang ini barang-barang dirumahku…."
Subhanallah
Salman, Ya Salman , padahal tiadalah barang dirumahmu kecuali ember tempat mencuci
pakaian yang tak seberapa harganya. Tetapi engkau begitu takut bila telah jatuh
dalam hidup berlebihan. Lalu bagaimana dengan kami ini ?
Rasanya
kita memang perlu mengaca diri lagi tentang persepsi dunia ini. Karena sadar
atau tidak, sering kesedihan kita tak lain karena dunia ini. Sementara bekal
menghadap-Nya kadang luput dari perhatian kita. Wallahu a`lam.
YANG TERAKHIR KE JANNAH
Rasulullah
SAW pernah berkisah bahwa nanti orang yang terakhir kali masuk jannah adalah
seorang lelaki (menuju jannah), terkadang berjalan dan terkadang terjatuh,
sehingga kadang api neraka menyambarnya. Ketika telah selamat dari api neraka
ia berkata " Maha Suci Dzat yang telah menyelamatkanku darimu, Sungguh
Allah SWT telah menganugrahiku sesuatu yang belum pernah diberikan kepada
seorangpun baik orang terdahulu maupun kemudian ".
Setelah
itu nampaklah olehnya sebuah pohon. Ia berkata, "Ya Rabbi, dekatkanlah aku
dengan pohon itu agar aku dapat bernaung dibawahnya dan meminum airnya."
Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, boleh jadi bila Aku kabulkan
permohonanmu, engkau akan meminta yang lainnya lagi". Ia menjawab ,"
Tidak wahai Rabbi." Allah SWT memaklumi keinginannya dan mendekatkannya
kepohon tersebut sehingga bisa berteduh dan meminum air dibawahnya.
Tak
lama kemudian nampaklah olehnya pohon lain yang lebih indah daripada pohon
pertama. Ia pun meminta lagi dan terjadilah dialog sebagaimana dialog pertama.
Kali ini Allah SWT juga mengabulkan permintaannya dan mendekatkannya dengan
pohon yang lebih indah tadi. Ia pun berteduh dan meminum air dibawah pohon yang
kedua.
Berikutnya
nampak lagi olehnya pohon lain yang jauh lebih indah dari dua pohon sebelumnya.
Letaknya didekat pintu jannah. Ia tak kuasa menahan keinginannya dan meminta
lagi agar didekatkan dengan pohon tersebut. Kembali Allah SWT mengabulkan
permintaan orang tadi.
Ketika
ia telah didekat pintu jannah, ia mendengar suara dari dalam jannah. Suara yang
mendorongnya untuk meminta lagi kepada Allah SWT agar ia dimasukkan ke jannah.
Padahal sejak permintaan kali pertama ia berjanji untuk tidak meminta lagi.
Lalu Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, apa yang akan membuatmu puas ?
Apakah kamu rela jika aku memberimu jannah yang seluas dunia dan semisalnya
lagi ? " Orang tadi berkata ,"Ya Rabbi, apakah Engkau mempermainkanku
padahal Engkaulah Pengatur seluruh alam ?" Allah SWT pun tertawa mendengar
perkataan orang tadi lalu berfirman, "Saya tidak sedang mempermainkanmu
tetapi Aku berkuasa untuk melakukan apa yang Aku kehendaki."
Subhanallah,
itu untuk penduduk terakhir, bagaimana dengan yang terdahulu ? Mari berlomba
mendapatkannya. Wallahu a`lam. ( Sumber : H.R Muslim : 187 )
WASIAT NABI S.A.W
Dalam
sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam
waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w. Diantara isi percakapan tersebut
adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ;
Aku
berkata kepada Nabi S.a.w, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku."
Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah,
karena ia adalah pokok segala urusan." "Ya Rasulullah,
tambahkanlah." pintaku.
"Hendaklah
engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla,
karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit."
"Ya
Rasulullah, tambahkanlah." kataku.
"Janganlah
engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan
menghilangkan cahaya wajah."
"Lagi
ya Rasulullah."
"Hendaklah
engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku."
"Lagi
ya Rasulullah."
"Cintailah
orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka."
"Tambahilah
lagi."
"Katakanlah
yang benar walaupun pahit akibatnya."
"Tambahlah
lagi untukku."
"Hendaklah
engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum
mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika
engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa
sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)."
Kemudian
beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,"Wahai Abu Dzar,
Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur
(berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta),
tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya."
Itulah
beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w kepada salah seorang
sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau.
Wallahu A`lam.
BEROBAT DENGAN AL-FATIHAH
Surat
Al-Fatihah yang setiap hari kita baca di dalam shalat, ternyata merupakan obat
yang mujarab. Bukan sembarang obat. Ia adalah obat untuk penyakit hati dan
penyakit badan sekaligus.
Surat ini mengandung obat untuk penyakit hati dengan
sempurna. Perlu dicatat, segala penyakit hati itu bermula dari dua hal,
rusaknya ilmu dan rusaknya qashd (niat/kemauan). Dari keduanya akan muncul dua
perkara yang sangat berbahaya, yaitu kesesatan yang merupakan buah dari
rusaknya ilmu dan kemurkaan Allah SWT yang merupakan buah dari rusaknya qashd.
Kesesatan
dan kemurkaan adalah dua hal yang menjadi kunci dari seluruh penyakit hati.
Ayat ihdinash shiraathal mustaqiim menanggulangi kesesatan, dan ayat iyyaka
na'budu wa iyyaka nasta'iin mencegah kemurkaan.
Dengan
ditunjukkannya jalan kebenaran dilanggengkannya kita di atasnya, kita tidak
akan tersesat selamanya. Karena itu, dia yang paling wajib kita ucapkan adalah
doa yang termaktub dalam surat
Al-Fatihah ini. Hanya saja, ketika kita membacanya, kita sering tidak merasa
sedang berdoa.
Kemudian
fenomena rusaknya niat/kemauan, akan banyak kita dapatkan pada orang-orang
kafir, musyrik dan mereka yang menjadi budak hawa nafsunya. Rusaknya
niat/kemauan di sini artinya rusak tujuan dan atau cara mendapatkaa tujuan itu.
Kehidupan
orang-orang yang mengaku muslim, tetapi menjadi budak hawa nafsunya, tidaklah
berbeda dengan orang-orang kafir dan musyrik. Apabila mereka mendapati al-haq
sesuai dengan tujuan dan ambisi, mereka meninggalkannya.
Ada juga orang-orang yang mempunyai tujuan yang tinggi,
akan tetapi tidak menempuh cara yang benar. Maka mereka tersesat dan tentu akan
mendapatkan murka Allah SWT, na'udzubillah. . .
Sebenarnya,
ayat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin yang menjadi obat bagi rusaknya qashd
mempunyai komposisi yang harus terpenuhi secara keseluruhan. Komposisinya
sebagai berikut:
·
Hanya beribadah
kepada Allah SWT
·
Berdasarkan
perintah atau syari'atNya
·
Tanpa ditunggangi
oleh hawa nafsu
·
Bukan dengan
hasil pemikiran atau aturan buatan manusia
·
Meminta i'anah
(pertolongan) kepada Allah SWT, agar dapat beribadah kepadaNya.
Apabila
komposisinya utuh, --insya Allah-- ia akan benar-benar menjadi obat.
Adapun
Al-Fatihah sebagai obat untuk penyakit badan, Abu Said Al-Khudri r.a.
meriwayatkan (lihat Bukhari 2276, Muslim 2201), bahwa seorang shahabat pernah meruqyah
seorang pemuka suatu daerah yang tersengat binatang berbisa dengan surat ini. Dengan izin
Allah SWT, pemuka kaum itu sembuh, padahal ia bukanlah orang baik-baik, karena
mungkin ia bukan termasuk kaum Muslimin, atau setidaknya ia adalah seorang yang
bakhil, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim r.a. diawal-awal kitab Madaariju
As-Saalikiin. Lalu bagaimana jika yang diobati adalah seorang Muslim yang
baik?. Wallahu a'lam bish shawab.
SEKELUMIT TENTANG SYURGA DAN NERAKA
SYURGA
*
Nilai dunia dibanding syurga: Firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa' : 77 yang
artinya : "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih
baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya
sedikitpun."
Rasulullah
SAW bersabda : "Tidaklah dunia ini dibanding kenikmatan akhirat kecuali
seperti salah seorang diantaramu yang mencelupkan jarinya ke dalam air laut,
maka lihatlah berapa banyak air yang ada di jarinya." (HR. Muslim).
*
Keindahannya
Rasulullah
SAW pernah menjelaskan keindahan syurga diantaranya adalah : "Batu batanya
dari emas dan perak, perekat (batu-batu) nya berupa misik harum, kerikilnya
berupa permata dan yakut dan tanahnya dari za'faran. Barangsiapa memasukinya
akan mendapatkan kenikmatan dan tidak pernah celaka, kekal tidak mati, pakaiannya
tidak akan usang dan selalu awet muda." (Hadits shahih riwayat Ahmad, dan
Tirmidzi).
*
Makanan, minuman dan pakaian penghuninya
Firman
Allah SWT dalam Surah Al-Waqi'ah : 20 - 21 yang artinya : "Dan buah-buahan
dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka
inginkan."
Dalam
Surah Al-Insan : 5 yang artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat
kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air
kafur."
Juga
dalam Surah Al-Insan : 21 yang artinya : "Mereka memakai pakaian sutera
halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat
dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih."
*
Bidadari
Firman
Allah dalam Surah Ad-Dukhan : 54 yang artinya : "Demikianlah. Dan Kami
berikan kepada mereka bidadari."
Allah
SWT, dalam Surah Ar-Rahmaan juga mensifati mereka dengan cantik dan jelita,
putih bersih dipingit dalam rumah, dan belum pernah tersentuh oleh jin maupun
manusia (ayat 65 - 69).
Rasulullah
SAW juga bersabda : "Jika wanita penghuni syurga turun ke dunia ini, tentu
antara langit dan bumi ini akan bersinar, dan bau harumnya akan bersenar
memenuhinya dan mahkota di kepalanya lebih baik daripada dunia dan
seisinya." (HR. Bukhari).
NERAKA
*
Kedalamannya
Dari
Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Ketika sedang bersama Rasulullah, kami
mendengar sesuatu jatuh. Maka beliau bersabda, 'Tahukah kalian suara apa itu?'.
Kami menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih tahu'. Beliau bersabda, 'Itu adalah
suara batu yang dilemparkan ke neraka semenjak 70 tahun yang lalu, dan ia
sekarang masih meluncur ke (dasar) neraka." (HR. Muslim).
*
Panasnya
Rasulullah
SAW bersabda: "Api kita adalah satu bagian diantara 70 bagian dari api
neraka (1/70)." (HR. Muslim).
*
Makanan, minuman dan pakaian penghuninya
Firman
Allah dalam Surah Al-Waqi'ah : 51 - 55 yang artinya : "Kemudian
sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan
memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu
akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat
haus minum."
Rasulullah
SAW bersabda : "Seandainya setetes zaqqum jatuh ke dunia, tentu akan
merusak kehidupan penduduk bumi. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang
menjadikannya sebagai makanan?." (Hadits hasan shahih menurut Tirmidzi).
Dan
FirmanNya dalam Surah Muhammad : 15 yang artinya : "...dan diberi minuman
dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya."
Dan
FirmanNya juga dalam Surah Al-Hajj : 19 - 20 yang artinya : "Maka orang
kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan
air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur
luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)."
Ibrahim
At-Taimi jika membaca ayat ini, ia berkata, "Maha suci Dzat yang telah
menciptakan pakaian dari api."
(Akhwalul
Jannah wa An-Naar, Sulaiman A).
MENINGGALKAN KHIANAT, MENDAPAT RAHMAT
Al-Qadhi
Abu Bakar Muhammad bin abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari berkata:
"Dulu, aku pernah berada di Makkah semoga Allah SWT selalu menjaganya,
suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang
dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera
yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula. Aku memungutnya dan
membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah
kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku
lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak
mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia
mengatakan, 'Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang
berisi permata'. Aku berkata pada diriku, 'Aku sedang membutuhkan, aku ini
sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan
mengembalikan kantong sutera ini padanya'. Maka aku berkata pada bapak tua itu,
'Hai, kemarilah'. Lalu aku membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, dia menceritakan
padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri
permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya. Maka aku mengeluarkan
dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi
aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan padanya, 'Memang seharusnya aku
mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu'. Ternyata dia
bersikeras, 'Kau harus mau menerimanya', sambil memaksaku terus-menerus. Aku
tetap pada pendirianku, tak mau menerima. akhirnya bapak tua itu pun pergi
meninggalkanku. Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari
kota Makkah dan
berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang
semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat, dengan menumpang
potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada
di laut, tak tahu ke mana hendak pergi!
Akhirnya
aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid
mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Ketika mereka tahu bagaimana aku
membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang
kepadaku dan mengatakan, 'Ajarkanlah Al-Qur'an kepadaku'. Aku penuhi permintaan
mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak. Di dalam masjid, aku
menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu
mereka bertanya, 'Kau bisa menulis?', aku jawab, 'Ya'. Mereka berkata, 'Kalau
begitu, ajarilah kami menulis'. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan
para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat
banyak uang. Setelah itu mereka berkata, '
Kami
mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau
menikahinya?' Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, '
Tidak
bisa, kau harus mau'. Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika
mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku
melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di
lehernya. Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali terus memperhatikan kalung
permata itu. Mereka berkata, 'Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan
yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan
orangnya'. Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut.
Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh
penduduk setempat. 'Ada
apa dengan kalian?', kataku bertanya. Mereka menjawab, 'Tahukah engkau, bahwa
orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan
ini'. Dia pernah mengatakan, 'Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di
dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku'. Dia
juga berdoa, 'Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat
menikahkannya dengan puteriku', dan sekarang sudah menjadi kenyataan'.
Aku
mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak.
Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan
untuk kedua anakku. Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung
permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar.
Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100
ribu dinar."
YANG KHIANAT DAN YANG SETIA
Perang
Tabuk, harus diakui merupakan peristiwa penyaring yang membedakan dengan jelas,
mana mukmin sejati dan mana orang munafik. Salah satu sisi menampilkan karakter
munafiq yang asli. Suatu karakter yang senantiasa menjadi trouble maker bahkan
ancaman bagi perjalanan da'wah Islam. Mereka -dalam peristiwa Tabuk- tidak
hanya sekedar pasif membela Islam, tapi sebaliknya, mereka juga aktif dalam
usaha merongrong Islam dari dalam. Lihatlah ketika mereka tidak hanya sekedar
mengajukan izin untuk tidak ikut pergi berperang. Mereka bahkan menggembosi
semangat kaum Muslimin, dengan nasehat beracun bahwa cuaca sangat panas,
sebentar lagi musim panen tiba, dan bahwa kekuatan Romawi adalah kekuatan besar
yang tidak mungkin bakal dapat ditumbangkan oleh kaum Muslimin.
Namun
di sisi lain terdapat suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan. Kaum Muslimin
-dengan segala kekuatan dan keterbatasan mereka- terhanyut dalam satu aktivitas
menyambut ajakan Rasul SAW. Ajakan ini bukanlah sesuatu yang menjanjikan
kemewahan hidup duniawi. Ajakan ini bahkan boleh dikatakan -secara logika
telanjang- menambah beban penderitaan yang selama ini telah mereka pikul. Namun
inilah potret Mukminin sejati, mendudukkan perintah Rasul SAW di atas
segalanya. Beban penderitaan, boleh jadi terpampang dihadapan mereka, menjadi
keniscayaan. Namun apakah arti dunia bila dibandingkan dengan akherat. Apakah
artinya penderitaan kalau itu mengundang ridha Allah SWT dan Rasul-Nya. Maka
terwujudlah pemandangan yang sangat indah... apapun akan mereka korbankan demai
Islam.
Pemandangan
yang tak kalah indahnya adalah sebagaimana yang ditampilkan oleh tiga orang
yang diboikot, sebagai hukuman atas kelalaian mereka, tidak ikut pergi
berperang tanpa ada alasan yang dibenarkan. Mereka sadar apa yang mereka
perbuat adalah kesalahan yang besar. Di tengah hukuman, kesetiaan kembali
teruji. Datang fasilitas dari pihak ke 3 untuk menampung dan menyelamatkan
mereka dari boikot kaum Muslimin. Tetapi dengan tegar mereka memilih dibenci
teman sendiri ketimbang disayang oleh musuh.
Demikianlah,
rentetan perjalanan Tabuk telah merekam bukti kokohnya kesetiaan nenek moyang
kita dahulu dalam memegang prinsip Islam, meski pedih laksana bara. Peristiwa
Tabuk -dan peristiwa-peristiwa lainnya saat itu- masih menyisakan pertanyaan
yang hingga kini belum terjawab, tarbiyyah/gemblengan macam manakah yang
ditanamkan Muhammad SAW kepada shahabatnya, sehingga menghasilkan aqidah yang
membaja, tak lekang oleh derita di jalan Allah SWT, tak lapuk oleh kenikmatan
duniawi. Wallahu a'lam bish shawab.
BALASAN KESABARAN
Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata : "Anak
laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Salamah meninggal dunia. Maka isterinya berkata
kepada keluarganya, 'Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang
kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!' Anas bin Malik berkata,
'Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan
dan minum', Anas berkata, 'Sang isteri kemudian berdandan indah bahkan lebih
indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah
telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang isteri bertanya, 'Wahai Abu
Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu
kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya,
apakah mereka berhak menolaknya?' Ia berkata, 'Tidak (berhak)!' 'Jika demikian,
maka mintalah pahalanya kepada Allah tentang puteramu (yang telah diambilnya
kembali)!, kata sang isteri. Suaminya menyergah, 'Engkau biarkan akau, sehingga
aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?'
Setelah itu, ia berangkat mendatangi Rasulullah SAW lalu ia ceritakan apa yang
telah terjadi. Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Semoga Allah memberkahi kalian
berdua tadi malam'. Anas berkata, 'Lalu isterinya mengandung dan melahirkan
seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepadaku, 'Bawalah dia kepada Nabi
SAW'. Lalu aku bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi SAW lalu mengambil
anak itu seraya berkata, 'Apakah dia membawa sesuatu?' Mereka berkata, 'Ya,
beberapa buah kurma', Nabi SAW kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu
diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau
menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi tiu, dan beliau menamainya
Abdullah." (HR. Al-Bukhari, 9/587 dalam Al-Aqiqah, Muslim no. 2144).
Dalam riwayat Al-Bukhari, Sufyan bin Uyainah berkata :
"Seorang laki-laki dari shahabat Anshar berkata, 'Aku melihat mereka
memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal Al-Qur'an, yakni dari anak-anak
Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, yaitu malam wafatnya
anak yang pertama, yaitu Abu Umair yang Nabi SAW mencandainya seraya berkata,
'Hai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan anak burung pipit?''
Dalam riwayat lain (Riwayat ini disebutkan oleh Thahir bin
Muhammad Al-Haddad dalam kitanya "Uyunul Majalis an Mu'awiyah bin
Qurrah". Lihat Baradul Akbad, hal. 25) disebutkan : "Ia berkata, Maka
isterinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah,
lalu Rasulullah SAW bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam
umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani
Israil'. Kepada beliau ditanyakan, 'Bagaiman beritanya wahai Rasulullah?'
Beliau bersabda, 'Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua
anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia
undang. Para undangan berkumpul di rumahnya.
Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke
dalam sumur dekat rumahnya. Sang isteri tidak hendak mengganggu suaminya
bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya
dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya
bertanya, 'di mana anak-anakku?' Isterinya menjawab, 'Di dalam rumah'. Ia lalu
mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminya, sehingga mereka
melakukan jima'. Sang suami kembali bertanya, 'Di mana anak-anakku?' 'Di dalam
rumah', jawab isterinya. Lalu sang ayah memanggil kedua anaknya. 'Tiba-tiba
mereka keluar memenuhi panggilan. Sang isteri terperanjat, 'Subhanallah,
Mahasuci Allah, demi Allah keduanya telah meninggal dunia, tetapi Allah
menghidupkannya kembali sebagi balasan dari kesabaranku!"
BERKAH SEBUAH KETAKWAAN
Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu.
Suatu kali dia belajar pada seorang Syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang
syaikh menasehati dia dan teman-temannya : "Kaian tidak boleh menjadi
beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada
orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan
bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu
ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."
Maka
pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya : "Ibu, apakah
pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab :
"
Ayahmu
sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?" Si pemuda ini
terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun akhirnya si
ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata : "Ayahmu
itu dulu seorang pencuri."
Pemuda
itu berkata : "Guruku memerintahkan kami - murid-muridnya, untuk bekerja
seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan
pekerjaan tersebut."
Ibunya
menyela : "Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?"
Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab : "Ya, begitu kata
guruku." Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana
para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui tehnik mencuri.
Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat isya'
dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk
menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh). Dimulailah
dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan
syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk
takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah
lain, dia berbisik pada dirinya : "Ini rumah anak yatim, dan Allah
memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim." Dia terus
berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada
penjaganya. Orang-orang sudak tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang
melebihi kebutuhannya. "Ha, di sini", gumamnya. Pemuda tadi memulai
aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya.
Setelah berhasil masuk rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia
berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia
membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang
banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata : "Eh, jangan,
syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang itu belum
mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya
terlebih dahulu."
Dia
mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang
dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang
pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang
ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan
dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat
menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri : "
Ingat
takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!" Kemudian dia
keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya
melakukan shalat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan
penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya
dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat. Isterinya bertanya
: "Apa ini?" Dijawab suaminya : "Demi Allah, aku juga tidak
tahu." lalu dia menghampiri pencuri itu: "Kurang ajar, siapa kau dan
ada apa ini?" Si pencuri berkata : "Shalat dulu, baru bicara . Ayo
pergilah berwudhu' lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi
imam."
Karena
khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi
wallahu a'lam, bagaimana dia bisa shalat. Selesai shalat dia bertanya : "
Sekarang,
coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab : "Saya ini
pencuri". "Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku
itu?", tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab : "Aku menghitung
zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah
menghitungnya dan juga sudah akau peisahkan agar kau dapat memberikannya pada
orang yang berhak". Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu
keheranan. Lalu dia berkata : "Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau
ini gila?" Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal. Dan setelah tuan
rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya
dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat,
dia pergi menemui isterinya. Mereka berdua dikaruniai seorang puteri. Setelah
keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata
: "
Bagaimana
sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau
menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah
ini. Kau kujadikan mitra bisnisku." Ia menjawab : "Aku setuju."
Di pagi hari itu pula sang tuan memanggil para saksi untuk acara akad nikah
puterinya.
TIDAK JADI MENCURI TERUNG,
LALU ALLAH KARUNIAKAN UNTUKNYA SEORANG
ISTERI
Di
Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami' At-Taubah. Dia adalah
sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan.
Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim
dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam
kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan
dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.
Saat
itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari
berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana
ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa
dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya,
saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan
bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah
pendapatnya pada kondisi semacam ini.
Masjid
tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada
disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai
terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik
ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia
melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari
rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi
dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit,
seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.
Rumah-rumah
dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke
dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat
dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya
sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa
laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada
ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan
timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, 'A'udzu billah! Aku
adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang
dan mencuri barang yang ada di dalamnya?' Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn
besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi
terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu
ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar.
Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.
Ketika
majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan
yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali
dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda
tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara
tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali
pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, 'Apakah kamu sudah
menikah?', dijawab, 'Belum,'. Syaikh itu bertanya lagi, 'Apakah kau ingin menikah?'.
Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu
angkat bicara, 'Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti,
bagaimana aku akan menikah?'. Syaikh itu menjawab, 'Wanita ini datang membawa
khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan
di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah
tua dan miskin', kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk
di pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, 'Dan wanita ini telah
mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang
laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu
orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya'. Kemudian Syaikh
bertanya kepada wanita itu, 'Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?',
ia menjawab 'Ya'. Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi
kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu.
Kemudian syaikh itu berkata, 'peganglah tangan isterimu!' Dipeganglah tangan
isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya. Setelah keduanya masuk kedalam
rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda
itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda
itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.
Sang
isteri bertanya, 'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci
didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: 'heran siapa yang
masuk kerumah dan menggigit terong ini?!'. Maka pemuda itu menangis dan
menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, 'Ini adalah buah dari sifat
amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu
Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang
siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti
dengan yang lebih baik dari itu.
Diceritakan
oleh : Syaikh Ali Ath-Thanthawi
MENINGGALKAN ZINA KARENA TAKUT KEPADA
ALLAH
MAKA ALLAH PUN MEMBERINYA MU'JIZAT
Dari
Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Tidaklah berbicara ketika masih dalam buaian (bayi)
kecuali tiga orang, Isa bin Maryam. Beliau bersabda, 'Dulu, dikalangan Bani
Israil terdapat seorang laki-laki yang ahli ibadah. Ia dipanggil dengan nama
Juraij. Ia membangun tempat ibadahnya dan melakukan ibadah di dalamnya'. Beliau
bersabda, "orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut tentang (ketekunan)
ibadah Juraij, sehingga berkatalah seorang pelacur dari mereka, 'Jika kalian
mnghendaki aku akan memberinya ujian'. Mereka berkata, 'Kami menghendakinya'.
Perempuan itu lalu mendatanginya dan menawarkan diri kepadanya. Tetapi Juraij
tidak mempedulikannya. Lalu ia berzina dengan seorang gembala yang meneduhkan
kambing gembalaannya ke dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya iapun hamil dan
melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, 'Hasil perbuatan siapa?' Ia
menjawab, 'Juraij'. Maka mereka mendatanginya dan memaksanya turun. Mereka
mencaci, memukulinya dan merobohkan tempat ibadahnya'. Juraij bertanya, apa
yang terjadi dengan kalian?' Mereka menjawab, 'Engkau telah berzina dengan
pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi'. Ia bertanya 'Dimana dia?'
Mereka menjawab, 'Itu dia!' Beliau bersabda, 'Juraij lalu berdiri dan shalat
kemudian berdo'a. Setelah itu ia menghampiri sang bayi lalu mencoleknya seraya
berkata, 'Demi Allah, wahai bayi, siapa ayahmu?' Sang bayi menjawab, 'Aku
adalah anak tukang gembala'. Serta merta orang-orangpun menghambur kepada
Juraij dan menciuminya. Mereka berkata kami akan membangun tempat ibadahmu dari
emas'. Ia menjawab aku tidak membutuhkan yang demikian, tetapi bangunlah ia
dari tanah sebagaimana yang semula'. Beliau bersabda, 'Ketika seorang ibu
memangku anaknya menyususi tiba-tiba lewat seorang penunggang kuda yang
mengenakan tanda pangkat, maka ia pun berkata, 'Ya Allah, jadikanlah anakku
seperti dia'. Beliau bersabda, 'Maka bayi itu meninggalakan tetek ibunya dan
menghadap kepada penunggang kuda seraya berdo'a, 'Ya Allah jangan kau jadikan
aku seperti dia'. Lalu ia kembali lagi ke tetek ibunya dan menghisapnya'. Abu
Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, 'Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu'alaihi
wa sallam menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jarinya di mulut lalu
menghisapnya.
Lalu
ibunya melalui seorang wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Sang ibu
berkata, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia'. Beliau bersabda, 'Bayi itu
lalu meninggalkan tetek ibunya dan menghadap kepada wanita hamba sahaya itu
seraya berdo'a, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia'. Beliau bersabda, 'Dan
pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata (kepada anaknya), 'Dibelakangku
berlalu seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat lalu aku berkata,
'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia'. Lantas engkau berkata, 'Ya Allah,
jangan jadikan aku seperti dia'. Lalu aku berlalu dihadapan wanita hamba sahaya
ini dan aku katakan, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia'. Lalu engkau
berkata, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia'. Bayi itu berkata, 'Wahai ibu,
sesungguhnya penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat itu adalah orang
yang sombong di antara orang-orang yang sombong. Sedang terhadap hamba sahaya
wanita itu, orang-orang berkata, 'Dia berzina, padahal ia tidak berzina. Dia
mencuri, padahal ia tidak mencuri'. Sedang hamba sahaya tersebut berkata,
'cukuplah Allah sebagai pelindungku'.
(HR.
Al-Bukhari, 6/511, Ahmad dan ini adalah lafazh beliau, Muslim dalam Al-Adab.)
MATAHARI DITAHAN TERBENAM UNTUKNYA
KARENA JIHADNYA DI JALAN ALLAH
Setelah
Nabi Musa as wafat, Nabi Yusya' bin Nun as membawa Bani Israil ke luar dari padang pasir. Mereka
berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica. Kota Jerica
adalah sebuah kota
yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya
tinggi-tinggi serta berpenduduk padat. Nabi Yusya' dan Bani Israil yang
bersamanya, mengepung kota
tersebut sampai enam bulan lamanya. Suatu hari mereka bersepakat untuk menyerbu
ke dalam. Diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir, dan dengan suatu
semangat yang kuat, mereka pun berhasil menghancurkan pagar pembatas kota, kemudian
memasukinya. Di situ mereka mengambil harta rampasan dan membunuh dua belas
ribu pria dan wanita. Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa. Mereka
berhasil mengalahkan sebelas raja dan raja-raja yang berkuasa di Syam. Hari itu
hari Jumat, peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir
terbenam. Berarti hari Jumat akan berlalu, dan hari Sabtu akan tiba. Padahal
menurut syariat, pada hari itu (Sabtu) dilarang melakukan peperangan. Oleh
karena itu Nabi Yusya' berkata, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya
mengiktui perintah Allah, begitu pula aku. Aku bersijid emngikuti perintahNya.
Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu." Maka
Allah menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil menaklukan
negeri ini. dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya.
Dari
Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya
matahari itu tidak pernah bertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia
kecuali untuk Yusya'. Yakni pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis
(untuk jihad)." (HR. Ahmad dan sanad-nya sesuai dengan syarat Al-Bukhori)
Diriwayatkan
pula dari Abu Hurairah ra, dia berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Ada seorang nabi dari
Nabi-nabi Allah yang ingin berperang. Dia berkata kepada kaumnya, 'Tidak boleh
iktu bersamaku dalam peperangan ini seorang laki-laki yang telah berkumpul
dengan istrinya dan dari itu dia mengharapkan anak tapi masih belum
mendapatkannya, begitu pula orang yang telah membangun rumah tapi atapnya belum
selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau
unta bunting yang dia tunggu kelahiran anaknya'. Maka berangkatlah Nabi itu
berjihad, dia sudah berada di dekat desa / daerah yang dia tuju saat Ashar
telah tiba atau hampir tiba. Maka dia berkata kepada matahari, 'Hai matahari,
engkau tunduk kepada perintah Allah dan akupun juga demikian. Ya Allah,
tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam. ' Maka Allah menahan
matahari itu hingga Nabi itu menaklukan daerah tersebut. Setelah itu
balatentaranya mengumpulkan semua harta rampasan di sebuah tempat, kemudian ada
pai yang datang menyambar tetapi tidak membakarnya. maka Nabi itu berkata, 'Di
antara kalian ada yang khianat, masih menyimpan sebagian dari harta rampasan.
Aku harap dari setiap kabilah ada seorang yang bersumpah padaku.' Maka mereka
pun datang satu per satu untuk disumpah. Kedua tangan Nabi itu lengket pada
tangan salah seorang di antara mereka, ia berkata, 'Di antara kabialah kalian
ada yang berkhianat, aku minta semua orang di kabilahmu untuk bersumpah.' Satu
persatu mereka disumpah. Tiba-tiba tangan Nabi itu lengket pada tangan dua atau
tiga orang.' Kalian telah berkhianat, 'Katannya pada mereka. Lalu mereka pun
mengelauarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu kemudian dikumpulkan dengan
harta rampasan lain yang telah dikumpulkan sebelumnya di sebuah lapangan.
Tiba-tiba datanglah api menyambar dan melalapnya. Harta rampasan memang tidak
pernah dihalalkan untuk ummat sebelum kita. Dan dihalalkan untuk kita karena
Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita.'" (Diriwayatkan oleh
Muslim secara sendiri).
Setelah
Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, maka mereka hidup di dalamnya
dan di antara mereka ada Nabi Yusya' yang memerintah mereka dengan kitab Allah,
Taurat, sampai akhir hayatnya. Dia kembali ke hadirat Allah saat berumur
seratus dua puluh tujuh tahun, dan masa hidupnya setelah wafatnya Nabi Musa
adalah dua puluh tujuh tahun.
MENINGGALKAN YANG HARAM MAKA
KELUARLAH AROMA MINYAK KESTURI DARI BADANNYA
Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap
hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah.
Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama "Faraqna" oleh
orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat
tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.
Pada
suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besat, gang-gang kecil
dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya : "
faraqna-faraqna",
tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia
pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk kedalam rumah. Di sini si wanita
terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya. Lalu si
wanita itu berkata : "Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu
tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang
kosong. " Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau
berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si
wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menakut-nakuti dengan azab yang
pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa,
bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat. Dan memang biasa, orang itu senang
dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang... Akhirnya, karena si pemuda ini
tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: "Bila
engkau tidak mau menuruti perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku
katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin
merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada
dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku." Setelah si
pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti
keinginannya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: "Baiklah, apakah engkau
mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu?"
Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya
sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab :
"Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang
bagus."
Kemudian
masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut
dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap
syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita
kecuali syaitan dari pihak ketiga. "Ya Allah, apa yang harus aku perbuat.
Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang yang
bingung ." Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya." Aku tahu benar,
bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam
naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah
seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai
kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: "Aku takut
kepada Allah." Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena
takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik... dan seringkali
satu keinginan syahwat itu akan penyesalan seumur hidup... Apa yang akan aku
dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan
nikmatnya iman dari hatiku... Tidak... tidak... Aku tidak akan mengerjakan
perbuatan yang haram... Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku
harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat
dan sulit dibuka. Kalau begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang
ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini,
dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi." Ternyata memang benar, ide
yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubunya dengan yang
ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: "Ya
Rabbi, hai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan
hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku 'kebaikan' sebagai gantinya."
Kemudian dia keluardari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian,
si wanita itu berteriak : "keluar kau hai orang gila!" Dia pun
cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka
tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil
barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang tertawa
melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu
menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya
dengan sebersih-bersihnya.
Kemudian
apa yang terjadi? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja?
Tidak... Ternyata, ketiga dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa
Ta'alah memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di
tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah
telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya.
Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai
akhirnya dia memdapat julukan "Al-miski" (yang harum seperti kasturi).
Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari
kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium
sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan dikuburkan, mereka tulis diatas
kuburanya "Ini kuburan Al-Misky", dan banyak orang yang
menziarahinya.
Demikianlah,
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu
saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan selalu membelanya, Allah SWT
senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah SWT berfirman dalam hadits
QudsiNya yang artinya: "Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku
beri. Mana orang-orang yang ingin memohon?!"
Pembaca
yang budiman!
"Setiap
sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu pula larangan yang
datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai
penggantinya." Allah SWT akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah
pengorbanan yang kecil. Allahu Akbar.
Manakah
orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka
berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka
berikan??
Tidakkah
mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah SAW dan seruan fitrah yang
suci?!
MELEMPARKAN DIRI AGAR TAK JATUH DALAM
DOSA,
MAKA ALLAH GANTI DENGAN KEBAIKAN
Pada
masa Bani Israil ada seorang pemuda yang ketampanannya tidak tertandingkan. Dia
bekerja sebagai penjual keranjang dari pelepah kurma. Pada suatu hari, saat dia
berkeliling dengan membawa keranjang dagangannya, ada seorang wanita yang
keluar dari rumah seorang raja Bani Israil. Demi melihatnya, si wanita dengan
cepat masuk kembali ke dalam rumah untuk membertahukan pada putri raja:
"Di pintu tadi saya melihat seorang pemuda yang menjual keranjang, tak
pernah saya melihat pemuda setampan dia." Sang putri berkata: "Suruh
dia masuk." Si wanita tadi keluar dan mengajak masuk pemuda itu. Setelah
dia masuk, pintu dikunci rapat. Lalu datanglah sang putri menemuinya dengan
wajah dan bagian lehernya terbuka. Maka si pemuda berkata: "Hai, tutuplah
(auratmu), semoga Allah memaafkanmu!" Dengan terus terang si wanita
menjawab: "Kami tidak memanggilmu untuk membeli daganganmu, akan tetapi
untuk melakukan sesuatu." Si wanita pun mulai menggoda dan merayunya.
Sementara pemuda itu berkata: "Takutlah kamu kepada Allah," sang
putri malah mengancam: "Bila kau tidak mengikuti keinginanku, aku akan
beritahukan kepada raja bahwa kau masuk untuk memaksa diriku berbuat
macam-macam." Kemudian pemuda itu mengajukan permintaan: "Tolong sediakan
untukku air untuk berwudhu." Jawab sang putri: "Oh rupanya kau masih
mencari alasan?! Hai pembantu, tolong sediakan untuknya air wudhu di atas
mahligai itu," sebuah tempat yang tidak mungkin pemuda itu bisa kabur dari
situ.
Setelah
pemuda itu tiba di mahligai, dia berdo'a: "Ya Allah, sungguh aku sekarang
telah dijak untuk bermaksiat kepadaMu, tetapi aku memilih untuk melemparkan
diri dari atas mahligai ini keluar kamar dan tidak jatuh dalam perbuatan
dosa." Kemudian dia membaca basmalah lalu melemparkan dirinya. Saat itu
pula Allah menurunkan malaikatNya yang memegang kedua ketiak pemuda itu
sehingga dia jatuh dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya. Ketika sampai
di tanah dia berkata: "Ya Allah, bila Engkau berkehendak, karuniakanlah
kepadaku rizki hingga aku tak perlu lagi berdagang keranjang-keranjang."
Allah
mengabulkan do'anya. Allah mengirimkan untuknya sekawanan belalang yang terbuat
dari emas, maka diambilnya sampai bajunya terisi penuh. Setelah itu dia
berkata:"Ya Allah, bila ini merupakan rizki yang Engkau karuniakan
kepadaku dari dunia ini, maka karuniakanlah untukku keberhahan di dalamnya.
Tapi, bila rizki ini akan mengurangi jatahku yang tersimpan di sisiMu di
akhirat nanti, maka aku tidak membutuhkannya." Tiba-tiba terdengar suara
yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu dari dua puluh lima bagian pahala atas kesabaranmu
menanggung derita saat melemparkan dirimu dari tempat yang tinggi itu.
Lalu
dia berkata: "Kalau begitu ya Allah, aku tidak membutuhkan sesuatu yang
nanti akan mengurangi jatahku yang ada padaMu di akhirat." Maka diambillah
kembali emas-emas itu oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
KEDERMAWANAN ITU ADALAH JERNIH
Seorang
pria dari kaum Quraisy bercerita:
"Suatu
saat, Muhammad bin Al-Munkadir dari Bani Taim bin Murrah pergi untuk berhaji. Dia
seorang yang sangat dermawan. Sebelum berangkat dia memberikan sedekah kepada
orang-orang. Semua barang miliknya sudah habis, yang tersisia hanyalah sebuah
baju yang dia pakai, dia berangkat haji bersama kawan-kawannya.
Dalam
perjalanan, dia singgah di telaga air. Saat itu datanglah wakilnya dalam
rombongan itu dan berkata, 'Kita tidak punya apa-apa, bahkan meski sisa uang
satu dirham saja,' Mengetahui hal itu, Muhammad meneriakan bacaan talbiyyah dan
diikuti oleh semua kawan-kawannya, bahkan juga orang-orang yang sama-sama
singgah di telaga itu. Di antara orang-orang itu ada Muhammad bin Hisyam.
Setelah mendengar suara talbiyah menggema, Muhammad bin Hisyam berkata, 'Demi
Allah, aku yakin di sekitar telaga ini ada Muhammad bin Al-Munkadir, cobalah kalian
lihat.' Ternyata memang benar Muhammad bin Al-Munkadir ada di situ. Kemduian
Muhammad bin Hisyam berkata, 'Aku kira dia tidak mempunyai uang. Bawalah uang
sebanyak 4.000 dirham ini kepadanya'."
MEMBERI SATU DIRHAM LALU ALLAH
MEMBERINYA
SERATUS DUA PULUH RIBU DIRHAM
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki
menceritakan kepadaku: "Ada
laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham
untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang
masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, 'Ada apa?' Orang pun memberitahunya bahwa
keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham
kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang
telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki
itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak
laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang
menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, 'Engkau membawa sesuatu
yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau
menukarnya dengan barang (daganganku)?' Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya
pulang. Kepada isterinya ia berkata, 'Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini,
kita hampir tak berdaya karena lapar!' Maka sang isteri segera mengurus ikan
tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar
dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, 'Suamiku, dari perut ikan ini
keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur
burung dara'.
Suaminya berkata, 'Perlihatkanlah kepadaku!' Maka ia melihat
sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang,
hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepad isterinya, 'Tahukah engkau berapa nilai
meutiara ini?' 'Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal
ini', jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat
para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia
mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia
berbicar kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara.
'Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang
itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, 'Aku menghargainya 40 ribu. Jika
Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda
menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu
harga lebih tinggi dariku'.
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang
tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, 'Aku hargai barang itu
80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan,
saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku'.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, 'Aku
hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah
sedikitu pun dari harga itu!' 'Ya', ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya.
Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya
terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan.
Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia
berkata, 'Saya punya kisah, karena itu masuklah'. Orang itu pun masuk. Ia
berkata, 'Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil
enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya
berkata, 'Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta'ala
telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan
20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath
daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.
PERNIAGAAN YANG MENGUNTUNGKAN
Kita
tahu bahwa para sahabat Rasulullah saw adalah orang-orang yang telah membela
dan banyak berkorban demi agama Islam yang agung ini. Mereka adalah sebaik-baik
penolong untuk agama ini. Mereka juga sebaik-baik pejuang di jalannya. Hal ini
terjadi pada mereka, karena mereka menjadikan ajaran Islam sebagai sebuah
realita dalam perilaku mereka dan sebagai sesuatu yang begitu terasa di dalam
hati mereka. Hingga hal itu menjadi tabiat mereka dengan seikhlas-ikhlasnya dan
berani membela agama ini walaupun harus membayar dengan harga yang mahal.
Islam
mengajak mereka untuk hijrah. Dengan cepat mereka menyambut seruan itu;
meninggalkan Mekkah walau hati mereka penih kerinduan kepadanya dan jiwa mereka
dihiasi dengan kecintaan padanya. Mereka lebih mengutamakan aqidah dibanding
tempat-tempat main mereka saat masih kanak-kanak, tempat yang penuh dengan
kenangan indah.
Islam
mengajak mereka untuk berjihad. Ternyata mereka adalah prajurit-prajurit
tangguh yang tidak dihinggapi rasa takut. Mereka berhijrah karena Allah dan
karena Rasul-Nya, dan mereka berhasil memberikan tauladan yang baik yang
monumental dan indah dalam pengorbanan dan keimanan mereka yang sejati.
Simaklah kisah berikut ini.
Ketika
Shuhaib pergi menyusul Nabi saw untuk berhijrah, ada beberapa orang quraisy
yang membuntutinya. Mereka berkata kepada Shuhaib, "Dulu kau datang kepada
kami dalam keadaan tidak punya apa-apa, kemudian kau hidup bersama kami dan
mendapatkan harta yang banyak dan kau menjadi orang seperti sekarang ini.
Tahu-tahu kau ingin keluar dengan membawa semua hartamu? Demi Allah, hal itu
tidak akan pernah terjadi." Lalu Shuhaib turun dari tunggangannya,
dikeluarkannya anak panah dari tempatnya, seraya berkata, "Wahai kaum
Quraisy, kalian sudah tahu bahwa aku termasuk orang paling pandai memanah
diantara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan menyentuhku kecuali akan aku
bidik dengan semua anak panahku, kemudian aku akan menebas dengan pedangku ini
selama dia berada ditanganku. Ayo lakukan apa yang kalian inginkan!" Akan
tetapi Shuhaib setelah itu berkata, " Bagaimana bila aku tinggalkan semua
hartaku untuk kalian, apakah kalian akan membiarkan aku pergi?" Mereka
menjawab, "Ya." Maka Shuhaib meninggalkan semua hartanya untuk
mereka. Dan ketika sampai ke hadapan Rasulullah saw, di Madinah beliau
bersabda, "Telah beruntung perniagaanmu hai Abu Yahya. Telah beruntung
perniagaanmu hai Abu Yahya." Dan turunlah firman Allah SWT, "Dan
diantara manusia itu ada seorang yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah." (QS. Al-Baqarah:207).
MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN
Al-Waqidiy
bercerita, "Suatu saat, saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu
keras. Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak mempunyai uang sedikitpun. Saya
bingung, lalu aku menulis surat kepada teman saya yang seorang alawy (keturunan
Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjami saya uang sebesar seribu dirham.
Dia pun mengirimkan kepada saya uang sebesar itu dalam sebuah kantong yang
tertutup. Kantong itu saya taruh dirumah. Malam harinya saya menerima sepucuk
surat dari temen saya yang lain. Dia meminta saya meminjaminya uang sebesar
seribu dirham untuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa pikir panjang, saya kirimkan
kantong uang yang tutpnya masih utuh.
Besok
harinya saya kedatangan teman yang meminjamiku uang, juga teman alawy yang saya
berhutang padanya. Yang alawy ini menanyakan kepada saya perihal uang seribu
dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telah mengeluarkan untuk suatu kepentingan.
Tiba-tiba dia mengeluarkan kantong itu sambil tertawa dan berkata, ' Demi
Allah, bulan Ramadhan sudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali 1000
dirham ini. Setelah kau menulis surat pada saya, saya kirim uang ini kepadamu.
Sementara saya juga menulis surat pada teman kita yang satu ini untuk pinjam
seribu dirham. Lalu dia mengirimkan kantong ini kepada saya. Maka saya
bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini? Diapun bercerita pada saya.
Dan sekarang ini, kami datang untuk membagi uang ini, buat kita bertiga. Semoga
Allah akan memberikan kelapangan pada kita semua.
Al-Waqidy
berkata, "Saya berkata pada kedua teman itu, 'Saya tidak tahu siapa
diantara kita yang lebih dermawan.' Kemudian kami membagi uang itu bertiga.
Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besar hasil
pmbagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi, saya berfikir, aduhai
bagaimana ini?
Tiba-tiba
datanglah utusan Yahya bin Khalid Al-Barmaky di pagi hari, meminta saya untuk
menemuinya. Ketika saya menghadap pada Yahya Al-Barmaki, dia berkata, 'Ya
Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu. Kondisimu saat itu sangat
memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu?'
Maka
saya menjelaskannya sampai pada kisah tentang teman saya yang alawy, teman saya
yang satunya lagi dan uang 1000 dirham. Lalu dia berkomentar, 'Aku tidak tahu
siapa diantara kalian yang lebih dermawan.' Selanjutnya, dia memerintahkan agar
saya diberi uang tiga puluh ribu dirham dan dua puluh ribu dirham untuk dua
teman saya. Dan dia meminta saya untuk menjadi Qadhi."
JANJI BERTEMU DI SURGA
Al-Mubarrid
menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr
An-Nakha'i, ia berkata, "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat
beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari
Bani An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia
jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga
padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang
melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah
dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam
bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang
untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan
betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan
mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di
rumahku'. Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju
dengan dua alternatif itu, "
sesungguhnya
aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan
menimpaku pada hari yang besar." (Yunus:15)
Aku
takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam
kobaranya.'
Ketika
disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, "Walau demikian,
rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih
berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama
berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan
menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan
diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu
pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan rindunya, sampai
akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke
kuburnya, Dia menangis dan mendo'akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas
kuburanya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang
sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan
apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"
Dia
menjawaba, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu.
Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan."
Pemuda
itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab,
"Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di
Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."
Pemuda
itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak
melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan
aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa
dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam
ibadah."
Si
pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita:
"Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah
mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya,
meninggal dunia.
TINGGALKAN SIFAT DENGKI, MERAIH SURGA
Diriwayatkan
dari Anas bin Malik, dia berkata, "Saat kami sedang duduk-duduk bersama
Rasulullah saw, beliau berkata, ' Akan datang kepada kalian sekarang ini
seorang laki-laki penghuni Surga'. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum
Anshar yang datang sementara bekas air wudlu masih mengalir di jeggotnya,
sedang tangan kirinya memegang terompah. Keesokan harinya Rasulullah saw
mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu legi
persis seperti kedatangannya pertama kali. Di hari ketiga Rasulullah saw
mengatakannya lagi dan datanglah laki-laki itu lagi seperti kedatangannya
pertama kali. Setelah Rasulullah saw beranjak, Abdullah bin Amr bin Ash
membuntuti laki-laki tadi sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata, 'Aku telah
bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya
selama tiga hari. Bila kau setuju, aku mau tinggal bersamamu sampai tiga hari.'
Dia menjawab, 'Ya, boleh.'"
Anas
berkata, "Abdullah menceritakan bahwa dia telah menginap di tempat
laki-laki itu selama tiga hari. Dia lihat orang itu sama sekali tidak bangun
malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia berkata dan menggeliat di atas
ranjangnya, dia selalu membaca dzikir dan takbir sampai dia bangun untuk melaksanakan
sholat subuh. Selain itu kata Abdullah, 'Aku tidak pernah mendengarnya
berbicara kecuali yang baik-baik. Seteleh tiga malam berlalu dan hampir saja
aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, 'Wahai hamba Allah,
sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara
aku dengan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah saw berkata tentang dirimu
tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki
penghuni Surga dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka akupun ingin
bersamamu agar bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi
kau ternyata tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya hingga kau
mencapai apa yang disabdakan Rasulullah saw?' Maka dia menjawab, 'Aku tidak mempunyai
amalan kecuali yang telah kau lihat sendiri'. Ketika akau hendak berpaling
pergi, dia memanggilku, lalu berkata, 'Benar amalanku hanya yang kau lihat
sendiri, hanya saja akau tidak mendapatkan pada diriku sifat curang terhadap
seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia
yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya.' Maka Abdullah bin Amr berkata,
'Inilah amalan yang telah menyampaikanmu pada derajat tinggi dan inilah yang
berat untuk kami lakukan.'"
MENJADI AHLI SURGA KARENA MENINGGALKAN
DOSA
Ada seorang pria dari Bani Israil yang tidak pernah
mencegah diri dari perbuatan dosa. Saat itu ada sebuah keluarga dari Bani
Israil yang sedang membutuhkan bantuan. Maka dikirimlah wanita dari keluarga
tersebut kepada si pria tadi untuk meminta sesuatu. Tetapi si pria ini
menjawab, "Tidak boleh, kecuali bila engkau membolehkan aku
menjamahmu." Si wanitu itu pun menolak, lalu beranjak keluar. Maka
bertambah parahlah keadaan keluarga tersebut. Akhirnya si wanita datang lagi
kepadanya dan memohon bantuan lagi. Tetapi jawaban yang diterimanya tetap,
"Tidak boleh, kecuali bila engkau membolehkan aku menjamahmu." Si
wanita keluar dan kembali ke rumahnya. Keadaanpun bertambah sengsara lagi.
Keluarga tersebut lalu mengirim si wanita itu lagi. Si wanita itu berkata,
"Ya tidak apa-apa." Saat si pria itu berdua dengannya, tiba-tiba
wanita itu bergetar seperti bergetarnya pelepah kurma. Si pria bertanya, "Ada apa denganmu?"
Dia jawab, "Aku takut kepada Allah Tuhan semesta Alam. Ini adalah
perbuatan yang belum pernah aku lakukan." Si pria itu berkata, "Kau
merasa takut kepada Allah padahal kau belum pernah melakukannya, sementara aku
melakukannya ? Sungguh, sekarang aku berjanji kepada Allah SWT bahwa aku tidak
akan melakukan dosa yang dulu pernah akau lakukan." Maka Allah SWT
memberikan wahyu pada seorang Nabi dari Nabi-nabi bani Israil bahwa si Fulan
itu telah dicatat termasuk ahli Surga.
MENINGGALKAN DUSTA DITERIMA KERJA
Ada seorang pria berkebangsaan Eropa yang telah memeluk
Islam. Dia adalah seorang muslim yang baik Islamnya, jujur dalam tindakannya
dan bersemangat untuk menampakkan ke-Islamannnya. Dia bangga dengan Islamnya di
hadapan orang-orang kafir. Tidak ada perasaan minder, malau atau perasaan ragu.
Bahkan tanpa ada kesempatan terlewatkan dia selalu bersemangat untuk
menampakkan ke-Islaman itu.
Suatu
saat dia bercerita bahwa ada sebuah iklan lowongan kerja di sebuah instansi
pemerintah yang kafir. Pria muslim yang bangga dengan Islamnya ini mengajukan
lamaran untuk mendapat pekerjaan tersebut. tentunya dia harus menjalani tes
wawancara. Selain dia banyaka juga orang orang yang ikut tes ini. Saat tiba
gilirannya untuk tes wawancara, panitia khusus wawancara ini mengajukan
kepadanya beberapa pertanyaan. Diantara pertanyaan itu adalah, 'Apakah Anda
minum minuman keras?', dia jawab, 'Tidak, saya tidak mengkonsumsi minuman keras
karena saya orang islam dan agama saya melarangnya.' Mereka bertanya lagi,
'Apakah Anda memiliki teman kencan dan pacar?', dia jawab, 'Tidak, karena agama
Islam yang saya peluk ini telah mengharamkannya. Saya hanya berhubungan dengan
istri yang telah saya nikahi sesuai dengan syariat Allah SWT'.
Wawancara
telah usai. Dia keluar dari ruang tes, tetapi dia pesimis akan berhasil dalam
persaingan ini. Ternyata di luar dugaan hasil akhir menyebutkan, semua pelamar
yang jumlahnya banyak itu gagal, hanya dialah satu-satunya yang berhasil
diterima. Kemdian dia pergi menemui ketua panitia tes itu dan mengatakan,
'Tadinya saya menunggu pernyataan tidak diterima untuk pekerjaan ini, sebagai
balasan atas perbedaan agama antara saya dan Anda, juga karena saya memeluk
Islam. Saya terkejut bisa diterima untuk bergabung dengan rekan-rekan kristen
di sini. Apa rahasia dibalik itu?' Ketua Panitia menjawab, 'Sebenarnya orang
yang dicalonkan untuk pekerjaan ini, syaratnya harus orang yang selalu cekatan
dan perhatian penuh dalam setiap keadaan, juga tidak teler. Sementara, orang
yang mengkonsumsi minuman keras tidak mungkin bisa demikian. kami memang
mencari orang yang tidak mengkonsumsi minuman keras, dan Anda terpilih untuk
pekerjaan ini karena Anda memenuhi syarat.' Maka keluarlah dia dari ruangan
seraya memuji dan bersyukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan untuknya
nikmat yang begitu besar sambil membaca firman Allah, "Dan barang siapa
yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan untuknya jalan keluar."
(Ath-Thalaq:2)
GANJARAN KETAATAN
Dari
Humaid bin Hilal, dari seorang pria, dia mengatakan, "Saya datang kepada
Rasulullah saw, kemudian beliau memperlihatkan kepada saya sebuah rumah, seraya
berkata, 'Ada
seorang wanita yang dulu tinggal di sini, kemudian ikut berperang bersama kaum
muslimin. Dia meninggalkan 12 ekor kambing dan sebuah alat tenun. Sepulangnya
dari perang, dia kehilangan seekor kambing berikut alat tenunnya. Lalu dia
berkata, 'Ya Rabb, sesungguhnya Engaku telah menjamin bagi orang yang keluat di
jalan-Mu, bahwa Engkau akan menjaga barang kepunyaannya, Sekarang aku telah
kehilangan seekor kambing dan lat tenunku. Aku mohon Engkau mengembalikan
barang keounyaanku itu.' Kemudian Rasulullah saw menceritakan bagaimana kuatnya
permohonannya kepada Allah, dan ternyata di pagi harinya dia mendapatkan
kembali kambingnya bersaama seeokr lain, juga alat tenunnya, tidak hanya satu
tetapi menjadi dua."
MEMBEBASKAN HUTANG ORANG YANG SUSAH
MAKA ALLAH PUN MEMBEBASKANNYA
Dari
Ibnu Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, "Ada seorang laki-laki
yang (suka) memberi hutang kepada orang lain, kepada pelayannya ia berkata,
'Jika engkau mendatangi orang miskin, maka bebaskanlah (hutangnya),mudah
mudahan Allah membebaskan kita (dari siksa-Nya)'. Beliau bersabda, 'Maka orang
itu menjumpai Allah dan Allah pun membebaskannya (dari siksa)'." (Muttafaq
Alaih; Al-Bukhari, 6/379 dalam Al-Anbiya' dan Muslim, 1562).
Dalam
riwayat lain disebutkan, dari Ibnu Mas'ud ia berkata, Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya para malaikat mengambil ruh seorang laki-laki sebelum
(zaman) kalian, lalu mereka bertanya kepadanya, 'Apakah engkau pernah,
melakukan kebaikan meski sekali?' Ia menjawab, 'Tidak pernah.' Mereka berkata,
'Ingat-ingatlah!' Ia menjawab, 'Tidak pernah, kecuali dahulu aku sering memberi
hutang kepada orang lain, dan aku perintahkan kepada pelayanku agar mereka
melihat (menagih) orang yang berkecukupan dan membebaskan (hutang) orang yang
miskin.' Maka Allah berfirman, 'Bebaskan dia (dari siksa)'." (Muttafaq
Alaih; Al-Bukhari, 4/261 dalam Al-Buyu' dan Muslim, 1560).
MENINGGALKAN MAKSIAT
KEMUDIAN MENINGGAL MALAM HARINYA,
LALU ALLAH SWT KARUNIAKAN AMPUNAN
UNTUKNYA
Dari
Ibnu Umar r.a. berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Adalah Dzulkifli tidak
pernah menahan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Suatu saat datanglah
kepadanya seorang wanita, lalu Dzulkifli memberikan kepadanya uang sebesar enam
puluh dinar dengan syarat dia boleh menggaulinya. Saat dia duduk seperti posisi
seorang laki-laki di atas isterinya, si wanita tadi gemetar dan menangis?
Apakah kau merasa aku memaksamu? Jawab si wanita, tidak. Akan tetapi perbuatan
ini belum pernah aku lakukan, dan yang mendorongku melakukanya tak lain adalah
tekanan ekonomi. Dzulkifli berkata, 'Kau akan melakukanya sementara sebelumnya
tidak pernah? Sekarang pergilah engaku dan ambilah uang dinar itu untukmu.'
Kemudian Dzulkifli bersumpah, 'Demi Allah, mulai sekarang Dzulkifli tidak akan
pernah lagi bermaksiat kepada Allah selamanya!'. Malam harinya Dzulkifli
meninggal dunia, dan pada pagi hari terdapat tulisan di pintu rumahnya;
'Sungguh Allah telah mengampuni Dzulkifli'."
TANAMANYA HABIS DIRUSAK BADAI KARENA
SABAR,
DIA DIGANTI DENGAN YANG LEBIH BAIK
Al-Barqy
(Abu Abdillah Ahmad bin Ja'far bin Abdu Rabbih bin Hasan) berkata, "Saya
melihat seorang perempuan di dusun. Saat itu, salju sudah turun dan semua
tanamannya habis, rusak karena salju tersebut. banyak orang yang datang untuk
menghibur dan menampakan rasa prihatin. Tiba-tiba perempuan tersebut
menengadahkan pandangannya ke langit dan berdo'a, 'Ya Allah, Engkaulah
satu-satunya yang dapat diharapkan oleh mahluk(Mu) yang terbaik (yaitu
manusia). Berada di tanganMulah pengganti dari apa-apa (tanaman) yang telah
rusak. Maka, berbuatlah untuk kami sesuai dengan sifat yang Engkau miliki (Pengasih,
Penyayang). Sungguh, rizki kami ada padaMU, harapan kami pun hanya
kepadaMU.'"
Tak
lama setelah itu, datang seorang kaya dan dermawan dari daerah tersebut. Dan
setelah mendapat informasi tentang apa yang terjadi, orang tersebut memberikan
uang untuk si perempuan tadi sebesar lima
ratus dinar, (Al-Faraj ba'das-Syiddah 1/181).
BUAH MENGEMBALIKAN
URUSAN KEPADA ALLAH DAN BERSABAR
Dalam
hidup ini setiap muslim kadang menghadapi ujian, cobaan dan bencana. Karena
itu, ketika diuji, hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah
atas musibahnya. Jika demikian, tentu Allah tidak akan menyia-nyikan sesuatu
pun untuknya, bahkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik
dari apa yang hilang darinya.
Dalam
Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwasanya ia
berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw, 'Tidaklah seorang muslim yang
tertimpa suatu musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah,
'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali
kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah
untukku sesuatu yang lebih baik darinya,' kecuali Allah akan memberinya ganti
yang lebih baik.' Ummu Salamah berkata, 'Ketika Abu Salamah meninggal dunia,
aku berkata, 'Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?,
(penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku
mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggantikan untukku Rasulullah
saw sebagai suami'."
Wahai
ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu
karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik
dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri,
mengoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta kemungkaran yang
sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta
mengembalikan semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan
sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.
SULAIMAN MENYEMBELIH KUDA KARENA ALLAH,
LALU ALLAH MENGGANTIKANYA DENGAN
(ANUGERAH)
ANGIN YANG TUNDUK KEPADANYA
"Dan
Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba.
Sesunguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika dipertunjukan
kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada
waktu sore, maka ia berkata, "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan
terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda
itu hilang dari pandangan." "Bawalah semua kuda itu kembali
kepadaku." Lau ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shaad:30-33)
Allah
menyebutkan, bahwa Dia menganugerahkan kepada Daud putera bernama Sulaiman a.s.
Allah memuji Sulaiman bahwa dia banyak kembali kepada-nYa, lalu Allah
menyebutkan perkaranya tentang kuda. Berikut ini kisahnya:
Sulaiman
a.s. begitu cintanya kepada kuda untuk digunakan jihad di jalan Allah. Beliau
memiliki kuda-kuda yang kuat, cepat dan bersayap. Kuda-kudanya berjumlah 20
ribu ekor. Ketika ia memeriksa dan mengatur kuda-kuda tersebut, ia ketinggalan
shalat Ashar, karena lupa bukan disengaja. Saat ia mengetahui ketinggalan
sholatnya karena kuda-kuda tersebut, ia pun bersumpah, "Tidak, demi Allah,
janganlah kalian (kuda-kudaku) melalaikanku dari menyembah Tuhanku." Lau
beliau menitahkan agar kuda-kuda itu disembelih. Maka beliau memukul
leher-leher dan urat-urat nadi kuda-kuda tersebut dengan pedang. Ketika Allah
mengetahui hamba-Nya, yang bernama Sulaiman menyembelih kuda-kuda tersebut karena
Diri-Nya, karena takut dari siksa-Nya serta karena kecintaan dan pemuliaan
kepada-Nya, karena dia sibuk dengan kuda-kuda tersebut sehingga habis waktu
shalat. Sebab hal it, Allah lalu menggantikan untuknya sesuatu yang lebih baik
dari kuda-kuda tersebut, yakni angin yang bisa berhembus dengan perintahnya,
sehingga akan menjadi subur daerah yang dilewatinya, perjalannya sebulan dan
kembalinya juga sebulan. Dan tentu, ini lebih cepat dan lebih baik daripada
kuda. Karena itu, benarlah sabda Rasulullah saw, "Sesungguhnya tidaklah
engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan
memberimu (sesuatu) yang lebih baik daripadanya." (HR Ahmad dan
Al-Baihaqi, hadits shahih)
AKU INGIN BERJUANG
Seorang
pemuda belia dari kabilah Aslam sedang termenung sendirian agaknya dia sedang
sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda itu bertubuh kuat,
gagah, penuh gairah untuk menghadapi masa depan yang penuh berbagai tantangan.
Badanya tegap dan kuat, sanggup untuk dihadapkan pada perjuangan seperti yang
sedang dilakukan oleh yang lain, jihad fisabilillah. Adakah jalan yang lebih
afdol dan lebih mulia dari jihad fisabilillah..? Rasa-rasanya tak ada. Sebab
itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat
suci untuk mencari restu dn ridho Allah SWT. "Demi Allah, inilah satu
kesempatan yang sangat baik", kata hati pemuda itu. Yah,.....sebab disana,
serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju juang jihad fisabilillah.
Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat.
Semuanya menampakan wajah yang senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang
mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum
ajal berpantang mati. Maut akan menimpa diman pun kita berada. yakin bahwa umur
itu satu. kapan kan
sampai batasnya, hanya Allah yang maha tahu. Bagaimana sebab dan kejadianya,
takdir Allah lah yang menentukan.
Maut,
adalah sesuatu yang tak dapat dihindari manusia. Dia pasti datang menjemput
manusia. Entah disaat manusia sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin berada
dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi ditempat
persembunyiannya, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, ataukah di medan peperangan. Bahkan
bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas temapt
tidurnya. Semua itu hanya Allah lah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya.
Menunggu
kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak?
Hanya sendirilah yang dapat dibawa menghadap penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah
tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho
Allah semata. Mereka yang berjiwa suci ditengah-tengah tubuh yang perkasa.
Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih. Memang, saat itu keberanian
telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad
fisabilillah merupakan angan-angan dan tujuan harapan mereka. Mereka yakin,
dibalik hiruk-pikuknya peperangan Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal
baginya. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagi noda.
Baik itu berupa noda-noda aqidah, niat-niat jahat, berbagi dosa perbuatan
ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka yang mulia itu menunjukan
kepribadian yang baik dan luhur. Semua sesuai dengan ajaran agama yang murni.
Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercu suar yang menerangi
dunia dan isi alam semesta.
Itulah
renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah
kepada diri sendiri. "Harus ! harus dan mesti aku berbut sesuatu. Jangan
kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hamabtan dan penghalang mencapai
tujuanku."
Mantap,
penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut ini menggabungkan diri
dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu memang masih belia, namun cara
berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangksan dan kelincahan
menjadi jaminan kegesitanya di medan
juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta
dalam barisan pejuan? Seababnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan
senjata apa-apa yang dapat dipakainya untuk berperang karena kemiskinan dan
kefakiranya. Sebab pikirnya, tidak mungkin untuk terjuan ke medan perjuangan tanpa senjata apapun. Tanpa
senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan berfungsi
apa-apa. Mungkin untuk menyelamatkan diri saja, dia tidak mampu. Inilah yang
menjadikan pemuda itu berfikir panjang lebar. Otaknya bekerja keras agar
hasratnya yang besar berjuang dapat tercapai.
Setelah
tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah SAW.
Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia
memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidk mengharapkan apa-apa dari
keikutsertaanya berjaung. Dikatakanya kepada Rasulullah SAW, bahwa dia tidak
meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah; Dia hanya menginginkan
bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah. Mendengar
hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang
pemuda tersebut: "Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan
apa pula yang engkau harapkan?".
"Saya
ingin berjuang, ya Rasulullah!" jawab pemuda itu. "Lalu apa yang
menghalangimu untuk melakukan itu", tanya Rasulullah SAW kemudian.
"Saya tidk mempunyai perbekalan apa-apa untuk persiapan perjaungan itu ya
Rasulullah", jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya
Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut.
Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut,
sementara disana banyak kaum munafikin yang hatinya takut dan gentar apabila
terdengar panggilan seruan untuk berjaung jihad fisabilillah.
Demi
Allah! jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang
dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak
suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki.
Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dlam ajaran
agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan
dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan
menghancurkan apa saja. Celakalah mereka yang besar dan tegap badan serta
tubuhnya namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya.
Kebanggaanlah
bagimu yang tepat hai pemuda! semogalah Allah banyak menciptakan
manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan
menjunjung tinggi kemulyaan Islam, budi pekerti yang mulia menuju alam yang
bahagia sejahtera lahir batin.
Benar,
kaum muslimin sangat memrlukan jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh
keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnya pemuda seperti dari
kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk
melaksanakan hasrat cita-cita keinginan itu. Rasulullah SAW akhirnya berkata
kepada pemuda Aslam tersebut: "Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang
sebenarnya sudah siap lengkap dengan perlatan berperang tapi tidak jadi
berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang
ada padanya."
Pemuda
itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukan Rasulullah SAW tadi. Katanya
kepada si Fulan: "Rasulullah SAW menyampaikan salam padamu juga pesan.
Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi
engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku." Orang yang tidak
jadi berperang itu penuh hormat menjalankan perintah Rasulullah SAW sambil
mengucapkan: "Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan
taati segala perintah Rasulullah SAW."
Segera
dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak
jadi dipakainya. Diserahkan semua itu pada pemuda kabilah Aslam. Sambil mengucapkan
terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat
dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: "Terima kasih
sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku.
Bagimu pahala Allah yang besar tiada taranya. Terima kasih.........Terima
kasih."
Pemuda
suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Wajahnya bersinar gembira. Dengan
berlari-lari dia meningalkan rumah orang yang tidak jadi berperang itu. Di
tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah satu temanya yang keheranan
dan bengong. Tanyanya: "Hai, hendak kemana engkau?", "Aku akan
menuju janntul firdaus yang selebar langit dan bumi", jawab pemuda itu
dengan singkat dan tepat.


